Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 23. Tetap Dilanjutkan


__ADS_3

Sepertinya ini adalah hari yang paling membahagiakan untuk Eric. Dia menggenggam erat tangan calon istrinya walaupun belum bertunangan secara resmi. Mereka pun berjalan melewati beberapa anak tangga layaknya sepasang pengantin yang sedang berbahagia.


Blair melihat kedatangan putrinya bersama Eric. Dia pun segera memberitahukan penglihatannya itu pada semua orang yang kebetulan sedang mengobrol dan menikmati hidangan kecil.


"Lihatlah, mereka datang!" seru Blair.


Sontak semua keluarga Eric melihat ke arah tangga. Betapa terkejutnya saat tetapan mata Rylee dan Dixie bertemu Abbey. Seketika jantung mereka berhenti berdetak.


"Abbey!" Spontan Rylee menyebut nama depan wanita itu.


Begitu juga dengan Dixie yang tidak mampu berkata-kata. Dia mengingat bahwa wanita yang bersama dengan Eric saat ini adalah wanita yang akan dinikahi oleh Rylee beberapa hari yang lalu.


Apalagi dengan Abbey mendadak menghentikan langkahnya. Sementara Eric yang tidak mengerti apa pun ikut berhenti juga di dua anak tangga sebelum menuju lantai.


"Ada apa, Flo?" tanya Eric pelan.


Abbey diam. Jadi, pria yang ada di sebelahnya adalah Eric, kakak Rylee. Laki-laki yang sudah menghamilinya itu. Seperti sebuah kebetulan dan kejutan yang membuat dadanya sesak.


Arthur dan Blair yang tidak tahu apa-apa lantas meminta mereka untuk segera turun. Tidak baik berada di atas anak tangga seperti itu.


"Ayo, turun! Kenapa berhenti di situ?" tanya Blair.


"Eric, bawa Flo kemari!" perintah Arthur.


Philo juga tidak mengerti tentang kondisi itu. Istrinya dan Rylee seakan terkejut melihat kedatangan Flo dan Eric. Harusnya mereka terlihat bahagia, bukannya malah mematung seperti itu.


"Kalian itu kenapa? Itu Eric dan Flo sudah turun. Kenapa malah terdiam?" tanya Philo.


"Ini tidak mungkin, Pa. Itu bukan Flo, tetapi wanita yang Rylee cintai," sahut Rylee. Dia pun bingung harus menjelaskannya seperti apa?


Suara Rylee mampu didengar oleh semua orang di sana. Termasuk Eric dan Abbey yang masih berada di atas anak tangga.

__ADS_1


"Flo, sebenarnya ada apa ini? Kenapa adikku mengklaim bahwa kamu adalah orang yang dicintainya? Oh, atau kamu adalah Abbey?" tanya Eric yang tidak ingin melepaskan genggaman tangannya, tetapi ingin memperjelas keadaan yang mereka hadapi saat ini.


Mata Abbey berkaca-kaca. Saat dirinya ingin berbahagia dengan pria lain, rupanya harus dihadapkan dengan kenyataan seperti ini. Calon suaminya adalah kakak dari ayah biologis anaknya. Cukup rumit dan membuat semua orang bingung. Terutama Philo dan orang tua Flo.


"Mama membatalkan perjodohan ini!" tegas Dixie membuat semua orang tertuju padanya.


"Ada apa ini?" Blair bingung.


"Tidak, Mam! Abbey hanya akan menikah denganku, bukan dengan Kakak!" Rylee sudah tidak bisa menahan diri lagi.


"Rylee, kamu kenapa? Dia Flo, bukan Abbey!" tegas Philo yang bingung dengan kondisi putranya.


Sementara itu, Philo juga tidak tahu alasan Dixie mengakhiri perjodohan itu secara sepihak. Dia benar-benar seperti seorang penonton yang bingung dengan alur film tontonannya.


"Tante, siapa nama lengkap Flo?" Akhirnya Rylee memutuskan untuk menanyakan sumber permasalahannya.


"Abbey Florence," jawab Blair.


Semua orang seketika terkejut mendengar penuturan gamblang Rylee saat ini. Begitu juga dengan orang tua Flo yang tidak menyangka akan menjadi serumit ini. Mendengar kata hamil, Blair sungguh tidak menyangka bahwa putrinya sedang mengandung.


