Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 50. Rencana Mendekati Helen


__ADS_3

Orang tua Abbey dan kedua temannya sudah kembali dengan penerbangan pagi. Tinggallah Abbey, Rylee, dan Eric. Mereka akan menyusul penerbangan siang. Namun, Abbey sama sekali tidak mengatakan pada kedua temannya kalau mereka akan menyusul bersama Eric.


"Eric sudah tahu?"


"Ya, aku sudah memberitahunya. Dia akan pulang lebih dulu dan bertemu kita di bandara. Paspornya di rumah," ujar Rylee.


Gara-gara semalam, pasangan suami istri itu tampak sulit sekali berbicara.


"Aku akan tinggal di sana agak lama. Jadi, sebisa mungkin jangan buat masalah!" ujar Abbey sambil mengepak beberapa barangnya.


Tentu saja Abbey sudah memberikan peringatan sejak awal. Kondisinya sedang hamil. Sebisa mungkin Abbey harus jaga kesehatan dan pikiran dengan baik.


"Untuk semalam, aku minta maaf. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatmu bahagia."


"Ya, kalau begitu, buktikan!"


Abbey selesai mengemas beberapa bajunya ke dalam koper. Setelah mereka keluar dari hotel, tujuannya langsung ke bandara. Mereka tidak banyak mampir ke suatu tempat karena Abbey yang menginginkannya.


"Jalanan menuju bandara masih lancar, Rylee. Siang sedikit saja, kurasa bisa sangat melelahkan."


"Baru beberapa hari di sini, kamu sudah hapal sekali."


"Aku sudah tinggal di sini lumayan lama, Rylee. Saat kabur darimu."


Rylee mungkin lupa. Beberapa minggu lalu, sebelum keduanya menghadap orang tua, Abbey sudah pernah tinggal di sini. Dia juga menyewa rumah untuk ditempati.


Suasana bandara seperti hari-hari biasa, selalu ramai. Hal itu tidak mengurangi niat Abbey untuk kembali ke tempat lamanya.


"Jadi, semalam apa yang kalian bicarakan?" tanya Rylee saat duduk di kursi tunggu bandara.


"Hanya membahas Van saja. Awalnya, Helen ragu. Namun, aku dan Zaylin mencoba meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja."


"Ya, hubungan kalian begitu dekat."


"Tidak sedekat itu, Rylee. Kami juga pernah mengalami masa sulit. Ya, kamu tahukan bahwa Helen selalu menyindirku untuk hal-hal yang berhubungan dengan pasangan. Aku tahu kalau dia lebih beruntung daripada aku, tetapi bukan berarti aku lebih menderita daripada dirinya."


Sesaat perbincangan itu terhenti karena Eric sudah berada di dekat mereka. Abbey melambaikan tangan saat mengetahui pria itu.

__ADS_1


"Akhirnya, aku menemukan kalian juga. Kupikir kalian akan bercanda soal ini," ujar Eric.


"Kami tidak akan bercanda mengenai masalah serius itu, Eric. Oh, ya, aku jamin kalau Helen juga tidak akan pernah tahu. Satu hal pesanku untukmu, jangan pernah sakiti hatinya. Aku tahu karena itu tidak mudah untukmu." Abbey menunjukkan jari kelingkingnya untuk berjanji dengan Eric.


"Tentu, Abbey. Maaf, mungkin ini sedikit rumit. Aku tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, tetapi pertemuanku denganmu membuka pintu hatiku."


"Eric, jangan bilang kalau kamu jatuh cinta pada Abbey?" Rylee berargumen.


Eric mengangguk. "Sesaat sebelum aku tahu kalau kalian memiliki hubungan."


"Oh, no! Ayolah, Brother, lupakan itu semua! Sekarang Abbey adalah adik iparmu." Rylee siap melakukan sesuatu kalau sampai Eric bertindak di luar nalar.


"Hei, tenang saja! Abbey istrimu sekarang. Aku tidak akan mungkin membuat skandal dengan adik iparku sendiri. Percayalah, aku sekarang butuh Helen untuk membuat segalanya menjadi mudah."


Penerbangan menuju ke tempat Helen terasa berjalan begitu lambat. Itu dirasakan Eric karena dia ragu untuk bertemu dengan wanita itu. Baru semalam dia meninggalkan kenangan berkesan, tetapi saat ini dia malah datang. Entah, ini sebuah kejutan atau apa pun. Yang pasti, Eric harus menjadi yang paling spesial.


