
Reyhan masih berada di luar kamar saat jam menunjukkan pukul 10 malam. Reyhan tak pernah begini sebelumnya, hal itu membuat Siti gusar. Akhirnya ia memutuskan keluar kamar untuk mencari suaminya.
Begitu sampai di lantai bawah Siti melihat tv yang berada di ruang keluarga tengah menyala. Ia berjalan menuju ruangan itu. Matanya menangkap sosok Reyhan yang tengah tertidur di sofa panjang. Melihat itu Siti jadi berpikir yang tidak-tidak. Apa karena ia membela Mawar, suaminya jadi semarah ini? Pikir Siti
"Mas, bangun. Kenapa kamu tidur disini?" Ucap Siti menggoyang goyangkan tubuh Reyhan
Beberapa lama kemudian Reyhan nampak membuka matanya perlahan.
"Kenapa?" Tanya Reyhan begitu melihat Siti di depannya
"Kok kenapa? Kamu yang kenapa, ngapain kamu tidur disini?" Tanya Siti berlutut di depan wajah suaminya
"Oh aku nggak sengaja ketiduran tadi." Jawab Reyhan seraya bangkit untuk duduk
Siti melihat ada hal lain yang di sembunyikan oleh suaminya
"Kamu marah sama aku?" Tanya Siti duduk disebelah Reyhan
"Marah kenapa?"
"Soal Mawar."
"Aku nggak marah, sedikit kesal aja. Kamu nggak tahu seberapa panik dan khawatirnya aku mendengar kamu di culik. Tapi kamu dengan mudahnya meminta aku buat mencabut tuntutan Arga." Ucap Reyhan menatap tv di depannya
"Maaf. Aku nggak akan maksa kamu lagi buat cabut tuntutan itu. Maaf kalau tadi aku mengabaikan perasaan kamu." Ucap Siti merangkul suaminya
"Iya nggak apa-apa. Aku paham kamu berpikir dari sudut pandang Mawar, tapi kesalahan tetaplah kesalahan. Aku sudah memaafkan Arga, tapi bukan berarti hukum tidak berjalan."
Dua Minggu kemudian persidangan Arga mengenai penculikan Siti sudah dibuka dengan tuntutan hukuman 12 tahun penjara sesuai dengan undang-undang pasal 328 KUHP. Tentu saja itu membuat orang tua Arga keberatan lantaran hukumannya terlalu lama. Pengacara dan juga keluarga Arga mengajukan banding terhadap tuntutan itu.
Memang hal yang dilakukan Arga adalah tindakan kriminal namun karena korban tidak menerima kekerasan dan juga penculikan tidak lebih dari 24 jam maka banding dari keluarga Arga di terima. Dengan demikian Arga harus menjalani masa hukuman tiga tahun penjara.
Arga yang sudah pasrah sudah tak melakukan apapun lagi untuk membela dirinya sendiri di depan keluarganya maupun Reyhan. Ia sadar ia salah dalam hal ini. Beruntung Reyhan tak keberatan dengan banding yang diajukan oleh keluarga Arga.
__ADS_1
Reyhan dan Siti keluar dari ruang persidangan karena hasil keputusan sudah keluar dan persidangan sudah usai.
"Rey." Panggil Arga
Reyhan dan Siti menoleh ke sumber suara. Mereka melihat Arga yang di borgol dan diapit oleh kedua polisi. Arga berjalan mendekati Reyhan dan Siti yang mematung di tempat.
"Rey aku minta maaf. Aku sadar aku sudah salah, tidak seharusnya aku melibatkan siapapun dalam urusan ini. Aku mau bilang terimakasih karena sudah membiarkan keluarga ku untuk mengajukan banding dan kau tidak keberatan dengan masa hukumanku yang hanya tiga tahun." Arga berhenti sejenak untuk mengambil nafas lalu berucap, "dan buat kamu Siti aku minta maaf sudah melakukan tindakan kriminal ke kamu. Terimakasih sudah membuka pikiranku untuk menerima dan fokus pada apa yang sudah aku dapatkan. Sekali lagi aku minta maaf dan terimakasih pada kalian." Ucap Arga dengan tulus. Ia sudah bertekad untuk benar-benar berubah.
"Iya Ar. Tujuan aku mengirim mu kesini bukan untuk dihukum seberat-beratnya. Aku hanya ingin kau jera dengan apa yang sudah kau lakukan. Aku hanya ingin kau berubah, jadilah saudara ku yang dulu Ar." Ucap Reyhan menepuk pundak Arga beberapa kali.
