
Pernikahan Van dan Anne tampaknya akan menjadi pernikahan yang paling kontroversi saat ini. Terlebih Anne adalah seorang model yang dikenal sebagai istri Thanos Shem yang dikenal begitu romantis.
Kabar perceraian mereka pun mencuat begitu cepat. Lalu, ditambah dengan pernikahan Van yang merupakan pebisnis yang tiba-tiba bercerai dari istrinya.
Benang merahnya memang sedang menjadi perbincangan publik. Namun, tidak seorang pun mau membuka suara perihal gagalnya hubungan pernikahan mereka.
"Jadi, apakah kamu siap bertemu dengan mantan suami?" tanya Zaylin pada Helen.
"Entahlah. Sebenarnya aku tidak ingin datang, tetapi aku kasihan pada Abbey. Dia akan datang. Mengapa aku tidak?"
"Kupikir ada baiknya kalau kamu datang. Apakah Thanos juga akan datang?" Selidik Zaylin.
Akan terjadi kerumitan hubungan lagi saat Thanos ingin mengejar Helen. Sementara Zaylin sudah memiliki perasaan sebelumnya. Apakah mereka akan semakin hancur dengan hubungan yang rumit ini?
"Aku tidak tahu. Aku tidak mengirim pesan apa pun padanya. Terkadang aku kesal sama dia. Mengapa tidak memperjuangkan istrinya?" Helen masih merasa tercurangi. Sebentar lagi Anne akan menjadi nyonya besar karena Van.
"Kamu belum bisa melupakan pengkhianatan Van?"
"Zaylin, tidak semudah itu lupa pada orang yang kita cintai. Kamu tahukan bagaimana membayangkan Anne mendesah bersama Van. Mereka lihai sekali menyembunyikan fakta sampai aku mencurigai Abbey. Aku menyesal sekarang. Terlalu terburu-buru mengambil keputusan tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Pada akhirnya, aku sendiri yang malu."
Zaylin menarik napas panjang lalu menghembuskannya. "Berdandanlah yang cantik! Lupakan Van! Kalau kamu memang berjodoh dengan pria lain, nanti pasti akan ketemu orangnya."
Helen menimbang kalung yang diberikan Eric. Dia ingin memakainya, tetapi ragu.
"Kalung dari Eric? Pakai saja!" lanjut Zaylin.
"Aku ragu, Zaylin. Apakah dia serius? Ataukah hanya menjadikan aku sebagai pelarian saja? Ya, seperti yang kulakukan padanya."
Zaylin tersenyum. "Kalian sama-sama memiliki masalah dalam menjalani hubungan. Kalaupun menjadikan hubungan itu sebuah pelarian, setidaknya yakinlah bahwa kalian akan berbahagia."
Semoga saja itu bukan sekadar cerita yang dibuat-buat. Helen ingin kehidupannya lebih tentram daripada sebelumnya. Boleh saja dia kehilangan Van yang rupanya sama sekali tidak peduli.
Sementara itu, di hotel Eric tampak ragu. Dia berada di kamarnya bersama Rylee. Pria itu hampir menyerah sebelum berperang.
"Masih memikirkan ucapan Thanos?" tanya Rylee.
"Tentu."
"Jangan khawatir, Brother! Kamu jauh lebih dulu memulainya. Helen tidak semudah pemikiran Thanos. Mereka tidak sejalan."
"Kamu ini bicara hanya untuk membesarkan hatiku saja, kan? Kamu ingin agar aku tetap ikut. Sementara nanti di dalam ballroom, aku dan pria itu akan seperti badut yang sedang memperdebatkan satu wanita yang sama."
__ADS_1
Rylee mengambil jas yang belum dikenakan kakaknya. Dia ingin bertaruh soal ini. Mungkin sedikit memeras Eric agar debit card-nya terisi uang lagi.
"Aku dukung kamu, Kak. Cuma kalau kamu mau taruhan, ayo! Aku pastikan kamu akan kalah. Helen condong kepadamu, ketimbang Thanos."
Rumit. Bagaimana cara Eric muncul di hadapan Helen?
"Aku tidak yakin. Pria itu tampak percaya diri." Eric putus asa.
"Sudahlah, Kak. Aku lelah bermain teka-teki denganmu. Jodoh tahu ke mana akan condong. Sudahlah, percaya ucapanku!"
"Baiklah. Sekarang lebih baik kamu jemput Abbey. Kasihan dia di kamar sendirian." Eric mengusir Rylee.
