
Rylee membawa Abbey ke rumah besar yang lebih mirip mansion ketimbang rumah. Bila dibandingkan dengan rumah orang tua Abbey, memang selisihnya tidak banyak.
"Rylee, aku tidak bisa masuk sekarang. Aku butuh kekuatan sampai siap berhadapan dengan orang tuamu," ucapnya lirih.
"Menunggu terlalu lama akan membuat kandunganmu semakin besar. Aku setres memikirkan ucapan Helen," ujar Rylee.
"Helen?"
"Ya, aku mencarimu ke sana. Rupanya kamu tidak ada. Aku hanya mengantar Helen untuk memergoki Van selingkuh dengan Anne. Entah, sekarang kabarnya seperti apa? Lebih baik urus diri kita dulu. Setelah semuanya selesai, baru kita tengok Helen dan teman-temanmu."
Rylee menarik tangan Abbey dengan lembut. Dia menggenggam erat dan berjalan beriringan menuju ruang tamu rumah mewah itu.
"Mama!" Suara Rylee memanggil wanita yang menjadi ratu di rumahnya.
Dixie turun dengan penampilan glamornya. Pandangannya tidak tertuju pada siapa yang datang, tetapi pada eratnya genggaman tangan dua orang di ruang tamunya.
"Rylee?" Dixie terkejut.
"Mam, mungkin sudah saatnya kamu tahu bahwa aku mencintai wanita ini. Kuharap Mama bisa memberikan restu karena aku akan menikahinya."
Ucapan Rylee cukup jelas dan tanpa basa-basi. Abbey terkejut. Niatnya datang ke negara ini bukan untuk menikah, tetapi hidup menjauh dari teman-temannya. Dia juga ingin fokus membesarkan bayinya sendiri. Setelah itu, dia akan pulang ke rumah orang tuanya.
"Tidak, Rylee! Mama tidak setuju."
Seketika terlepaslah genggaman tangan itu. Abbey masih berusaha berdiri dengan tegak. Sementara Rylee yang dikira kuat, bermental baja, nyatanya luruh di hadapan mamanya.
"Mam, kumohon. Berikan aku restu untuk menikahi wanita pilihanku!"
Kedengarannya Rylee tidak sedang mendebat, tetapi dia hanya ingin meminta restu dengan cara baik-baik. Terlebih ini untuk melindungi janin yang ada di dalam kandungan Abbey.
"Sebelum Eric menikah, mama tidak akan mengizinkan kamu menikah lebih dulu. Kakakmu harus menjadi orang pertama yang menikah. Setelah itu baru kamu. Itu pun kita tunggu sampai keluarga calon Eric memberikan kabar."
Jawaban yang sangat mengambang. Walaupun menunggu Eric, ada sesuatu yang sedang dipertaruhkan. Janin itu akan berkembang semakin cepat. Hari ini dokter mengatakan bahwa usianya sudah sekitar 8 minggu. Tinggal beberapa bulan lagi anak itu akan terlahir ke dunia.
__ADS_1
"Mam, bisa kita bicara sebentar?" tanya Rylee.
"Tidak perlu kamu lanjutkan, Rylee. Aku pamit," ucap Abbey tanpa ragu sedikit pun.
"Tunggu, Abbey! Kita selesaikan dulu masalah ini. Aku tidak mau Mama salah paham pada kita."
"Percuma. Kamu sudah mendengar semuanya. Jadi, lebih baik aku pergi."
Mudah saja bagi Abbey untuk keluar dari rumah itu. Sampai di depan gerbang nanti, dia akan mencari taksi untuk kembali ke tempat tinggalnya. Mungkin juga dia akan kembali ke apartemen dan memulai kehidupan baru di sana. Opsi terakhir, Abbey akan kembali ke rumah orang tuanya dengan segala konsekuensi yang akan diterima.
"Kenapa Mama menolaknya?"
"Jangan paksa mama menerima wanita yang tidak ada dalam pilihan mama, Rylee. Kamu boleh menikah, tetapi minimal sejajar dengan keluarga kita. Kamu juga harus tahu, dari mana dia berasal? Seperti apa keluarganya? Lalu, kita adakan pesta pertunangan mewah. Seperti yang mama rencanakan untuk Eric."
"Mama egois! Mama tidak mau mendengarkan aku, tetapi sudah menghina wanita yang aku cintai. Mama tidak tahukan, kenapa dia bisa sampai seperti itu?"