Bandara kota X menjadi pendaratan terakhir pesawat yang ditumpanginya. Setelah turun dan melewati serangkaian pemeriksaan, sampailah mereka di pintu keluar bandara.


"Jadi, kita mau tinggal di mana?" tanya Eric.


"Kenapa kamu tidak membeli apartemen saja?" tanya Eric.


"Tidak mudah, Eric. Aku terbiasa memulai sesuatu dari nol. Aku juga tidak bergantung pada kedua orang tuaku walaupun mereka memiliki segalanya." Abbey melirik ke arah Rylee.


"Tenang saja. Aku akan mengusahakan supaya kita bisa tinggal di apartemen baru. Aku akan membelikannya untukmu," ujar Rylee.


Walaupun dia belum yakin dengan apa yang akan dilakukan. Namun, tidak ada salahnya menulis semua itu dalam list rencananya.


"Sudahlah, Rylee. Lebih baik pikirkan kita akan menginap di hotel mana." Abbey menarik kopernya diikuti Rylee dan Eric di belakangnya.


Keputusan Eric sudah bulat. Mereka akan menginap di hotel yang akan menjadi tempat resepsi pernikahan Van. Supaya irit waktu dan tenaga. Apalagi Abbey sedang hamil.


"Kapan kamu akan menemui Helen?" tanya Abbey saat mereka sudah berada di depan resepsionis.


"Mungkin hari H pernikahan Van. Aku juga tidak tahu bentukan pria itu seperti apa? Mengapa dia rela berselingkuh dengan wanita lain?" Sedikit banyak Eric juga tahu kalau Van itu berselingkuh. Walaupun dia tidak tahu detailnya seperti apa, tetapi Abbey juga sudah menjelaskannya.


"Baguslah! Seperti sebuah kejutan, bukan? Semoga berhasil!"

__ADS_1


Berniat untuk memasuki kamar, agaknya Abbey harus bertemu dengan seseorang yang sama sekali tidak ada di dalam bayangannya sendiri.


"Abbey?" ujar pria itu.


"Thanos! Kenapa kamu di sini?" tanya Abbey.


Eric tidak tahu kalau pria itu adalah masa lalu Abbey. Sementara Rylee, dia bersikap tenang saja seperti tidak terjadi sesuatu.


"Aku memang kembali. Oh, ya, perkenalkan ini Rylee."


"Aku sudah mengenalnya," balas Thanos dengan ketus.


"Bukan seperti itu, Thanos! Dia suamiku sekarang. Kalau yang ini adalah kakak iparku, Eric. Eric, ini Thanos. Dia adalah pria yang istrinya diambil alih oleh Van. Jadi, kalian bisa saling kenal," ujar Abbey.


"Hei, aku Eric!" Eric menyodorkan tangannya untuk menjabat Thanos.


Pria tersebut agak malas, tetapi pada akhirnya menerima jabatan tangan Eric.


"Hai, senang bertemu denganmu." Thanos mengalihkan atensinya kepada Abbey. "Aku juga akan hadir di pernikahan mereka, Abbey. Kurasa itu bukan masalah yang rumit."


"Ya, kamu harus mengikhlaskan. Semoga segera menemukan gantinya." Abbey memberikan semangat.


Setelah berpikir panjang, Thanos tahu apa yang harus dilakukan. Kalau Van mengambil Anne, mengapa dia tidak mengambil Helen saja? Anggap saja mereka bertukar istri. Setidaknya agar Van merasakan apa yang dirasakan Thanos sebelumnya.


"Ya, kamu benar. Setelah kupikir-pikir, aku sudah menemukan jalan keluar untuk masalah ini. Aku akan mencoba bernegosiasi dengan teman kita."


Abbey terkejut. "Maksudnya?"


"Ya, maksudku adalah aku akan mencoba menjalin hubungan dengan Helen. Aku sudah mengenalnya lebih lama, bukan?"


Eric dan Rylee terkejut. Bagaimana mungkin pria itu akan mendekati Helen, sementara Eric sudah memasang rencana terlebih dahulu?


"Hei, Brother, kurasa pikirkan ulang untuk mendekati Helen! Dia tidak akan semudah yang kamu bayangkan," sahut Rylee.


"Tenang saja, Rylee! Aku tahu betul siapa Helen. Jadi, mudah saja bagiku untuk mendekatinya," ucap Thanos dengan santainya.


__ADS_1


__ADS_2