
Philo terkejut saat mendengar penjelasan Dixie. Rylee pulang ke rumah dengan membawa seorang wanita yang akan dinikahi. Kenyataannya wanita itu sedang hamil.
"Rylee, apa-apaan ini? Inikah hasil dari tatomu itu? Bertindak gegabah dan kurang ajar!" maki Philo.
"Pa, aku sudah mengakui di hadapan Mama. Aku pun sudah menjelaskan kalau itu semua adalah salahku. Aku akan bertanggung jawab!" tegas Rylee.
"Tidak akan ada pernikahan sebelum Eric selesai."
Lagi-lagi alasan papanya sama seperti mama. Tentang Eric dan Eric lagi. Seakan keberadaan anak bungsu tidak pernah dianggap oleh keluarganya.
"Pa, tidak perlu sekeras itu pada Rylee. Kalaupun dia ingin menikah, izinkan saja. Lagi pula ada calon cucu kalian di dalam rahim wanita itu. Tidak mungkin Rylee bersikeras kalau tidak ada alasan logisnya," jelas Eric.
"Mama sedang memikirkan kamu, Eric. Saudara tertua harus menikah lebih dulu. Baru adiknya," sahut Dixie.
Sebenarnya tidak masalah bagi Eric. Mau siapa pun yang lebih dulu, asalkan keluarganya tidak saling bersitegang seperti saat ini.
"Mama juga tahu kalau calonku belum pulang. Orang tua Flo sudah bicara pada Mama, bukan?" tanya Eric.
"Iya. Mereka tidak tahu kapan Flo akan pulang. Dia wanita yang keras kepala," balas Dixie. "Mama menyukainya."
Bahkan di hadapan Rylee, Dixie memuji wanita yang akan dijodohkan dengan Eric. Seperti apa rupa wanita itu sehingga mamanya saja sudah terhipnotis? Katanya keras kepala, tetapi mamanya suka. Memang benar-benar aneh.
Sementara itu, orang yang paling bahagia di muka bumi ini adalah pasangan Arthur Barnett dan Blair Caroline. Anak tunggalnya telah kembali setelah 11 atau 12 tahun mereka tidak bertemu. Ya, dia adalah Abbey Florence. Anak tunggal dari pasangan bangsawan di negaranya.
"Flo, akhirnya kamu pulang juga, Sayang." Blair menyambut kedatangan putrinya dengan sukacita.
"Mama, aku merindukanmu." Abbey memeluk mamanya dengan begitu erat.
Setelah drama pelukan itu usai, Abbey menarik kopernya masuk ke dalam kamar. Kamar yang ditinggalkan selama puluhan tahun itu masih tetap sama seperti usianya saat belia.
"Kamu masih menyukai kamar ini, kan?" tanya Blair.
__ADS_1
"Masih, Mam. Papa ke mana?"
"Papamu itu terus saja memikirkan urusan bisnis. Dia kesal karena kamu tidak kunjung pulang. Perjodohanmu juga masih kami tunda sampai kamu benar-benar pulang. Kalau sudah di rumah seperti ini, mama akan mengabari keluarga pria untuk segera melangsungkan pertunangan."
Mendengar penjelasan mamanya, Abbey tidak kuasa untuk berkata jujur. Biarlah kehamilannya ini akan menjadi masalah antara Abbey dan pria yang akan dijodohkan dengannya. Dia tidak tega merusak kebahagiaan mamanya.
"Memangnya pertunangan akan dilangsungkan di mana, Mam?" Abbey hanya ingin tahu.
"Di rumah ini, Sayang. Mama hanya ingin pertunangan kalian dihadiri keluarga inti saja. Nanti calon tunanganmu itu akan datang bersama orang tuanya dan kerabat terdekatnya. Jadi, kita tidak perlu menggunakan hotel atau menyewa gedung pertemuan."
Berhubung itu adalah acara perjodohan orang tua, Abbey tidak tertarik untuk penasaran dengan calon jodohnya itu. Dia harus berpikir keras untuk menentukan akhir dari pernikahannya nanti dengan anak di dalam kandungannya.
"Sayang, mama siapkan coklat panas sambil menunggu papamu pulang, ya?"
Satu-satunya yang membuat Abbey rindu rumah adalah kasih sayang mamanya. Setiap coklat panas yang dibuat selalu dihabiskan. Rasanya enak, aromanya wangi, dan menghangatkan.
