Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 56. Kejutan


__ADS_3

Malam itu, Rylee meminta Helen dan Zaylin untuk datang ke apartemen. Alasannya untuk menemani Abbey, padahal itu adalah rencana Eric untuk memberikan kejutan pertunangan singkat. Setelah Helen menerima Eric, pria itu akan membawanya ke hadapan orang tua dengan menentukan tanggal pernikahan sekalian.


"Kau yakin rencana ini akan berhasil? Helen tidak semudah itu percaya sebab aku jarang sekali meminta bantuannya," ujar Abbey.


"Jangan khawatir! Kau sudah menjadi wanita hamil sekarang. Dia pasti peduli. Tenang saja," ujar Rylee.


Sementara itu, di kediaman Zaylin, Helen sedang bersiap. Selama ini mereka tinggal bersama dan Zaylin tidak pernah mempermasalahkan keberadaan temannya itu. Terlebih setelah bercerai dari Van, rupanya sang mantan suami masih mengirimkan uang untuk Helen. Jadi, wanita itu tetap berada di apartemen tanpa bekerja seperti Zaylin.


Helen juga tidak tinggal diam. Selama Zaylin bekerja, dia membantu membereskan apartemen. Terkadang dia pun memasak untuk mereka.


"Kurasa Abbey benar telah memanggil kita. Selama ini aku melihatmu sibuk terus mengurus apartemen. Aku jadi merasa seperti memperlakukanmu sebagai pelayan. Apakah kau merasa demikian?" ujar Zaylin.


"Aku tidak merasa seperti itu, Zaylin. Aku merasa tinggal bersamamu bisa mengurai rasa kesepianku."


"Oh, ya, apa kabar Eric? Apakah dia sering menghubungimu?" Zaylin tahu kalau pria itu sangat perhatian. Namun, akhir-akhir ini Helen seperti merasa berbeda. Tidak ada lagi pembicaraan tentang Eric.


"Entahlah! Dia seperti mendadak menghilang. Aku pun tidak akan terlalu memikirkannya. Terlebih mengingat sikap mamanya yang cukup menjengkelkan. Aku tidak bisa membayangkan kalau aku, Abbey, dan wanita itu tinggal bersama. Aku dan Abbey pasti seperti seorang pelajar dengan guru yang killer." Helen bergidik ngeri.


"Aku tidak menyangka kalau bayanganmu terlalu tinggi. Kadang takdir itu lucu. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau dan Abbey memiliki satu mertua yang sama. Sejak sekolah, keseharian kalian, bahkan sampai mertua pun orang yang sama," canda Zaylin.


"Kali ini aku akan bersatu dengan Abbey," balas Helen dengan senyuman di bibirnya.


Mereka tidak curiga sedikit pun bahwa ini adalah ulah Eric. Andaikan Helen tahu, pasti wanita itu benar-benar bingung dan kikuk.


Ketika sampai di apartemen Abbey, Zaylin segera menekan bel. Tidak lama, Abbey pun membuka pintu. Tampak wanita hamil itu terlihat lebih berisi.


"Hei, apa kabar? Ayo, masuk!" ajak Abbey.


Helen dan Zaylin menurut saja. Mereka duduk di ruang tamu, tetapi Helen seperti merasa aneh dengan apartemen Abbey. Ada sesuatu yang membuat hatinya gusar dan resah.

__ADS_1


Aroma parfum yang sangat dia kenal tercium di sana. Tidak mungkin kalau Eric ada di sana. Kemungkinan besar adalah Rylee menggunakan parfum yang sama dengan sang kakak.


"Helen, kau baik-baik saja?" Abbey penasaran.


"Iya, kupikir dia semakin aneh setelah masuk apartemenmu. Ada apa, Helen?" tanya Zaylin.


"Entahlah. Mungkin aku sudah gila! Bayangkan bahwa aku merasa menghirup aroma perfum Eric, padahal dia tidak mungkin berada di sini." Helen menundukkan kepala.


"Kau sangat merindukannya, Helen. Bagaimana hubungan kalian?" Abbey malah lebih senang ketika menggoda temannya itu. "Oh, baiklah. Lebih baik kita lupakan saja. Oh, ya, ada kabar yang mungkin sedikit tidak kalian sukai. Aku kembali bekerja di perusahaan Van. Agak aneh, tapi itulah aku! Aku minta maaf, Helen."


