
Rylee benar-benar kalut. Dia tidak bisa mengusahakan apa pun selain pasrah pada takdir. Dia lebih fokus bekerja dan membuat papanya bangga. Cuma itu tujuannya.
Dia bosan di ruangannya. Ini merupakan momen langka saat laki-laki itu menuju ke pantry. Dia lebih suka memerintah orang untuk mengantarkan secangkir kopi dengan sedikit gula. Tidak terlalu manis dan pahit.
"Tuan, mau dibuatkan apa?" tanya office boy.
"Tidak perlu. Aku ingin membuatnya sendiri." Rylee melepaskan jas dan dasinya. Tidak lupa membuka beberapa kancing bajunya sehingga terekspos tatonya.
Dia mengambil cangkir dan tatakannya. Lalu, dia segera mengambil kopi hitam dan sedikit gula dari wadah yang berbeda.
Kalau hanya menyeduh kopi, itu bukan perkara sulit. Tinggal menambahkan air dari dispenser panas kemudian mengaduknya.
Aroma kopi itu menguar ke udara. Indra penciumannya segera menghirup lalu melepaskannya. Sedikit terasa tenang sebelum dia menuju ke sofa yang ada di sana.
"Ah, hidupku seperti kopi ini! Setelah kuhabiskan airnya, tersisa ampasnya saja."
Penyesalan memang datang belakangan. Wanita yang sudah menjadi prioritas hidupnya malah akan dimiliki oleh kakaknya. Apakah itu definisi karma untuknya?
Berniat untuk menikmati kopinya yang sudah setengah dingin, rupanya Philo masuk ke ruangan itu. Tatapannya beradu dengan putranya.
"Kamu di sini rupanya. Pantas saja aku cari di ruanganmu tidak ada."
"Aku hanya sedang menikmati secangkir kopi, Pa. Aku juga tidak kabur dari tanggung jawab, bukan? Aku banyak belajar darimu, Pa. Terima kasih."
Sebenarnya ungkapan terima kasih yang ditunjukkan Rylee seperti sebuah protes. Dia merasa berat kalau menerima kenyataan seperti ini. Dia ingin berteriak lalu melakukan negosiasi untuk mendapatkan kembali haknya menikah dengan Abbey.
"Baguslah. Tunjukkan tanggung jawabmu sebagai laki-laki."
Philo menuju ke meja untuk mengambil cangkir. Dia ingin membuat kopi, tetapi bukan kopi hitam seperti putranya. Dia lebih suka white coffee dengan sedikit gula.
Setelah selesai dengan secangkir kopinya, Philo duduk di sebelah Rylee. Dia mengamati pakaiannya saat ini.
"Lain kali jangan seperti itu. Harga diri pemimpin perusahaan dipertaruhkan."
__ADS_1
Cuma itu ucapan Philo. Dia kemudian meneguk kopinya yang masih terlihat panas. Hanya sedikit demi sedikit agar tidak membakar tenggorokannya.
Sementara Abbey baru saja sampai di kamar hotel. Dia merasa rindu pada Helen, Zaylin, dan Thanos. Mungkin lebih kepada Helen. Apa kabar suami brengseknya yang diam-diam berselingkuh dengan Anne?
Abbey tidak tahu kabar mereka. Rasanya ingin pergi ke sana, tetapi dengan siapa? Abbey butuh teman. Sebenarnya satu-satunya orang yang bisa diajak kompromi saat ini adalah Rylee. Terkesan memaksakan, tetapi itu jalan satu-satunya.
"Oke. Mari kita lakukan. Ini bukan dosa besar kalau aku menghubungi Rylee lalu memintanya untuk mengantarkan ke teman-temanku. Setidaknya kami akan saling memaafkan dalam perjalanan nanti. Itu pun kalau dia tidak membenciku dengan cincin sialan ini." Abbey mengangkat tangannya dan memperlihatkan cincin berlian bertengger di sana.
Abbey lupa. Dia merasa menyimpan nomor Rylee, tetapi mengapa di ponselnya tidak ada? Daripada berpikir panjang, Abbey memutuskan untuk menghubungi perusahaan tempat Rylee bekerja saat ini. Tidak sulit menemukan nomornya karena papa pernah bercerita padanya tentang perusahaan yang dipimpin Eric dan om Philo.
"Bisa bicara dengan Tuan Rylee?"
"Maaf, bisa perkenalkan diri Anda terlebih dahulu?"
Abbey bingung. Apakah dia akan menggunakan nama Abbey atau Flo. Sama-sama membuatnya pusing. Namun, setelah beberapa saat berpikir, dia memutuskan untuk menggunakan nama Abbey.
