Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 25. Kepedulian Eric


__ADS_3

Walaupun Rylee termasuk orang yang kuat mengkonsumsi alkohol, tetap saja dia kalah dengan hatinya. Baru beberapa gelas saja, kepalanya sudah pusing tidak menentu.


Suara musik seakan menambah kegetiran hatinya. Dia putus asa karena penolakan mama dan Eric yang menerima perjodohan dengan Abbey.


"Keluarga macam apa?" racau Rylee yang sebenarnya masih setengah sadar.


Kalaupun dia mabuk, tetapi tidak sepenuhnya sampai terlihat teler. Dia tetaplah penguasa alkohol yang masih bisa mengendalikan diri walau sudah setengah mabuk.


Sementara itu, Eric sudah berjanji pada Abbey untuk menjemputnya saat mendekati hari H pernikahan. Dia juga sudah berjanji untuk mengajak Abbey pergi ke suatu tempat yang akan membuatnya bahagia dan melupakan seluruh masa lalunya.


"Jangan terlalu memberikan janji sekiranya kamu tidak bisa menepati!" Abbey merasa tidak nyaman diperlakukan manis seperti itu.


"Tidak apa-apa. Demi calon istri dan anakku. Apa pun akan kulakukan."


Malam hampir larut, Philo dan keluarganya memutuskan untuk pamit ke hotel. Mereka pun diantar oleh sopir keluarga Arthur.


"Flo, kenapa ini bisa terjadi? Kenapa kamu bisa hamil?" tanya Arthur yang mendadak sakit kepala.


Beruntung pihak Eric mau menerimanya. Jika tidak, sudah bisa dipastikan kalau Arthur akan menanggung beban seumur hidupnya.


"Kami tidak sengaja, Pa," jawab Abbey tertunduk.


Arthur tidak percaya itu. Satu-satunya anak gadis keluarga konglomerat tidak bisa menahan diri lalu memilih tidur dengan pria lain. Apalagi sampai hamil.


"Kamu harusnya kasihan pada Eric. Dia sukarela menerimamu seperti itu. Kalian akan menikah dan tinggal bersama keluarga besarnya. Ingat, jangan membuat skandal dengan adiknya yang kelakuannya mines itu! Papa tidak suka!" tegas Arthur.


Mungkin Arthur lupa kalau calon cucunya adalah bibit yang ditinggalkan laki-laki muda barbar. Kebiasaannya saja berfoya-foya dan menipu orang. Mungkin Arthur akan memilih untuk menggugurkan calon cucunya, ketimbang mempertahankan janin itu.


"Aku tidak memaksanya, Pa. Dia yang mau."


"Sudahlah, Flo. Lebih baik dengarkan saja kata papamu. Eric rela menerimamu karena mamanya berniat untuk menolak perjodohan kalian. Wajar kalau Dixie melakukan itu. Terlebih Eric adalah penerus pertama dari keluarganya. Lalu, papamu meminta Eric untuk menjadi penerus di perusahaan kita. Benarkan, Pa?" Blair ikut angkat bicara karena merasa kalau Eric jauh lebih baik ketimbang Rylee.


"Aku tidak peduli siapa pun yang akan menikah denganku. Aku hanya ingin membesarkan anakku tanpa campur tangan siapa pun. Hanya itu!"

__ADS_1


Abbey meninggalkan orang tuanya yang saat ini masih berada di ruang tamu setelah mengantarkan tamunya pergi.


Sementara itu, Eric sangat mengkhawatirkan adiknya. Jika mereka datang dengan mobil terpisah, maka saat kembali ke hotel, mereka berada di dalam satu mobil yang sama.


"Pa, setelah ini aku akan mencari Rylee."


"Tidak perlu, Eric! Biarkan saja. Dia pasti pergi ke tempat menjijikkan itu!" Philo tidak suka dengan klub malam.


Sama halnya dengan Dixie. Dia lebih suka kalau anak-anaknya itu menjadi sosok penurut. Dari dua anaknya, cuma Rylee yang sikapnya ugal-ugalan.


"Jangan seperti itu, Pa! Besok kita akan pulang bersama-sama. Kalau sampai Rylee malam ini tidak pulang ke hotel, bisa dipastikan kalau kita akan ketinggalan pesawat."


Setelah mereka sampai di hotel, Eric tetap berada di mobil lalu meminta sopir itu membawanya ke klub terdekat.


