Baby Berondongku

Baby Berondongku
Bab 47. Tidak Terima


__ADS_3

Setelah kenyang menikmati sarapan pagi seperti yang diinginkan, Abbey kembali menemui Rylee yang masih berada bersama kedua temannya. Mereka duduk di restoran yang berada di balkon lebih tepatnya.


"Kupikir kalian sudah masuk ke kamar," ucap Abbey.


"Belum. Kami membantu Rylee mencari tiket penerbangan untuk kalian," jawab Helen.


"Kupikir kita tidak akan pergi bersama. Kamu dan Rylee mendapatkan penerbangan siang hari. Sementara kami ... Eric mendapatkannya untuk pagi hari. Aku minta maaf," ujar Helen menggeleng pelan.


"Itu bukan menjadi masalah, Helen. Oh, ya, bagaimana dengan pernikahan Van? Maksudku, apakah kalian memang sudah benar-benar bercerai? Aku minta maaf untuk urusan yang satu ini. Aku harus memastikannya padamu," jelas Abbey merasa bersalah setelah menyebutkan nama pria brengsek itu di hadapan semua orang.


"Tidak masalah. Aku akan datang bersama Zaylin." Helen menundukkan kepalanya.


Sementara Rylee, dia malah menggenggam erat tangan istrinya di bawah meja. Tentu saja keduanya merasakan kesedihan yang dialami Helen saat ini. Walaupun yang mereka tahu bahwa Helen sangat kasar pada Abbey saat itu.


"Kurasa aku harus membuat Eric ikut dalam penerbangan ini," batin Abbey.


Mereka berbincang dengan sangat seru. Namun, saat obrolan mereka sudah melewati batas sebagai teman, tiba-tiba ponsel Helen berbunyi. Ada panggilan dari nomor asing yang Helen pikir itu adalah Van.


"Kenapa tidak kamu angkat, Helen?" tanya Abbey.


"Tidak penting, Abbey. Lebih baik kita nikmati kebersamaan ini. Oh, ya, kalau kamu tinggal bersama kami, aku akan jauh lebih senang lagi. Kita bisa membuat pertemuan semacam reuni," usul Helen.


"Pada akhirnya kamu akan memasukkan Thanos ke dalam lingkup pertemanan kita lagi, bukan?" tanya Zaylin yang sejak tadi terus saja bercanda tanpa jeda.


Mau bagaimana lagi? Helen, Zaylin, Thanos, dan Abbey. Mereka pernah mengalami sesuatu yang sangat menyakitkan. Apalagi kalau bukan kebersamaan yang harus mereka bangun di atas pertemanan itu sendiri.


"Zaylin, apakah kamu tidak ingin menikah lagi?" tanya Rylee tiba-tiba.

__ADS_1


Sontak hal itu membuat Abbey dan Helen memandang ke arahnya. Benar juga pertanyaan Rylee. Namun, Zaylin agaknya sulit mengakui bahwa dia sudah jatuh cinta pada Thanos. Tanpa sadar, dia juga merasa kasihan pada posisi pria itu.


"Aku hanya merekomendasikan Thanos untukmu," lanjut Rylee saat Zaylin tidak menjawab pertanyaannya.


Zaylin tertawa. "Atas dasar apa kamu menyebutkan nama pria menyedihkan itu?"


Rylee menarik tangan Abbey yang sedari tadi digenggamnya. Tentu saja untuk dipamerkan kepada kedua orang itu.


"Simpel saja. Kamu tidak ingin menggenggam tangan seseorang seperti ini? Setidaknya agar kamu tidak merasa kesepian. Aku memang tidak tahu bagaimana dirimu, tetapi aku yakin bahwa kamu juga membutuhkan seorang pria yang bisa memberikan komitmen dan sesuatu layaknya suami istri," jelas Rylee.


Abbey terharu. Terkadang dia melihat laki-laki di sampingnya itu seperti seorang anak kecil yang tidak tahu diri. Masih membutuhkan bimbingan semua orang dan menyebalkan.


"Rylee, jangan sudutkan Zaylin. Dia sudah menjadi janda sebanyak dua kali. Mungkin juga ada rasa kapok dalam menjalin hubungan dengan pria. Terutama para pria yang patah hati seperti Thanos," sahut Abbey.


Sebagai mantan terindah, Abbey tahu betul bagaimana sikap Thanos. Dia tidak akan mudah berpaling dari wanita yang dicintainya. Butuh ribuan jam untuk sampai pada titik terbaru dalam hidupnya.