"Katakan Abbey mencarinya."
"Tunggu sebentar, ya. Kami akan menghubungi Tuan Rylee terlebih dahulu."
Kebetulan Rylee baru saja kembali ke ruangannya. Dia mendengar telepon berbunyi lalu segera mengangkatnya.
"Halo, Tuan. Di line satu ada Nyonya Abbey menunggu Anda. Terima kasih."
Abbey? Rylee mencubit pipinya terlebih dahulu. Seperti sebuah mimpi yang berubah menjadi nyata. Lalu, untuk apa Abbey mencarinya? Sekarang pun dia tidak peduli apa itu kekeluargaan. Penting baginya untuk merespon telepon itu dengan cepat sebelum Abbey mengakhirinya.
"Halo!" Suara berat Rylee akhirnya terdengar di telinga Abbey.
Sejenak wanita itu terdiam. Laki-laki yang dirindukannya cukup dekat dengan telinganya saat ini. Merdu mengusik ketenangan hati.
"Rylee, aku minta maaf harus menghubungimu dengan cara seperti ini. Aku ingin minta tolong padamu."
"Kenapa? Apakah aku penting bagimu?"
__ADS_1
Terdengar sekali kalau Rylee sangat kesal. Mungkin karena pertunangan Eric dan Abbey yang dilangsungkan tanpa memandang keberadaan dirinya saat itu. Abbey terdesak. Begitu juga dengan Eric.
"Oke, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Kamu adalah orang terpenting yang masuk ke dalam kehidupanku. Sekarang pun aku sedang mengandung anakmu. Tidak masalah kalau kamu masih marah. Hanya saja aku ingin pergi ke tempat Helen, tetapi aku butuh teman. Bisakah kamu menemaniku? Uhm, anggap saja ini adalah awal aku mengidam ingin bertemu denganmu."
Sepenting itukah Rylee bagi Abbey? Mengapa tidak mengajak Eric saja? Itu akan jauh lebih mudah karena kakaknya adalah calon suaminya.
"Tidak! Pergi saja bersama Eric!"
"Rylee, kalau kamu tidak mau datang dalam waktu 10 menit lagi di hotel X, kupastikan kamu hanya akan melihat mayatku!" Ancam Abbey kemudian memutuskan sambungan secara sepihak.
Rylee meletakkan gagang telepon. Dia memikirkan kata-kata mayat. Mungkinkah Abbey akan senekat itu? Sebenarnya ajakannya untuk bertemu teman-temannya masih wajar. Terlebih Rylee mengenal mereka.
Tanpa berpikir panjang, Rylee keluar dari ruangannya. Tidak perlu lagi meminta izin pada Philo atau siapa pun. Kalaupun dia menghilang dari muka bumi ini, siapa yang peduli?
Langkah kaki Rylee terasa berat saat sampai di sebuah hotel. Agak sedikit aneh karena yang dia tahu bahwa Abbey akan menginap di paviliun dekat rumahnya. Sekarang, mendadak berada di hotel ini. Apakah dia sedang bercanda?
"Maaf, bisa diinformasikan kepada Nona Abbey Florence bahwa ada tamu yang sedang menunggunya?"
"Tentu, Tuan. Silakan tunggu sebentar!"
Rylee berharap bahwa ucapan Abbey tidak terbukti. Kalau sampai dia benar-benar bunuh diri, bisa dipastikan kalau dia akan kehilangan semuanya. Wanita yang dicintai berikut buah cinta mereka.
Lima menit berikutnya, Abbey sudah muncul dengan penampilannya. Dia tidak membawa apa pun, tetapi langsung memeluk Rylee. Sungguh ini sikap yang sangat kurang ajar sekali. Bertunangan dengan kakaknya, tetapi masih mau dengan adiknya.
"Tolong, sedikit mundur!" ucap Rylee. Walaupun dirinya ingin melakukan hal yang sama, tetapi tidak akan dilakukan semata-mata di hadapan orang lain.
"Oh, aku minta maaf, Rylee. Kamu sudah mengerti ucapanku, bukan? Aku ingin pergi menemui teman-temanku."
"Tentu, tetapi mari kita pesan tiket pesawat terlebih dahulu. Bukan untuk malam ini. Kurasa semua penerbangan malam ini sudah penuh. Bagaimana kalau besok pagi?"
"Kalau begitu ikutlah ke kamarku!"
"Tidak! Aku akan memesan kamarku sendiri."
__ADS_1
Rylee tidak tahan harus berada sekamar dengan Abbey. Solusinya dia hanya akan tidur di kamar lain setelah urusan tiket pesawat selesai.