"Aku janji aku tidak akan merebut apapun lagi darimu. Kita akan kembali seperti masa remaja kita setelah aku keluar dari sini. Masa remaja yang selalu membuat ulah bersama dan saling melindungi jika kita dalam masalah." Ucap Arga terkekeh namun matanya berkaca-kaca
"Aku akan menunggumu." Ucap Reyhan tersenyum lalu pamit untuk pulang
Setelah kepergian Reyhan dan Siti, Mawar berjalan mendekati calon suaminya untuk memberi kekuatan
"Mas, aku pulang dulu ya. Aku akan berkunjung kesini setiap hari." Ucap Mawar berkaca-kaca
Melihat itu membuat Arga semakin sakit saja, "iya. Jaga kesehatan kamu ya. Aku titip mama sama kamu. Mama sedikit cerewet jadi jangan diambil hati kalau mama lagi ngomel sepanjang hari. Memang begitu orangnya." Ucap Arga mencoba mencairkan suasana
"Mama harap ini yang pertama dan terakhir kali kamu masuk sekolah sini ya Ar." Ucap ibu Arga yang entah kapan datangnya. "Kita pulang War. Besok kita balik lagi kesini." Ajak ibu Arga
Tak terasa dua bulan sudah berlalu. Kandungan Siti yang sudah 9 bulan lebih belum menampakkan tanda-tanda akan melahirkan. Siti dibuat khawatir dengan bayi yang dalam kandungannya mulai terasa tidak terlalu aktif bergerak lagi seperti beberapa bulan lalu. Kekhawatiran Siti semakin berlipat ganda setelah melihat hari perkiraan lahir sudah lewat.
Pagi ini mereka akan ke rumah sakit untuk kembali memeriksakan Siti dan kandungannya.
"Udah Ti, kamu jangan kepikiran apa-apa. Mama takut nanti tensi kamu naik dan itu pengaruh juga ke janin. Mikir yang baik-baik ya. Mama bantu doa dari sini mudah-mudahan nggak ada apa-apa dan semua baik-baik saja. Hubungi mama kalau ada apa-apa ya." Ucap Bu Lia pada anak menantunya.
"Iya ma. Aku minta maaf ya ma, kalau aku banyak salah ke mama." Ucap Siti tiba-tiba
"Iya nak, udah kalian berangkat. Hati-hati ya." Ucap Bu Lia yang merasa sejak tadi tak enak hati
Reyhan yang sejak tadi diam juga merasakan hati yang tak enak. Entah apa penyebabnya ia merasa seperti mengkhawatirkan sesuatu. Ia merasa akan seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Beberapa kali ia berusaha membuang pikiran itu.
__ADS_1
"Ayo mas." Ucap Siti membuyarkan lamunan Reyhan
"Iya sayang. Ma kita berangkat ya."
Setelah membelah jalanan selama 15 menit mereka sampai di rumah sakit. Reyhan yang sudah membuat janji dengan dokter Sindi langsung saja membawa Siti ke dalam ruangannya.
"Wah ini sudah lewat tiga hari dari hari perkiraan lahir ya Bu. Mari berbaring biar saya cek kondisi bayinya." Ucap dokter Sindi
Siti berbaring dan melihat ke layar monitor yang nampak bayinya tumbuh dengan sehat dan gemuk.
"Bu seharusnya ini sudah waktunya lahir ya. Karena tidak ada tanda-tanda pembukaan jalan lahir maka saya akan memberikan obat perangsang agar jalan lagi segera terbuka. Ini air ketuban juga sudah berkurang jadi kita harus ambil tindakan ini." Jelas sang dokter
Siti dan Reyhan yang awam soal ini hanya menurut apa kata dokter Sindi. Tak lama kemudian Siti di bawa ke ruangan khusus yang di peruntukan bagi ibu yang akan melahirkan. Setalah di pasang infus dan menyuntikkan obat perangsang dokter Sindi ijin untuk keluar ruangan.
"Bu, jika nanti ibu merasakan sensasi untuk mendorong tolong tahan ya Bu. Tunggu saya datang." Ucap Bu Sindi memberi arahan
Nampak wajah Siti yang sangat gugup bercampur resah dan juga gundah. Entah mengapa ia sangat takut terjadi apa-apa dengan bayinya.
"Sayang. Jangan gugup ok, jangan mikir yang nggak-nggak. Ingat kata mama nanti akan pengaruh juga ke bayi kita." Ucap Reyhan menenangkan istrinya.
"Kamu nggak ngasih tahu mama mas? Kan aku harus lahiran hari ini."
"Iya aku telepon mama sekarang."
Satu menit, satu jam, setengah hari sudah Siti habiskan di rumah sakit namun sepertinya tak ada tanda-tanda pembukaan jalan lahir yang signifikan. Karena sejak pagi tadi tak ada pembukaan yang berarti dokter memutuskan untuk mengeluarkan bayi Siti dengan proses operasi Caesar.
"Dok tensi pasien sedikit tinggi." Ucap salah satu suster.
"Nggak ada jalan lain sus. Kita harus mengeluarkan bayinya sekarang. Beri obat yang di perlukan. Jangan lupa beri obat bius total." Titah dokter Sindi menyiapkan operasi.
"Maaf ibu, hanya ada satu orang yang boleh menemani pasien. Ibu bisa keluar dulu sebentar." Ucap suster memberi tahu Bu Lia
Tanpa pikir panjang Bu Lia segera keluar ruangan. Semua orang yang berada di dalam ruangan nampak panik membuat Bu Lia ikut panik.
__ADS_1
Reyhan sejak tadi diam hanya menatap istrinya yang sudah tidak sadarkan diri. Entah karena apa pikiran dan hatinya semakin tak karuan.
Bersambung