Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 29. Menuju Bandara


__ADS_3

Semalam, Rylee harus berjuang keras untuk mendapatkan tiket penerbangan tujuan negara X. Keberangkatan pagi sudah habis, sehingga mereka memutuskan untuk ambil penerbangan sore hari.


Rylee mengetuk pintu kamar Abbey dan memastikan bahwa wanita itu baik-baik saja setelah begadang semalam. Apalagi dia sedang hamil. Jadi, rasa khawatirnya jauh lebih besar.


"Abbey, kamu–" Ucapannya menggantung saat melihat wanita itu membuka pintu.


"Aku baik-baik saja, Rylee. Jam berapa pun aku tidur, pasti pagi terbangun begitu cepat. Oh, ya, kamu benar-benar tidak keberatan menemani perjalananku, bukan? Aku ingin bertemu mereka sebelum pernikahan."


"Tentu. Demi kamu dan–"


"Bayi kita," balas Abbey cepat.


Sementara itu, di rumah besarnya, Philo terlihat kesal sekali. Kemarin putranya mendadak menghilang. Sampai pagi ini tidak kelihatan di rumah. Itu artinya, dia tidak pulang.


"Eric, coba hubungi adikmu! Di mana dia sekarang? Baru bersikap baik selama beberapa hari, sekarang berubah lagi. Awas saja kalau sampai dia melakukan hal-hal yang memalukan lagi." Philo sudah mengomel tanpa jeda.


Dixie menyuguhkan kopi dengan aroma yang begitu kuat. Khas white coffee kesukaan Philo dan Eric tentunya. Cuma Rylee penikmat keseluruhan jenis kopi, tetapi dia dominan menyukai kopi hitam dengan sedikit gula.


"Daripada kamu mengomel terus, kopi ini akan membuatmu jauh lebih baik lagi. Kalau Rylee tidak pulang, Eric bisa ke kantor bersamamu, bukan? Kurasa dia setres karena memikirkan Flo yang akan menikah dengan Eric. Aku bisa merasakan itu, tetapi Arthur tidak setuju menikahkan putrinya dengan Rylee." Ada rasa nyeri di dada Dixie setelah mengucapkannya.


Tidak, bukan hanya Dixie saja, tetapi juga Eric. Dia jauh lebih nyeri lagi saat menyadari kekeliruannya. Namun, dia mencoba memperbaiki semuanya sebelum terlambat. Dia tahu kalau Rylee menjaga jarak darinya. Begitu juga dengan Abbey atau Flo yang dia kenal. Mereka sama-sama menghindar.

__ADS_1


Oke, mungkin pikiran Flo mengutuk Eric karena tidak tahu aturan. Dia datang kemudian merebut Flo dari adiknya. Ya, tidak hanya Flo, bayinya juga direbut Eric.


"Mam, Pa, aku ke kantor. Papa menyusul saja. Mungkin ada beberapa pekerjaan Rylee yang tertunda karena mendadak dia menghilang," pamit Eric. Padahal dia tidak ingin dilihat orang tuanya bila sedang berpikir keras.


Ya, hari ini dia harus ke kantor terlebih dahulu. Siang ini, rencananya dia akan pergi menyerahkan berkas pernikahan. Mungkin cuma dia satu-satunya calon pengantin pria, tetapi menyerahkan berkas seorang diri. Seperti tidak mendapatkan pengakuan dari calon pengantin wanitanya dan memang kenyataannya seperti itu.


"Oke, ini memang salah, Eric. Memperbaiki sebelum terlambat adalah tugasmu sekarang."


Bergegas dia mengemudikan mobilnya supaya lebih cepat saat sampai di kantor. Kemudian dia akan masuk ke ruangan adiknya dan melihat beberapa berkas yang mungkin masih belum selesai dan Eric harus menyelesaikannya.


Ya, sekali lagi Rylee ceroboh. Meninggalkan pekerjaan kantor dengan membiarkan laptop masih menyala. Tidak susah bagi Eric untuk membuka lalu melihat apa yang sedang dikerjakan adiknya.


Wallpaper laptopnya terpasang foto Flo atau Abbey bagi Rylee. Sesak di dada Eric langsung datang begitu saja. Bolehkah dia memiliki sedikit rasa cemburu pada wanita yang akan dinikahinya? Terlebih ini soal perasaan dan harga diri.