"Tunggu aku di depan ballroom. Kita masuk bersama-sama. Aku yakin kalau Kakak tidak memiliki undangan resmi."
Rylee kembali ke kamar istrinya. Ruangan yang tadinya biasa saja mendadak sangat wangi.
"Sayang, kamu semprotkan seluruh isi minyak wangi ke kamar ini?"
"Tidak. Aku hanya ingin tahu aromanya saja. Aku semprotkan ke ranjang, baju, dan beberapa bajumu di sini."
Rylee menepuk jidatnya. Dia tidak tahu lagi harus berhadapan seperti apa dengan ibu hamil yang satu ini. Terkadang tingkahnya sangat tidak rasional.
"Tunggu! Aku kirim pesan dulu pada Helen. Mereka harus masuk bersama-sama. Satu undangan hanya untuk dua orang, sedangkan Eric bisa bareng dengan Helen."
"Baiklah. Aku ganti baju sebentar."
Cukup simpel saja. Pakaian formal yang biasa dipakai Rylee saat ke kantor. Sementara saat berada di sini, dia akan lebih senang menggunakan pakaian santainya saja.
Tidak butuh waktu lama, Abbey juga telah siap. Rylee terlihat sangat tampan dengan jas senada dengan gaun sang istri, putih.
"Sayang, Helen bagaimana?"
"Dia dalam perjalanan, Sayang. Kita tunggu saja di sana."
Eric tampak kikuk melihat semua orang yang datang sama sekali tidak dikenal. Setelah adiknya datang, Eric baru bisa tersenyum.
"Lama menunggunya?" tanya Abbey.
"Lumayan. Helen bagaimana?" Eric masih gugup.
"Sebentar lagi dia sampai. Tenang saja." Abbey menepuk pundak Eric. "Dia tidak tahu kalau kamu ada di sini."
__ADS_1
"Ya, kita berencana mengejutkan mereka." Eric mencoba memaksa tersenyum.
Rylee sendiri menggandeng erat tangan sang istri. Abbey juga merasa nyaman. Tidak lama, Thanos malah lebih dulu muncul. Dia menghampiri Abbey yang belum masuk ke tempat acara.
"Kalian akan di sini saja?" tanya Thanos.
"Kami sedang menunggu Helen," jawab Abbey.
"Oh, kupikir dia sudah datang." Thanos pikir kalau wanita itu tidak akan datang. Nyalinya lumayan tinggi juga.
Saat mereka sedang berbincang, rupanya Helen dan Zaylin datang. Mendekati orang-orang yang mereka kenal, Helen memperlambat jalannya.
"Helen, ada apa?" tanya Zaylin.
"Ada Eric. Kupikir dia tidak datang," bisik Helen.
"Oh, ya, ampun! Dia tampan sekali!" puji Zaylin.
"Maksudmu Eric yang tampan?"
"Eh, iya, dia maksudku. Kamu tenang saja karena di bukan seleraku."
Helen tersenyum. Dia berjalan beriringan bersama Zaylin.
"Hai, kami minta maaf sedikit terlambat. Acaranya belum dimulai, kan?" tanya Helen.
Thanos maju untuk mendekati Helen. "Belum. Oh, ya, kamu mau masuk bersamaku? Kita jadi pasangan di dalam."
Helen mendorong Thanos agar mundur. "Jangan bodoh kamu, Thanos! Kamu pikir itu tidak akan menjadi sumber masalah baru lagi? Mereka pikir kita bertukar pasangan. Yang benar saja! Aku masuk bersama Eric."
Eric yang awalnya tidak mampu berkata-kata, kemudian didorong oleh Rylee agar segera mendekati Helen. Mereka terlihat canggung, tetapi Abbey segera menguasai keadaan.
"Sudahlah, Eric. Lebih baik segera gandeng tangan Helen! Kalian juga sudah sepakat akan datang bersama, bukan?" tanya Abbey.
"Itu tidak ada dalam konsepku, Abbey," bisik Helen yang kemudian memberikan kecupan pipi kiri dan kanan temannya.
"Kamu bawa kejutan untukmu. Anggap saja Eric adalah hadiah," canda Abbey.
Thanos terlihat putus asa sekali. Namun, agaknya tawaran Zaylin langsung disetujui oleh duda baru itu.
"Setidaknya kita masuk berpasangan," ujar Zaylin.
__ADS_1