
"Istriku." Panggil Reyhan masih menggoda Siti yang tengah menghapus make up dengan tisu basah.
Merasa kesal karena terus menerus di goda Siti menimpali godaan Reyhan.
"Iya suamiku." Jawab Siti dengan ekspresi menggoda
Reyhan berjalan mendekati Siti yang duduk di depan meja rias. Ia duduk lesehan dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Sayang, selain sering cuci tangan kamu harus sering cuci kaki." Ucap Reyhan mengelus kaki Siti
"Kenapa?"
"Karena ada surga untuk anak-anakku di sana."
Siti hanya menghembuskan nafas kasar. "Tidur yuk." Ajak Siti
"Nggak mau. Minum susu dulu." Rengek Reyhan
"Ya kan minumnya di atas kasur." Ucap Siti mengalungkan tangannya di leher Reyhan
Pria itu tak tahu apa yang membuat Siti seperti menggodanya. Namun pria itu tak mau membuang waktu dengan memikirkan hal yang tak penting itu. Ia langsung mengangkat Siti ke dalam gendongannya dan meletakkannya di atas kasur berukuran sedang yang berada di kamar Siti.
Saat meletakkan Siti ranjang kasurnya sedikit mengeluarkan bunyi.
"Kok bunyi? Kalau gini ya bisa berisik kita nanti yang. Ketahuan orang-orang dong kalau kita lagi anu-anu."
"Tantangan buat kamu mas, gimana caranya biar nggak berisik, gimana caranya biar nggak ketahuan kalau kamu lagi...." Siti tak melanjutkannya ucapannya karena bibirnya sudah masuk ke dalam sesuatu milik Reyhan.
Seperti biasa, Siti selalu membalas peraduan itu dengan cepat. Tak mau berlama-lama di sana, Reyhan beralih pada doble meat milik Siti. Ia sungguh terpukau dengan benda di depannya, selama ini ia hanya bisa melihatnya dibalik pakaian Siti.
Reyhan langsung membenamkan kepalanya ke doble meat itu, sesekali menyesapnya dan menciptakan karya di sana. Siti yang sudah tak tahan beberapa kali terdengar mengeluarkan suara mautnya yang berhasil membuat Reyhan semakin kegerahan. Pria itu melucuti semua pakaiannya dan pakaian istrinya. Ia lempar kebawah.
Terlihat mangkok terbelah Siti yang ternyata sangat menantang adrenalin Reyhan. Tak mau hanya membayangkan, pria itu kembali menenggelamkan kepalanya di mangkok terbelah Siti yang sudah basah. Siti yang tak tahan menjambak rambut pria itu berkali-kali.
Sekarang saatnya, pikir pria itu. Ia sudah menyiapkan diri untuk merasakan mangkok terbelah Siti, pelan namun pasti ia berusaha memasukkan sendok miliknya ke dalam mangkok itu. Setelah beberapa kali dorongan akhirnya sendok itu berhasil masuk setengah, bersama dengan itu tiba-tiba Siti berteriak
"Aduh mas sakit." Teriak Siti
__ADS_1
Reyhan yang terkejut langsung membungkam mulut Siti dengan tangannya. "Jangan kenceng-kenceng sayang. Aku udah usaha biar nih ranjang nggak berisik malah kamu yang berisik." Protes Reyhan
"Maaf, ini sakit mas." Keluhnya.
"Awalan ya gini sakit. Lama-lama juga nggak. Aku jamin ketagihan ntar." Ucap Reyhan kembali fokus pada sendoknya.
"Pelan-pelan." Pinta Siti
"Iya sayang pelan." Jawab Reyhan masih fokus dengan mangkok dan sendok.
Reyhan kembali mendorong sendoknya dengan sekuat tenaga agar bisa segera masuk seluruhnya. Siti meringis menahan sakit dan perih. Setelah seluruh sendok sukses masuk ke dalam mangkok Siti, Reyhan Menaik turunkan sendoknya dengan ritme yang lambat. Siti yang semula kesakitan sekarang merasa keenakan.
Suara-suara lengkuhan Siti membuat Reyhan semakin di awan. Siti pun sama, ia dibuat terbang oleh Reyhan. Melakukannya untuk pertama kali ternyata tak mampu membuat Reyhan menunda puncaknya, setalah 15 menit menenggelamkan sendoknya ke dalam mangkok, Reyhan sudah mengeluarkan suara kepuasan bersamaan dengan menggelinjangnya Siti. Peluh yang menetes di setiap kulit menjadi saksi satu-satunya penyatuan mereka yang ditemani dengan deritan ranjang.