"Sayang, lihat kelakuan nenekmu! Dia sangat sayang sama mama. Untuk sementara waktu, kamu harus bisa bantu mama. Buat mama terlihat seperti biasa saja. Tidak ada drama mual, muntah, dan sejenisnya. Perkara Papa Rylee, kamu jangan khawatir. Mama memang tidak bisa menggantikan posisinya, tetapi perjodohan mama ini juga penting. Mohon kerja samanya, ya, Sayang," pinta Abbey pada janinnya.
"Di mana Flo?" tanya Arthur.
Mungkin banyak yang bertanya-tanya. Kenapa harus menggunakan nama Abbey atau Flo di tempat yang berbeda. Ya, Abbey adalah nama baru di tempat baru di mana Abbey mengenyam pendidikan. Sudah lama tinggal dan bersekolah di luar negeri. Sempat pulang sebentar, kemudian kembali lagi sampai bekerja di perusahaan Van selama bertahun-tahun.
Abbey cenderung menjadi sosok yang mandiri sejak belia. Itulah mengapa orang tuanya tidak pernah protes saat anak tunggalnya itu memilih hidup mandiri dan jauh dari keluarga.
"Ada di kamarnya. Mama sedang membuatkan susu coklat untuknya. Oh, ya, segera kabari Philo dan istrinya kalau putri kita sudah kembali."
"Nanti setelah aku bertemu dengan Flo."
Arthur dan beberapa bodyguard membawa masuk banyak hadiah. Ada buket bunga, perhiasan, gaun, sepatu, dan perlengkapan make up. Arthur tahu kalau putrinya pasti tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat cantik dan luar biasa.
"Sayang!" sapa Arthur.
__ADS_1
"Papa!"
Abbey beranjak dari ranjang untuk menyambut papanya. Arthur memberikan kecupan kening untuk putrinya yang sudah lama dinanti.
"Akhirnya, kamu pulang juga, Sayang. Papa terlihat sangat tua, tetapi kamu masih sangat cantik," puji Arthur.
"Papa bisa saja. Oh, ya, kata Mama aku akan dijodohkan dengan seorang pria. Apa itu benar?" Abbey hanya ingin memastikan.
"Tentu saja, Sayang. Kamu pasti senang. Kalau kata orang tuanya, anaknya itu baik, penurut, tampan, dan pekerja keras. Sayang, mereka tidak mengirimkan fotonya. Setidaknya kami akan tahu seperti apa karakternya."
"Tidak apa-apa, Pa. Aku menerima perjodohan itu."
"Terima kasih, Sayang." Arthur tampak bahagia sekali.
"Wah, ada apa ini? Sayang, ini coklat panasnya." Blair meletakkan cangkir itu di atas meja.
"Sebentar lagi kita akan memiliki menantu, Mam. Dia yang akan menggantikan papa mengurus perusahaan. Terima kasih, Flo."
"Sama-sama, Pa. Papa mau ke mana?" Abbey baru saja mendapatkan kebahagiaan, sekarang papanya mau keluar lagi.
"Buka semua hadiahmu, Flo. Kalau ada yang tidak sesuai, bisa kamu tukarkan. Papa tidak hafal apa saja yang kamu butuhkan. Papa akan menghubungi keluarga calon suamimu," ujar Arthur kemudian meninggalkan kamar Abbey.
"Wah, hadiahnya banyak sekali!" seru Blair.
Namun, bukan itu yang ada di dalam pikiran Abbey. Sosok pria yang akan dijodohkan dengannya adalah sempurna tanpa cela. Bagaimana mungkin dia bisa menerima wanita hamil sepertinya saat ini? Mungkin lebih baik dia bicara dulu sebelum mengambil keputusan. Mungkin juga Abbey melewatinya sampai akhir dan baru jujur setelah pernikahannya digelar.
"Sayang, kenapa kamu melamun? Ayo, buka hadiah dari Papa!" ajak Blair.
"Aku minum coklat panasnya dulu, Mam."
Abbey mengambil cangkir itu lalu menghirup aromanya sebentar. Wangi dan sangat menenangkan. Dia bahkan tidak mual atau memuntahkan makanan seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Terima kasih untuk kerja samanya, Sayang. Mama mencintaimu," batin Abbey sambil menikmati secangkir coklat panas.