Jelas saja Zaylin dan Helen agak terkejut. Namun, beberapa menit kemudian mereka kembali tenang.


"Tidak masalah, Abbey. Kau sudah bekerja di sana cukup lama. Mungkin saja Van tidak bisa menemukan sosok penggantimu sebagai sekretaris. Kau sangat luar biasa dan Van sering kali memujimu. Oh, ya, di mana Rylee? Mengapa aku tidak melihatnya?" tanya Helen.


Biang kerok yang meminta Helen dan Zaylin datang di malam hari adalah karena laki-laki muda itu. Namun, ketika mereka sampai di sana, tidak sekali pun mereka menemukan keberadaan Rylee.


Mereka bisa tidur di kamar tamu. Apartemen yang disewa Abbey dan sang suami memiliki dua kamar. Satu kamar utama dan satunya lagi adalah kamar tamu.


"Entahlah, Abbey. Kalau Rylee sudah kembali, lebih baik aku dan Zaylin pulang saja!" Helen sebenarnya ingin menginap di sana, hanya saja aroma parfum itu sangat mengganggu.


"Kenapa, Helen? Apa kau sakit?" Zaylin terlihat tampak khawatir.


"Boleh aku jujur tentang sesuatu?" Helen tertunduk lagi.


Zaylin dan Abbey mengangguk. "Katakan saja!"


"Aku merasa gila dengan aroma parfum yang biasa dipakai Eric. Aku merasa pria itu berada di sini. Mungkin aku yang berlebihan dan tidak masuk akal!" Helen menyugar rambutnya dengan kasar sehingga membuat berantakan.


"Wah, luar biasa! Rupanya ikatan batinmu dengan calon kakak ipar sangat kuat sekali. Mengapa kau tidak mencoba menghubunginya?" Lagi-lagi Abbey menggodanya.

__ADS_1


Beberapa hari ini Helen resah karena Eric. Pria itu tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Terkadang pesan-pesan yang dikirim Eric padanya menjadi pengobat rindu.


Sementara Abbey, dia terus berperang melawan hatinya sendiri. Ingin lepas dari Van, tetapi nyatanya dia kembali ke sana lagi. Mungkin dia akan benar-benar lepas ketika Rylee memiliki pekerjaan yang lebih layak.


"Aku heran, kenapa kalian berdua diam seperti itu? Kalau ada masalah, kalian bisa cerita! Jangan pendam sendiri!" tegur Zaylin.


Jelas ada penyesalan di raut wajah Abbey mengingat Rylee memilih bekerja di bengkel mobil. Sementara ekspektasi pada laki-laki itu sangatlah besar. Dia memiliki kemampuan untuk bekerja di perusahaan, tetapi malah memilih pekerjaan itu.


"Apa mungkin aku harus meninggalkan negara ini untuk kembali ke rumah orang tuaku? Paling tidak Rylee memiliki pekerjaan yang bisa dibanggakan. Tidak seperti sekarang ini." Abbey mengeluhkan suaminya.


"Memangnya Rylee bekerja di mana?" tanya kedua temannya bersamaan.


"Bengkel." Abbey meringis menahan malu.


Sebagai orang yang memiliki pandangan luas, Zaylin tidak bisa menyudutkan pilihan pekerjaan orang lain.


"Mungkin dia ingin memulainya dari nol, Abbey. Percayakan saja padanya! Kalau sudah waktunya, dia pasti akan menemukan pekerjaan yang tepat." Zaylin berargumen.


Sebenarnya tidak masalah juga, tetapi Abbey takut kalau itu akan menjadi masalah di kemudian hari. Bukan karena dirinya sendiri, melainkan orang tua mereka.


Sementara Zaylin dan Helen mengobrol, Abbey masuk ke dapur untuk mengambil minuman. Dia juga segera mengirimkan pesan pada Rylee agar membawa Eric pulang ke apartemen karena Helen sudah berada di sana.


Ketika bel berbunyi, Abbey refleks meminta Helen untuk membuka pintu.


"Helen, tolong bukakan pintunya!" teriak Abbey dari dapur.


Tanpa menaruh curiga, Helen beranjak dari tempat duduknya. Ketika pintu dibuka, tampak Rylee berdiri di sana dan seseorang di belakang laki-laki itu.


"Kejutan!" ucap Rylee membuat Helen terpaku.

__ADS_1


__ADS_2