Reyhan merebahkan tubuhnya di samping Siti. Ia masukkan tubuhnya dan juga tubuh Siti ke dalam selimut. Ia memeluk istrinya dengan nafas naik turun dengan cepat.
"Capek?" Tanya Reyhan
Siti hanya mengangguk. "Perih mas." Keluhnya.
"Niatnya aku mau lagi sebenarnya." Ucap Reyhan mengatupkan mulutnya
"Nggak boleh nolak suami sayang." Ucap Reyhan kembali membenamkan kepalanya di doble meat Siti
*
Siti merasa tubuhnya seperti sehabis dipukuli orang sekampung. Rasa pegal dan sakit seluruh tubuh kini ia rasakan. Ia melihat Reyhan yang masih terlelap dalam selimut yang sama dengan dirinya. Siti mengulas senyum mengingat pergulatannya semalam. Ia memandang lekat wajah Reyhan yang sedang tertidur, masih tampan meskipun tidur dengan mulut sedikit terbuka.
Tak mau menganggu istirahat sang suami, Siti perlahan turun dari ranjang menuju ke kamar mandi.
"Aduh." Pekik Siti saat ia berusaha berjalan.
Suara yang diciptakan Siti membuat Reyhan terjaga. Ia melihat Siti yang sedikit membungkukkan badan.
"Kenapa?" Tanya Reyhan menghampiri sang istri.
"Sakit." Keluhnya.
__ADS_1
"Ya udah duduk dulu."
Siti menurut, ia kembali duduk dengan menahan nyeri.
"Sakit banget." Tanya Reyhan
"Iya, tapi nggak apa-apa. Aku mau mandi dulu mas. Bau." Ucap Siti berusaha bangkit
Pukul 8 pagi Reyhan Reyhan dan Siti baru akan sarapan, sedangkan yang lain sudah sarapan lebih dulu.
"Ti, ibu buka toko dulu ya." Pamit bu Lastri pada anaknya
"Istirahat dulu bu. Kemarin kan habis acara, nggak capek?" Tanya Siti
"Nggak nak. Ibu nggak capek. Udah kalian lanjutkan sarapannya, ibu sama Tini berangkat." Ucap Bu Lastri meninggalkan Siti dan Reyhan di meja makan.
"Bapak mana? Kok sepi?" Tanya Reyhan
"Mungkin lagi ngojek. Bapak udah aku suruh istirahat aja di rumah bandel banget." Keluh Siti
"Biasanya orang kalau kebiasaan beraktivitas terus nganggur ya begitu, pasti bosan. Contohnya kamu." Sindir Reyhan
Siti tak menjawab, ia sibuk memindahkan nasi ke dalam piring beserta lauk pauk dan teman-temannya untuk disajikan pada reyhan.
"Kamu kalau pagi gini biasanya minum apa mas?" Tanya Siti
"Susu." Jawab Reyhan singkat
"Aku nanya serius mas. Jangan bercanda ah." Protes Siti
"Ya serius sayang. Aku setiap pagi minum susu sama jahe."
"Ya tadi kenapa jawabnya susu doang. Kenapa nggak bilang susu jahe aja dari awal, aku kan jadi salah paham." Protes Siti lagi
Reyhan hanya tertawa kecil. "Oh ya, kalau nanti kita udah di Jakarta, sarapannya nggak pakai nasi yang. Kita biasa pakai roti sama susu aja. Jadi kamu nggak perlu repot bangun pagi-pagi. Ada asisten rumah tangga di sana. Kamu nggak ada kewajiban buat bersih-bersih rumah, nyuci, nyapu ngepel dan lain sebagainya. Tugas kamu melayani aku aja." Ucap Reyhan panjang lebar
"Melayani itu bukan cuma di ranjang aja mas. Tapi kebutuhan terkecil kamu juga. Kayak nyuci itu harusnya bukan tugas asisten rumah tangga lagi, tapi aku. Aku nggak mau ya nanti kalau kita udah balik Jakarta baju-baju kamu di cuci sama asistem rumah tangga."
__ADS_1
"Iya sayang iya." Ucap Reyhan menurut
Bersambung