
Hari pertama setelah menjadi pengantin baru telah mereka jalani. Pagi ini, Rylee bangun kesiangan sehingga membuat Abbey mengomel sepanjang pagi.
"Rylee, bangun!"
Lengkingan suara itu terdengar setelah Abbey keluar dari kamar mandi. Sepertinya Abbey harus bersikap lebih sabar lagi pada laki-laki muda yang menjadi suaminya itu.
"Ada apa? Ini masih pagi dan aku masih mengantuk, Abbey!"
Tentu saja ranjang king size-nya begitu empuk ketimbang ranjang di apartemen Abbey. Mungkin juga itu cara Rylee untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah manusia yang disiplin melebihi siapa pun.
Namun, kenyataannya laki-laki maupun perempuan yang sudah menikah bisa menunjukkan sikap aslinya dalam waktu sekejap. Seperti yang dilakukan Rylee saat ini. Dia sedang bermalas-malasan.
"Kurasa orang tua kita benar, Rylee. Mereka lebih memilih Eric untuk menikah denganku ketimbang dirimu. Lihat saja hari ini! Kamu sangat menyusahkan sekali," gerutu Abbey.
Mendengar nama kakaknya disebut, Rylee langsung duduk. Dia membuka selimutnya sehingga tempat itu berantakan sekali.
"Rylee!" Lagi-lagi Abbey berteriak. "Lipat selimutnya dengan benar! Oh, ya, ampun, lama-lama aku bisa stres kalau seperti ini terus!"
Begitulah Rylee. Dia tetaplah anak manja yang masih ingin dilayani. Terlihat kekar hanya dari tato dan ucapannya saja. Dia tetaplah anak kemarin sore yang masih memerlukan bimbingan. Belum lagi mengenai pekerjaan di kantor yang terkadang membuat papa dan kakaknya kesal setengah mati.
Selain itu, sikapnya yang suka berfoya-foya pasti tidak akan jauh-jauh dari kebiasaannya. Keinginannya untuk menjadi pelukis tentu saja sudah mendapatkan penolakan dari papanya. Mungkin dengan dia memilih tinggal bersama Abbey, semua rencananya yang gagal akan disusun kembali.
Merasa kesal karena tidak mendapat respon, Abbey segera keluar dari kamar itu. Dia menuju ke dapur untuk mengambil sarapan paginya. Tentu saja dia bertemu dengan beberapa maid.
"Nona, mau dibuatkan sarapan apa?" tanya salah satu maid.
"Panggil Abbey saja. Aku tidak nyaman dipanggil seperti itu," tolak Abbey.
"Nyonya bisa marah pada kami kalau tidak sesuai dengan kedudukan semua orang di sini. Terlebih Anda adalah istri dari tuan muda kami."
Drama apalagi ini? Pagi-pagi dibuat kesal oleh Rylee. Sekarang ditambah lagi dengan ucapan para maid yang menambah kekesalannya.
__ADS_1
"Terserah kalian saja. Aku hanya butuh sereal dan segelas susu. Bisa minta tolong siapkan untukku?" tanya Abbey dengan sikap mengalahnya.
"Jangan siapkan apa yang diminta!" Suara Dixie membuat semua orang berpusat padanya.
Ya, Dixie sudah kembali ke rumah karena ingin berada di sini pagi-pagi sekali. Dia bahkan membiarkan orang tua Abbey dan kedua temannya beserta Eric masih di sana. Dia hanya pulang bersama suaminya saja.
"Mama?" ujar Abbey pelan.
"Siapkan makanan yang lebih bergizi lagi. Jangan lupa jus buahnya! Jangan buah-buahan yang terlalu asam. Lebih baik buatkan jus alpukat dan beberapa makanan berbahan daging!" tegas Dixie kemudian menghilang dari pandangan semua orang.
Oh my God, rasanya Abbey ingin berteriak. Mendengar semua makanan itu disebut, mendadak perutnya mual dan ingin muntah.
"Lupakan semua makanan itu! Aku tiba-tiba merasa mual. Lebih baik antarkan segelas susu coklat dan beberapa sandwich ke kamar Rylee. Lebih baik aku memakan itu. Terima kasih."
