
Setelah mendapatkan kabar dari Helen, Rylee memutuskan untuk pulang. Dia sudah berjanji pada kakaknya untuk tidak pergi terlalu lama. Namun, ada sesuatu yang membuatnya semakin terpuruk. Benarkah Abbey hamil anaknya? Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana kalau Abbey membencinya dan memutuskan untuk menggugurkan kandungannya?
"Rylee, mama perhatikan hari ini lebih banyak melamun. Kenapa?" tanya Dixie.
"Mam, boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh saja selagi mama bisa jawab."
"Wanita hamil itu seperti apa? Berapa lama?" Rasa bersalah Rylee pada Abbey semakin menjadi-jadi.
"Tumben kamu tanya begitu. Kamu tidak melakukan sesuatu yang fatal, kan?"
"Sudahlah, Mam. Jawab saja pertanyaanku tanpa menginterogasi aku!"
Dixie menggeleng. "Baiklah. Wanita hamil itu pasti memiliki banyak perubahan untuk bentuk tubuhnya. Perutnya juga semakin besar seiring perjalanan waktu. Kalau untuk lamanya, bisa sekitar 36 sampai 40 minggu. Tidak tentu, Rylee."
Rylee langsung memejamkan matanya. Terlihat frustasi, tetapi tidak bisa mengungkapkannya. Dia langsung membayangkan kesulitan yang dihadapi Abbey.
"Rylee, kamu kenapa?"
"Kurasa aku perlu pergi ke dokter, Mam. Akhir-akhir ini aku tidak bisa tidur nyenyak."
"Jangan terlalu pikirkan soal perusahaan. Kalau kamu sedang sakit, beristirahatlah!" pinta Dixie.
"Ya, Mam."
Berhari-hari Rylee memikirkan Abbey, dia pun sampai demam. Dixie merawatnya dengan sangat telaten dan papanya mulai menyadari bahwa perubahan sikap Rylee akhir-akhir ini pasti disebabkan alasan lain, bukan tentang pekerjaan.
"Mam, bagaimana kondisi Rylee?" tanya Philo.
"Demamnya naik turun, Pa. Terkadang mengigau tidak jelas. Kadang terlihat seperti kehilangan seseorang. Mama juga tidak tahu, kenapa dia sampai seperti itu?"
"Mam, coba bawa ke psikolog saja. Bukannya sejak awal tahu kalau Rylee mengalami insomnia sepanjang hari padahal tidak biasanya seperti itu, kan?" Eric mencoba menyarankan.
Dixie jelas tidak akan mau. Malah mereka pasti menganggap Rylee mengalami masalah mental. Jangan sampai itu terjadi. Mungkin menunggu kondisi Rylee membaik, biar dia pergi ke rumah sakit sendirian.
Hari-hari berikutnya, kondisi Rylee sudah lebih baik. Dia bahkan jauh lebih bersemangat lagi. Seperti seseorang yang kehilangan kemudian bangkit kembali.
__ADS_1
"Mam, hari ini aku akan ke kantor. Setelah itu, aku akan pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi dengan dokter. Jadi, Mama tidak perlu khawatir lagi. Aku baik-baik saja."
"Iya, Sayang. Kalau mama boleh tahu, sebenarnya kamu kenapa? Setiap mama dengar kamu tidur, kamu selalu mengigau minta maaf. Apa kamu melakukan kesalahan pada orang lain?"
Ya, Rylee melakukan kesalahan pada Abbey yang menyebabkan wanita itu hamil. Di dalam pikiran Rylee saat ini adalah sikap Abbey yang nekat akan menggugurkan kandungannya. Itu terus yang terbayang di benaknya saat ini.
Siang hari, di sebuah rumah sakit, seorang wanita baru saja turun dari taksi. Sudah beberapa minggu dia tinggal di tempat baru dan suasana baru. Saatnya dia melakukan kontrol kehamilan yang pertama.
Abbey berada di sebuah kota yang menurutnya menarik. Terlihat dari bangunan, jalan raya, dan beberapa fasilitas umum yang selalu memanjakan pandangan mata.
Walaupun perutnya belum terlihat besar, tetapi Abbey tidak akan membunuh anak yang tidak berdosa itu. Kehamilannya kali ini membuat Abbey gampang lelah dan tidak memiliki kekuatan apa pun.
"Suster, tolong bantu aku pakai kursi roda untuk sampai ke ruangan dokter kandungan."
"Baik, Nyonya."