"Kurasa tidak, Rylee. Thanos itu mantan Abbey. Jadi, aku tidak mungkin berbahagia di atas penderitaan orang lain." Zaylin mencoba untuk membohongi hatinya sendiri.


"Zaylin, aku sudah bahagia bersama Rylee. Aku juga ingin melihatmu berbahagia. Aku ingin melihatmu, Helen, dan semua teman-teman kita berbahagia. Aku sebentar lagi akan memiliki bayi. Sementara kalian, tentu saja aku berharap kalian bahagia," ucap Abbey membuat semua orang terharu.


Helen, Zaylin, dan Abbey. Mereka saling menggenggam tangan di atas meja tersebut. Bukti bahwa pertemanan mereka semakin baik-baik saja. Walaupun dulunya Helen adalah sosok yang sangat sombong saat menjadi istri bosnya di perusahaan.


"Helen, kamu harus kuat, ya. Kalaupun Van mengundang kita untuk datang ke pernikahannya, lebih baik kita datang. Jangan pernah kabur dari kami, ya! Kalau ada masalah, katakan saja! Aku tahu kalau kamu kecewa berat padanya," ucap Abbey.


Mata Helen berkaca-kaca. Wanita yang dia hina, rendahkan, dan permalukan, rupanya masih lebih baik ketimbang suaminya. Dia tidak bisa menahan air mata itu sehingga menetes di kedua sisi pipinya.


"Bersahabat selamanya!" ujar mereka bertiga.

__ADS_1


Hal itu membuat Rylee ingin mengabadikan momen itu dengan mengambil potretnya. Sangat hangat dan tidak ada perbedaan satu sama lain.


"Helen harus menjadi penyembuh luka kakakku," batin Rylee.


Sementara itu, Eric berada di dalam kamar. Sebenarnya ada penyesalan karena tidak bisa bersama dengan Abbey. Dia masih mengingat pertemuannya pada saat itu. Di mana keduanya bertemu di dalam kamar. Abbey mengungkapkan kejujuran secara tidak langsung bahwa ternyata dirinya sedang hamil.


"Keputusanku sudah tepat. Aku tidak akan lagi bertengkar dengan adikku hanya gara-gara wanita. Tentang Helen, aku tidak tahu tanggapannya serius atau bagaimana. Terserah saja. Lagi pula, dia juga masih proses perceraian. Tidak ada obat yang tidak menyembuhkan penyakit. Tinggal bagaimana manusianya meyakini dengan menanamkan pikiran positif."


Eric bersandar pada headboard ranjang. Dia memang sudah bertemu dengan mamanya, tetapi sedang tidak ingin membahas apa pun.


"Oh, ya, malam ini aku masih punya kesempatan bertemu dengan Helen dan Zaylin. Berikut kedua orang tua Abbey. Mungkin aku perlu memberikan hadiah kecil untuk mereka. Ya, setidaknya Helen juga terhibur di sini."


Eric sangat baik sekali. Di saat dia harus bangkit dari keterpurukannya karena melepaskan Abbey, justru dia harus menjadi penyemangat Helen yang sedang terpuruk. Begitu lucu kehidupan itu.


Dia mengambil ponsel untuk mencari kado yang cocok diberikan kepada Helen lebih tepatnya.


"Aku tidak pandai mencari kado untuk wanita, tetapi aku tahu sesuatu yang akan membuat wanita terkesan dan selalu ingin bertemu denganku. Ah, apa salahnya aku mencoba menjadi Rylee yang memiliki dua wajah. Terkadang seperti laki-laki yang teraniaya dan satunya lagi benar-benar badboy kelas kakap. Semoga saja Abbey tidak menyadari kenakalan adik bungsuku itu!" gumam Eric.


Dia beranjak dari ranjang untuk pergi ke suatu tempat. Namun, saat dia hendak menapaki anak tangga pertama, suara mamanya mengejutkan.


"Kamu mau ke mana? Ingin menemui wanita itu? Wanita yang belum kamu kenal asal-usulnya?"


Eric berhenti. Dia menoleh ke arah mamanya. Dia merasa tidak terima Helen di sudutkan seperti itu.


"Semakin Mama mencoba menghalangiku, aku akan melakukan apa yang dilakukan Rylee pada Abbey. Itu akan jauh lebih terhormat ketika wanita itu bisa hamil anakku!" tegas Eric. Ini pertama kalinya dia menjadi pembangkang di hadapan mamanya.


__ADS_1


__ADS_2