Abbey berjalan dengan untuk sampai ke kamar suaminya. Belum sampai di sana, rupanya mama mertuanya sudah berdiri berada di ambang pintu kamarnya. Kebetulan kamar itu memang tidak jauh dari kamar Rylee, putranya.
"Jangan menolak apa pun perhatianku, Flo! Aku hanya ingin memastikan bahwa calon cucuku baik-baik saja."
"Terima kasih, Ma. Hanya saja aku tidak terlalu menyukai kedua makanan itu. Apalagi jus alpukat. Rasanya sudah membuat perutku mual."
Rasanya Abbey ingin segera meninggalkan tempat itu. Namun, sepertinya rasa mual di perutnya menjadi alasan sehingga dia segera kabur menuju ke kamar.
Tidak peduli apa pun pandangan Dixie padanya. Dia harus segera memuntahkan seluruh isi perutnya yang belum terisi apa pun sepagi ini.
Suara Abbey benar-benar mengganggu Rylee yang tertidur kembali. Dia mencoba memaksa membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi.
Rylee turun dari ranjang dengan mata sedikit menutup dan membuka. Dia berjalan menuju kamar mandi karena suara itu terdengar jelas dari sana.
"Abbey, ada apa?" tanya Rylee yang saat ini posisinya berada tepat di belakang istrinya.
Namun, Abbey tidak menanggapi. Dia menyalakan kran air untuk mencuci bekas muntah yang masih menempel di bibirnya.
__ADS_1
"Aku mau berkemas dan pergi dari rumah ini!" tegasnya setelah berbalik badan.
"Kenapa? Ada apa? Ini masih pagi dan aku bahkan belum mandi ataupun sarapan."
"Aku tidak peduli! Pokoknya aku mau pergi sekarang juga. Terserah kamu mau tetap di sini atau bersamaku."
Sensitivitas ibu hamil benar-benar tidak bisa dikendalikan. Dia sudah keburu kesal pada tindakan Dixie yang mengatur makanannya. Walaupun itu baik, tetapi sangat tidak nyaman sekali.
"Abbey, ada apa? Kalau kamu tidak mau menceritakan, bagaimana aku bisa mengambil keputusan?"
Rupanya Rylee memang laki-laki yang tidak pernah peka sama sekali. Harusnya tidak ada pernikahan, tidak ada pertemuan, dan seharusnya Eric memang menjadi suaminya. Penyesalan tiada gunanya lagi selain kabur dari kenyataan.
"Tanyakan saja pada mamamu!"
Abbey segera meninggalkan kamar mandi menuju ke kamar. Dia mengambil koper yang semula berada di kamar tamu, dibawa ke hotel, kemudian kembali ke kamar milik suaminya.
Rylee mengekor di belakang tanpa tahu bahwa sumber masalahnya hanya gara-gara makanan. Dia melihat Abbey berkemas dengan emosional.
"Oke, aku akan ikut denganmu. Cuma aku mau tahu, apa yang sebenarnya terjadi?"
Abbey menghentikan kegiatannya. Dia berbalik lagi memandang wajah suaminya. Dia harus memiliki kesabaran ekstra saat berhadapan dengan Rylee. Kenyataannya, pernikahan tidak seindah yang dibayangkan. Bahagia dan saling peka terhadap sesuatu tanpa dibicarakan.
"Kurasa kamu harus pergi ke dokter dan memeriksakan kondisi telingamu yang bermasalah itu. Kalau kamu mau tahu apa pun, lebih baik tanya mamamu! Apa itu kurang jelas?"
Benar-benar suasana seperti di medan perang. Pagi ini Rylee sudah membuat Abbey kesal karena dia tidak kunjung bangun. Sementara itu, dia sedang kesal pada mamanya. Mungkin karena ucapan, tetapi Rylee tidak tahu apa detail masalahnya.
Abbey sudah menyelesaikan satu koper itu. Dia mengambil tas kecil yang berisi uang, ponsel, dan beberapa debit card yang dia miliki saat ini.
"Aku pergi. Jangan cari aku!"
Abbey menarik kopernya secara kasar. Rylee masih menggunakan pakaian tidurnya membuntuti Abbey dari belakang.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana, Flo?" tanya Dixie yang sudah berkacak pinggang di depan kamarnya. Bohong kalau dia tidak mendengar keributan yang terjadi antara Abbey dan Rylee gara-gara dirinya.