"Tuan, tetapi kalau Tuan Arthur tahu bahwa aku kembali ke mansion terlambat. Maka–"


"Aku yang akan bertanggung jawab. Katakan saja kalau aku yang memintanya. Bila dia ingin memecatmu, hubungi aku di sini." Eric menyerahkan kartu nama pada sopir itu.


"Terima kasih, Tuan. Baiklah, aku akan mengantarmu."


Setelah sampai di klub malam, Eric segera masuk. Tidak lupa juga meminta sopir itu untuk menunggu.


Baru saja masuk, Eric yang pertama kali datang ke klub malam langsung digoda oleh beberapa wanita. Wajar saja karena dia tampan dan terlihat sekali dari keluarga kaya-raya. Namun, Eric tidak peduli. Dia benar-benar meninggalkan mereka tanpa sepatah kata pun.


Beruntung tidak sulit menemukan adiknya. Rylee masih meneguk beberapa gelas alkohol di depan bartender. Baru saja menghabiskan seteguk, dia sudah menyodorkan gelasnya kembali.


"Cukup, Tuan! Kurasa Anda tidak akan sanggup membayar semuanya." Bartender itu takut kalau ada salah satu konsumennya minum melebihi batas normal.


"Kau jangan khawatir! Aku pasti akan membayarnya. Kau tahukan, jam tanganku ini jauh lebih mahal daripada gajimu di sini. Tenang saja!"


Bartender itu sekilas melihatnya. Memang benar sangat mahal sekali. Namun, saat melihat seorang pria mendekati pelanggan barunya, bartender itu semakin yakin kalau malam ini mereka pasti akan membayarnya.


"Berapa tagihannya?" tanya pria itu.

__ADS_1


"Sekian dollar, Tuan."


Ya, Eric segera menyodorkan kartu debitnya. Setelah itu, dia meminta bartender untuk stop memberikan minuman pada adiknya.


"Cukup sampai itu saja! Jangan tambah lagi!" kata Eric.


"Baik, Tuan."


Meras minumannya berhenti disajikan, Rylee tampak mengamuk. Dia tidak senang kalau kebahagiaannya diganggu. Dia menarik baju bartender itu sekenanya sehingga menyebabkan beberapa gelas berjatuhan.


Eric menarik tangan Rylee lalu mengunci pergerakannya. "Aku akan mengganti rugi kerusakan ini. Kirim saja nomor rekeningnya, aku akan mentransfer sejumlah uang. Aku akan membawanya pergi sekarang."


Tentu saja mereka percaya. Terlebih wajah itu seperti memberikan gambaran pengusaha kaya. Mereka pun memberikan catatan kecil untuk diberikan pada pria yang membantu meredakan masalah laki-laki pemabuk itu.


Awalnya, Rylee meracau. Memaki Eric tiada henti. Dia pun seolah tanpa terkendali menceritakan bagaimana hubungan Rylee terjadi dengan Abbey. Dia juga menjelaskan begitu detail bagaimana sikapnya saat berhasrat untuk menyentuh Abbey.


"Cukup, Rylee! Jangan katakan apa pun tentang dosa yang sudah kamu buat!" Kali ini Eric menampar adiknya.


Pertama kali dalam sejarah hidupnya, Eric bersikap kasar. Dia bahkan jijik mendengar penuturan bagaimana Rylee memaksa Abbey untuk melakukan one night stand yang berakhir pada tumbuhnya janin di rahim Abbey.


"Wah, Eric! Kamu sekarang kasar sekali." Tentu saja Rylee masih bisa menyadari. Sebanyak apa pun minuman yang dia konsumsi, tetap saja tidak membuatnya hilang kesadaran.


"Ayo, masuk! Jangan permalukan dirimu di hadapan orang banyak!"


Eric mendorong tubuh adiknya untuk masuk. Sopir agak terkejut, tetapi dia tidak tahu apa pun yang menyebabkan Rylee bersikap seperti itu.


"Jalan, Pak!" perintah Eric pada sopir itu.


Saat Rylee ingin mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal, sesegera mungkin Eric membungkam mulutnya. Jangan sampai sopir itu tahu bahwa adiknya sudah menghamili Flo lalu membuat suasana kehidupan wanita itu semakin tertekan karena malu.


"Terima kasih, Pak. Sampaikan permohonan maafku pada Tuan Arthur."


Eric segera membawa adiknya masuk ke kamar hotel. Walaupun dia sempat melawan, pada akhirnya tetap kalah dengan Eric.

__ADS_1



__ADS_2