Sebenarnya Abbey bisa saja sampai ke sana, tetapi harus berusaha semaksimal mungkin. Tidak mudah memang, tetapi mau bagaimana lagi? Selain susah makan, Abbey juga cenderung seperti orang bingung di tempat baru. Yang mendominasi adalah mudah lelah saja.
Suasana rumah sakit yang tenang mendadak sedikit heboh. Abbey sempat mendengar beberapa orang membicarakan ketampanan anak bungsu pemilik perusahaan besar di kotanya. Bukan karena kelakuan buruknya, tetapi karena laki-laki itu terlihat sangat berkharisma.
Kedatangannya bersama dua bodyguard untuk melakukan medical check up sudah membuat heboh lingkungan rumah sakit. Alasannya karena putra bungsu keluarga itu sering tidak menampakkan diri di hadapan publik.
"Tidak mungkin!" gumam Abbey.
Sayang, pandangannya sudah beradu. Hanya saja Rylee melihat sosok wanita di depannya melalui kacamata hitamnya saja. Setelah menyadari bahwa itu adalah wanita yang dicarinya, Rylee bergegas mendekat dan memastikan kebenarannya.
Debaran jantung Rylee seperti bunyi genderang yang dipukul dengan cukup keras. Begitu juga dengan Abbey.
Laki-laki itu berjongkok di hadapan Abbey yang sedang berada di atas kursi rodanya menunggu antrean masuk ke ruang dokter kandungan. Kacamata hitam itu langsung dilepas dan terlihat mata Abbey berkaca-kaca karena tidak percaya.
"Abbey!"
"Rylee!"
Ucapan mereka pelan penuh dengan kerinduan. Rylee langsung memeluk Abbey yang langsung disaksikan beberapa orang di sana.
"Aku minta maaf dan tolong jangan menangis," ujar Rylee.
__ADS_1
Abbey tidak mampu berkata-kata lagi. Dia memang tidak bisa sendiri. Keyakinannya untuk bertemu Rylee semakin besar saat memutuskan memilih negara barunya.
"Tolong sterilkan tempat ini!" pinta Rylee pada kedua bodyguard-nya.
Tanpa menunggu lama, orang-orang yang tidak penting itu segera disisihkan. Bukan maksud mengusir, tetapi lebih kepada privasi tuannya saja.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Abbey.
"Aku harus melakukan medical check up, Abbey. Kurasa setelah bertemu denganmu, tidak penting lagi diriku. Ayo, kita masuk ke ruangan dokter. Kamu sedang hamil dan itu anakku, kan?"
Abbey diam. Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan bahwa ini anaknya, tetapi tenggorokannya tercekat. Setelah mendapatkan pengakuan dari Rylee, bukan pengakuan lagi yang dipikirkan Abbey saat ini. Pasti ada penolakan dari keluarganya.
Di dalam ruangan, Rylee melihat ada sesuatu yang tumbuh di rahim Abbey melalui layar monitor. Seperti sebuah kekuatan baginya.
"Janinnya tumbuh dengan sehat. Usahakan selalu makan makanan bergizi dan melakukan kontrol rutin setiap bulan. Apalagi kondisi ibu bayinya gampang lemah," pesan dokter.
"Terima kasih, Dokter."
Rylee segera mendorong kursi roda itu keluar menuju ke mobilnya. Di sana sudah ada sopir pribadi yang menunggu. Awalnya sedikit terkejut, tetapi setelah wanita itu masuk ke dalam mobil, sopir segera melajukan mobilnya.
"Kamu tinggal di mana?" tanya Rylee pelan.
"Aku menyewa rumah tidak jauh dari rumah sakit ini."
"Nanti kita akan ke sana, tetapi saat ini kamu harus ikut aku dulu."
"Ke mana, Rylee?"
Rylee mengingat ucapan kakaknya kalau memang kamu mencintai orang lain, sebisa mungkin segera pertemukan dengan mama. Setelah itu, tunggu respon mama setuju atau tidak.
"Bertemu Mama."
"Untuk apa? Kurasa itu tidak penting lagi, Rylee."
"Untuk membicarakan pernikahan kita, Abbey. Aku tidak ingin anak itu lahir tanpa papanya."
"Aku takut, Rylee," ucap Abbey pelan.
__ADS_1
Jelas saja ada alasan yang ditakutkan Abbey. Walaupun Rylee mungkin menyukainya, tetapi tidak dengan orang tuanya.