Abbey berniat kembali ke kamar dengan melepaskan tangan Eric. Tidak benar bila di dalam posisi seperti ini, Abbey memilih Rylee. Padahal sudah jelas kalau dia menerima Eric.


"Jangan pergi, Flo atau siapa pun kamu! Kita selesaikan masalah ini," ujar Eric. "Ayo, turun!"


Walaupun Eric merasa nyeri di ulu hatinya, tetapi dia tidak akan memisahkan wanita itu dari adiknya. Terlihat sekali bahwa Rylee sangat menyukai Abbey dan bersiap untuk bertanggung jawab.


Mereka pun berjalan mendekat. Orang tua Flo duduk bersandar pada sofa. Mereka terdiam karena merasa malu.


Sementara itu, Dixie sudah tidak bisa melanjutkan perjodohan ini. Dia berniat untuk keluar, tetapi dihalangi oleh Philo.


"Tunggu sebentar, Ma! Jangan bersikap seperti anak kecil begitu. Mari kita dengarkan penuturan Rylee, Flo atau Abbey, dan juga Eric," ujar Philo.

__ADS_1


Mereka merasakan bahwa hawa di ruangan itu terasa panas, padahal AC rumah semewah itu sudah dibuat sedemikian rupa sehingga tamu dan penghuninya akan merasa nyaman. Namun, tidak kali ini.


Eric sudah melepaskan genggaman tangannya. Ada gurat kesedihan, kecewa, dan merasa terluka. Padahal baru beberapa menit yang lalu kebahagiaan menjadi miliknya. Beberapa menit kemudian hancur tidak tersisa.


"Aku dan Abbey bertemu di negara X. Kami saling mengenal dan tinggal bersama," kata Rylee yang mengundang kekesalan orang tua Abbey.


"Flo, apa maksudmu seperti itu? Kamu mempermalukan mama!" Blair sudah tidak bisa menahan diri.


"Maaf, Tante. Tolong dengarkan dulu penjelasanku. Abbey tidak salah. Akulah yang bersalah sehingga membuat Abbey menjadi seperti saat ini. Aku pun akan bertanggung jawab, tetapi setelah kakakku menikah. Namun, kejadiannya seperti ini, aku tidak tahu lagi bagaimana keputusan kalian semua. Kalau aku memang berencana menikahi Abbey secepatnya. Aku tidak ingin–"


"Cukup, Rylee! Tidak akan ada pernikahan sebelum Eric menikah." Dixie tidak bisa ditawar lagi.


"Mam, jangan ambil keputusan secara sepihak. Mari kita bicarakan dulu. Bagaimanapun ini adalah salah anak kita, bukan Flo atau Abbey. Dengarkan dulu sampai Rylee berhenti menjelaskan. Rylee, lanjutkan!" ujar Philo.


"Terima kasih, Pa. Jadi, bagaimana dengan keputusan Om dan Tante. Apakah mau menerimaku menjadi menantu kalian dengan menggantikan kakakku?" tanya Rylee.


Arthur terlihat keberatan. Padahal Eric digadang-gadang akan menjadi penerus bisnis keluarganya. Kalau digantikan dengan Rylee yang urakan itu, rasanya Arthur kesulitan.


"Pa, bagaimana ini?" Blair menyenggol lengan suaminya.


"Sebentar, Ma. Papa sedang berpikir."


Abbey dan Eric masih berdiri mematung menunggu keputusan para orang tua. Dari pihak mama Eric, dia tidak setuju. Sementara Philo menunggu keputusan Arthur. Sedangkan Arthur sendiri tidak rela melepaskan Flo untuk Rylee yang jauh dari menantu idaman.


"Terserah keputusan Papa. Aku akan menerimanya apa pun itu," ujar Abbey buka suara. Dia pasrah apa pun keputusan mereka. Bahkan kalau sampai pernikahan itu gagal sekali pun.


Rylee gugup. Arthur menutup matanya. Dia sedang memikirkan Flo dan calon cucu yang saat ini telah tumbuh di rahimnya.


Sementara Eric juga menerima apa pun keputusan keluarga Flo. Kalaupun mau menerimanya, tidak menjadi masalah. Itu artinya, dia akan menjadi papa untuk keponakannya sendiri.


"Aku memutuskan bahwa perjodohan Eric dan Flo akan tetap dilangsungkan," ujar Arthur yakin.

__ADS_1



__ADS_2