"Mama tidak peduli!"
"Tidak penting untuk mama sebelum urusan Eric selesai."
Dixie berkeras hati menolak rencana Rylee yang tidak masuk akal. Urusan Eric saja baru selesai 30 persen. Sementara Rylee mendadak datang dan meminta untuk segera menikah. Itu tidak masuk akal.
"Penting bagi Mama karena ada calon cucu di rahimnya!"
Seketika Dixie membeku. Dia tidak menyangka kalau Rylee akan berkata seperti itu. Terlebih selama ini kehidupannya jauh dari para wanita. Dixie menganggap kehidupan putranya normal tanpa cela.
Padahal Dixie tidak tahu kalau Rylee adalah playboy kelas kakap. Wanita mana yang tidak pernah ditiduri. Bahkan para gadis pun banyak yang sudah menjadi korbannya. Hanya Abbey saja yang dipaksa Rylee untuk melakukan hubungan tanpa pengaman.
"Mama tidak percaya kalau itu anakmu. Bisa saja dia berpura-pura hamil untuk memanfaatkan kesempatan saat tahu keluarga kita kaya raya dan menjadi pusat perhatian semua orang di kota ini."
"Aku yang memerkosanya!" tegas Rylee.
Dixie membalikkan badan.
__ADS_1
"Rylee tidak sebejat itu. Dia masih memegang teguh prinsip keluarga kita. Sekali pun dia hamil dengan alasan kamu yang memerkosanya, mama tidak setuju!"
Rylee tidak menjawab. Dia memilih diam. Rupanya tindakan nekat saat itu berakibat fatal untuk kehidupan semua orang. Bukan saja tentang dirinya, tetapi juga Abbey dan janin dalam kandungannya.
Sementara itu, Abbey yang baru saja mendapatkan taksi langsung meluncur ke tempat tinggalnya. Dia cukup tahu diri bahwa kembali ke rumah adalah pilihan terbaik menjauh dari Rylee. Dia akan membesarkan bayinya bersama kedua orang tuanya. Lagi pula, Abbey juga bisa mengurus bisnis keluarganya.
"Kita akan hidup bersama-sama, Sayang. Walaupun tanpa Papa. Itu tidak akan menjadi masalah untuk kita. Kakek dan nenekmu pasti senang bisa menerimamu. Kita pulang, ya, Sayang!"
Sebelum semuanya terlambat, Abbey memutuskan untuk memesan tiket penerbangan pada esok hari. Bukannya ingin kabur dari Rylee lagi, tetapi keputusan pulang ke rumah dan menerima perjodohan dari orang tuanya adalah hal yang mutlak.
Sementara itu, di kediaman Van, Helen masih bungkam tentang perselingkuhan suaminya. Dia mencoba tetap berpikir positif dan menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.
"Sayang, hari ini aku akan pergi ke rumah sakit. Aku harap kamu bisa menemaniku," ucap Helen.
"Kamu pergi saja sendiri, Helen. Aku sibuk sekali."
"Apakah pekerjaan kantor itu begitu penting? Ataukah lebih penting menduakan aku?" tanya Helen membuat Van menghentikan kegiatannya.
"Apa maksudmu?" tanya Van dengan nada suara bergetar hebat.
"Ya, kamu menduakan aku dengan pekerjaan kantormu itu. Aku sangat cemburu, Sayang," ujar Helen yang membuat suasana hati Van kembali netral.
Van pikir kalau Helen tidak tahu apa-apa. Jadi, selama istrinya itu tetap tenang dan tidak mengetahui hubungannya dengan Anne, Van harus memberikan perhatian khusus saat berada di rumah.
"Maafkan aku, Sayang. Besok aku juga harus bertemu klien di luar negeri. Ada bisnis yang harus kami bicarakan."
Luar negeri? Mungkinkah Van akan pergi bersama Anne? Sementara ini Helen harus bersabar. Hal yang harus diketahui adalah kepergian Van itu ke negara mana. Besok Helen akan bertanya pada sekretaris di perusahaan.
"Kamu tidak mengajakku, Van?"
"Sayang, nanti kamu akan bosan. Ini bukan perkara liburan atau apa pun. Aku ke sana untuk sebuah pekerjaan," ujar Van.
Tidak semudah itu percaya pada mulut Van. Dia harus mencari cara yang tepat untuk membuktikan bahwa Van dan Anne memang pergi bersama.
__ADS_1