
Tak terasa sudah empat kali Siti mengikuti gym. Ia bersyukur lemak-lemak di tubuhnya sudah berkurang. Jika lemak Siti berkurang maka berbeda dengan keuangannya, keuangan Siti yang mulai stabil berniat mengirim uang dan beberapa barang keperluan keluarganya.
Beberapa hari lagi juga Tini kan melangsungkan lamaran. Siti tak pulang, ia bertekad tak akan pulang sebelum ia banyak uang dan juga berbadan seksi seperti keinginannya agar bisa membungkam mulut tetangganya dan juga adiknya.
Ia membuka buka ponselnya memilih barang yang sekiranya dibutuhkan oleh kedua orang tua dan adiknya. ia membeli beberapa baju untuk bapak ibunya dan juga Tini beserta calon adik iparnya untuk acara lamaran. Tak lupa ia membeli alat untuk mempermudah ibunya membuat kue. Setelah itu Siti mengirim uang melalui rekening saudaranya. Siti bernafas lega, untuk pertama kalinya Siti bisa membelikan sesuatu yang berarti untuk keluarganya.
"Wih berat badan kamu berkurang banyak deh Ti kayaknya. Udah lebih kurus." Ucap Dahlia memandangi Siti dari atas hingga bawah.
"Alhamdulillah Bu, berat badan saya udah 60kg. Kurang 10kg lagi. Terimakasih bu, sudah banyak bantu saya. Saya bersyukur kenal dengan Bu Dahlia." Ucapnya bersyukur
"Biasa aja Ti, yang penting kamu semangat, dan kamu jangan insecure sama diri sendiri. Kamu harus bangga dengan apa yang kamu miliki. Nanti kalau udah langsing dijaga terus makannya ya, olahraga jangan lupa." Pesan Dahlia pada Siti.
"Pasti Bu, untuk sampai di titik ini saya harus jungkir balik dulu. Jadi sebisa mungkin saya akan jaga berat badan saya."
**
Beberapa hari kemudian barang yang dikirim Siti sampai rumah. Bu Lastri dan pak Rusdi membuka semua paket yang tersimpan rapat di sebuah kotak.
"Ya Allah pak, Siti beli baju buat kita semua. Ini lihat, baju kembaran pak. Ini pasti untuk acara lamaran Tini besok." Ucap Bu Lastri sumringah
Setelah itu Bu Lastri membuka paket yang satunya, ia berteriak kegirangan lantaran paket yang baru saja ia bongkar isinya adalah beberapa macam cetakan kue dengan jumlah yang banyak dan beragam bentuknya.
"Ya Allah pak, uang Siti buat membahagiakan kita begini. Coba telepon dia pak, kebutuhan dia bagaimana kalau uangnya buat kita begini. Baru kemarin Siti kirim uang terus sekarang kirim barang begini." Pinta Bu Lastri
__ADS_1
"Iya Bu, bapak coba telepon Siti ya. Mudah-mudahan dia sudah istirahat." Ucap pak Rusdi menekan nekan ponsel jadulnya
Tak lama kemudian suara Siti terdengar dari seberang.
"Ti, barang yang kamu kirim sudah sampai. Uang yang kamu kirim ke bibi kamu juga udah dikasih. Kamu kok kirim-kirim terus, kebutuhan kamu bagaimana nak?" Tanya Bu Lastri khawatir
"Ibu tenang aja. Aku ada kok buat kebutuhan pribadi aku, nggak usah pikirin aku Bu. Bapak sama ibu kalau pengen sesuatu bilang sama aku ya. Kalau aku bisa pasti aku turuti kok. Gimana bajunya? Ibu sama bapak suka?" Tanya Siti
"Suka nak, ibu sama bapak sangat suka. Yang punya Tini sama Haris belum ibu kasihkan, Tini belum pulang kerja. Makasih ya nak, kamu selalu bisa bahagiakan ibu sama bapak." Ucap Bu Lastri menahan tangisnya
"Ibu, udah kewajiban aku membahagiakan ibu dan bapak. Maaf ya Bu, aku nggak bisa pulang dalam waktu dekat. Aku nggak bisa ninggalin anak asuhku." Ucapnya beralasan
"Iya nak nggak apa-apa. Ibu sama bapak ngerti kok. Nanti kalau ada waktu luang kamu pulang ya. Anak ibu pasti sekarang udah cantik." Ucap Bu Lastri membayangkan anaknya yang jauh di sana.
"Ya sudah kamu istirahat, ibu sama bapak juga mau istirahat. Jaga ibadah, jaga kesehatan dan jaga diri." Ucap Bu Lastri di setiap ia ngobrol dengan Siti melalui udara.
Tak lama setelah obrolan Bu Lastri dengan Siti usai, Tini terdengar pulang dari toko.
"Tin, ini ada baju dari mbakmu buat lamaran besok ini ada buat Haris juga. Kamu bisa kasih ke dia besok pagi." Ucap Bu Lastri memberikan baju yang masih berada dalam plastik.
Tini menerimanya dengan ragu, antara menerima dan tidak. Jika dilihat sekilas nampak wana baju yang cantik dan cocok dengan kulitnya yang putih. Dengan malas Tini akhirnya menerima baju itu, ia tak yakin jika model baju ini bagus seperti yang ia bayangkan. Mungkin hanya warnanya saja yang cantik, pikir wanita itu.
"Tadi ibu sama bapak juga dapat. Nih." Bu Lastri menjereng baju miliknya yang berwarna senada dengan milik pak Rusdi.
__ADS_1
Tini nampak terperangah, warna dan juga model milik bu Lastri bagus dan sesuai dengan usianya. Namun sedetik kemudian Tini geleng kepala lantaran ia sudah memuji Siti dalam hati.
"Bagus Bu." Ucap Tini lalu masuk kamar
Tini dengan cepat membuka plastik yang ia bawa, ia menjereng baju yang dari warnanya terlihat cantik. Seketika mata dan mulut Tini membulat sempurna.
"Astaga, ini baju bagus banget. Ya ampun kainnya bagus juga. Bagus juga selera wanita itu, nggak nyangka aku." Ucap Tini mengagumi baju yang berada di tangannya.
*
Pagi itu Siti yang mendapati satu jerawat baru di wajahnya ia nampak sibuk berdiri di depan cermin yang berada di ruang tengah. Dahlia yang kebetulan melintas menghampiri Siti.
"Kenapa ti?" Tanyanya
"Ini Bu, ada jerawat baru di wajah saya, padahal jerawat yang lama sudah mulai hilang. Eh ini ada lagi satu." Keluh Siti memperlihatkan jerawat yang nampak memerah dan besar.
"Itu aja, kamu niat banget ya mau merubah segalanya. Saya punya rekomendasi cream yang bagus buat kamu. Nanti saya coba cek ke salon langganan saya ya. Mudah-mudahan masih ada."
"Nggak usah Bu, saya jadi ngerepotin ibu." Ucapnya tak enak hati.
"Nggak, nggak repot kok. Udah santai aja. Saya kerja dulu ya. Jangan dipikir itu jerawat satu malah beranak nanti." Ucap Dahlia tertawa pelan.
"Harus pakai apa aku balas kebaikan keluarga ini? Cuman bisa pakai doa kayaknya." Gumam Siti meninggalkan cermin besar itu.
__ADS_1
Bersambung