Belum lagi kejadian malam itu saat Rylee mabuk lalu kembali ke hotel. Eric merasa bersalah karena merebut Abbey dari adiknya. Dia akan lebih bersalah lagi kalau memisahkan bayi itu dari orang tuanya.


"Kurasa memang keputusan yang tepat. Mungkin ini akan sulit di awal, tetapi aku yakin semuanya akan baik-baik saja." Eric menghela napas berat lalu menghembuskannya.


Sementara itu, Rylee dan Abbey mempersiapkan diri seusai sarapan pagi. Mereka harus check out dulu, baru pergi berbelanja. Hanya sedikit untuk dibawa ke tempat teman-temannya. Anggap saja sedikit oleh-oleh untuk mereka dan tidak akan menyulitkan selama penerbangan.


"Berapa lama kita akan di sana?" tanya Rylee sambil membawakan satu tas milik Abbey.

__ADS_1


Koper Abbey dibawanya sendiri karena dia merasa mampu melakukan itu. Dia menoleh sejenak pada Rylee karena mendengar pertanyaan yang dia sendiri belum tahu jawabannya.


"Aku belum tahu. Kurasa lebih cepat lebih baik. Kamu tahukan alasannya apa? Mungkin mamamu dan kakakmu mencariku. Mungkin juga mereka mengiraku kabur atau menghilang sebelum pernikahan." Abbey berhenti sejenak lalu mengangkat tangannya. "Kurasa aku ingin melepaskan cincin sialan ini untuk selamanya."


Rylee terkejut. "Kenapa? Bukankah kalian sudah sepakat untuk menikah?"


Rylee mencoba tetap tenang. Berusaha memahami Abbey dan menekan perasaannya sendiri. Bersama dengannya saja sudah senang. Setidaknya ini akan menjadi sedikit obat sebelum Abbey meninggalkannya seumur hidup. Lalu, dia akan hidup berbahagia dengan kakaknya.


Bila ada sebuah keajaiban, dia ingin melihat takdirnya sejak awal. Lalu, apabila takdir itu tidak sesuai, Rylee akan mengubahnya sesuai keinginan. Andaikan jalan hidup sesimpel itu?


"Sepakat belum tentu setuju, Rylee. Ada calon pengantin di detik-detik terakhir menjelang pernikahan lalu kabur."


"Apakah kamu merencanakan itu?" Rylee terkekeh-kekeh. "Lalu, semua orang akan menuduhku! Ya, Rylee, sang adik kurang ajar telah mengacaukan pernikahan kakaknya. Aku akan terpampang di surat kabar yang terkenal di kotaku. Itu sangat menyedihkan!"


Abbey tersenyum kecut sebelum mereka menaiki taksi menuju bandara. Ada rasa kasihan pada laki-laki itu. Dia masih terlihat tegar walaupun Abbey menyakitinya.


Rylee membantu meletakkan koper dan tas berukuran sedang untuk dimasukkan ke bagasi. Sementara Abbey sendiri hanya membawa tas kecil berisi data-data pribadinya.


"Bandara, Sir!" ucap Rylee pada sopir.


Taksi segera membelah jalanan kota yang belum terlalu padat. Penerbangan masih beberapa jam lagi, tetapi Abbey sudah tidak sabar untuk duduk di kursi tunggu bandara, menunggu panggilan masuk ke dalam pesawat, dan semua kegiatan yang ada di sana. Dia sangat merindukannya. Namun, kali ini ada yang berbeda. Sesaat Abbey melirik Rylee yang kebetulan sedang melihat ke luar, ke arah yang mungkin tidak bisa melihat Abbey dengan jarak begitu dekat.

__ADS_1


"Kamu memang selalu meresahkan, Rylee. Mungkin sentuhan pertama yang kutolak tempo hari akan menjadi sesuatu yang kurindukan setelah ini. Aku gugup mendekati hari pernikahan, bukan karena aku takut kehilanganmu. Namun, aku lebih takut akan ada pria lain yang akan menyentuhku, kecuali dirimu. Ah, aku mulai segila itu padamu! Lalu, bagaimana dengan Eric? Apakah kita akan memutuskan untuk kawin lari saja? Lagi pula, semua orang pasti tahu dengan siapa aku kabur. Cuma kamu dan tidak tergantikan. Aku mencintaimu," batin Abbey.



__ADS_2