
Satu Minggu sudah Siti dan Reyhan menjadi sepasang suami istri. Mereka baru saja tiba di Jakarta, lebih tepatnya di rumah Bu Lia. Reyhan memang sengaja tak membuat rumah baru lantaran Bu Lia yang tak mau di tinggal oleh anak bungsunya. Siti pun tak keberatan jika harus serumah dengan mertuanya, baginya sama saja mau tinggal di manapun, asal bersama dengan sang suami.
"Sayang, kamu nggak langsung kerja kan?" Tanya Reyhan pada Siti yang tengah memasukkan baju ke dalam lemari.
"Nggak mas. Masih ada waktu tiga hari buat cuti. Kenapa?" Tanya Siti yang berhenti sejenak dari aktivitasnya lalu melanjutkannya kembali
"Nanya aja. Jangan lupa sama janjinya ya." Ucap Reyhan mengingatkan
"Nggak mas. Aku nggak akan lupa, aku akan selalu ada di saat kamu berangkat dan pulang kerja, aku akan selalu melayani kamu sebaik baiknya." Ucap Siti duduk disebelah Reyhan seraya menggenggam tangannya.
Tak lama kemudian terdengar suara asisten rumah tangga yang memberi tahu bahwa makan malam sudah siap. Mereka turun setelah pemberitahuan itu.
Siti melayani Reyhan dengan telaten, ia menyiapkan segala sesuatunya untuk makan malam sang suami.
"Kamu masih kerja Ti?" Tanya Bu Lia
"Masih ma. Ada apa ya?" Tanya Siti merasa ada yang mengganjal dengan pertanyaan ibu mertuanya
"Nanya aja. Jangan capek-capek ya, mama mau gendong bayi lagi. Udah lama mama nggak gendong." Ucap Bu Lia yang membuat Siti sedikit lega.
"Iya ma. Mudah-mudahan di kasih cepat sama yang di atas." Ucap Siti yang di aamiinkan oleh semua orang yang berada di meja makan.
Satu tahun kemudian
Hari ini adalah tepat hari jadi Siti dan Reyhan untuk yang pertama. Mereka merayakannya dengan makan malam romantis di sebuah cafe. Mereka hanya merayakannya berdua, ya hanya berdua.
__ADS_1
Memasuki usia satu tahun pernikahan Siti belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Padahal tak ada masalah dalam kesuburan sepasang suami istri itu.
Selama setahun ini tak ada yang berubah dari Siti. Ia berusaha menepati janjinya untuk menjadi istri yang baik, sesuai dengan yang diinginkan oleh Reyhan. Siti tak pernah menolak jika Reyhan mengajak untuk berhubungan badan meskipun ia sedang lelah lelahnya, Siti selalu pulang tepat waktu, Siti tak pernah keluar rumah seorang diri tanpa Reyhan, semuanya ia lakukan demi membahagiakan sang suami. Namun nampaknya pelayanan Siti belum cukup bagi Reyhan.
"Sayang." Panggil Reyhan pada Siti seraya menggenggam tangannya
"Iya kenapa?" Tanya Siti memandang lekat wajah suaminya
"Kamu berhenti kerja ya. Biar kita punya momongan." Ucap Reyhan dengan nada sepelan dan sehalus mungkin
"Mas berpikir kalau aku belum hamil karena aku kerja?" Tanya Siti
"Aku nggak mau kamu capek-capek. Kan kamu juga dengar sendiri ucapan dokter Sindi beberapa waktu lalu. Kalau kamu kecapaian kamu akan susah hamil."
"Kenapa sih kamu susah banget kalau aku suruh berhenti kerja. Tolonglah kali ini aja, kamu coba berhenti. Kalau kamu mau kesibukan aku bersedia buatin kamu butik. Kenapa sih kamu masih kekeh mau buka usaha pakai uang kamu sendiri? Terus artinya kita nikah apa? Apa artinya ini semua buat kamu?" Ucap Reyhan memohon
"Mas yang namanya momongan itu rezeki dari yang mahakuasa. Ya kalau kita belum dikasih, itu artinya memang Tuhan belum kasih ijin, kita belum di percaya untuk merawat anak." Ucap Siti tak mau kalah
Reyhan sudah tak mampu menahan emosinya. Ia sudah berusaha sabar untuk menunggu selama satu tahun, namun Siti nampaknya tak memikirkan keinginan Reyhan itu. Ia hanya meminta Siti untuk berhenti bekerja, namun selalu mendapat penolakan dari sang istri.
"Aku kurang sabar apa sama kamu? Setahun aku nunggu, setahun Siti. Itu bukan waktu yang sebentar. Tidak seharusnya aku memberimu ijin untuk bekerja setelah menikah." Ucap Reyhan sedikit keras.
"Kamu bentak aku mas? Hanya karena aku belum hamil? Karena aku kerja jadi kamu berpikir aku nggak bisa hamil?" Ucap Siti berkaca kaca. "Baik, aku akan berhenti bekerja hari ini juga. Mulai besok aku akan bilang sama mbak Yurike kalau aku mau resign. Udah puas kamu?" Ucap Siti tak kalah keras.
Reyhan menggeret Siti keluar dari cafe dan membawanya ke mobil. Emosi Reyhan yang masih di ubun-ubun melajukan mobilnya dengan sekencang kencangnya. Siti merasa tubuhnya bergetar, ia sangat ketakutan melihat Reyhan yang kesetanan.
__ADS_1
"Mas aku mohon pelan-pelan mas." Pinta Siti
Reyhan tak menggubrisnya.
"Mas pelan aku bilang. Aku akan lompat kalau kamu nggak denger kata aku." Ucap Siti ketakutan dengan suara tersedu sedu.
Reyhan yang mendengar suara Siti seketika mengurangi kecepatan laju mobilnya. Ia berhenti di tepi jalan kalau mengusap kasar wajahnya.
"Kamu ini kenapa sih? Aku tahu mungkin semua salahku kita belum punya anak. Tapi kamu jangan buat aku begini mas. Meski aku nggak kerja, tapi kalau kamu terus merongrong aku soal keturunan, apa kamu pikir aku langsung hamil gitu?" Ucap Siti semakin menangis. "Kamu berubah mas." Ucap Siti lagi lalu keluar dari mobil dan berlari.
Reyhan yang melihat itu seketika melompat dari mobil dan mengejar Siti. Terlihat wajah Siti yang kacau saat itu. Melihat itu Reyhan merasa bersalah dan berusaha minta maaf
"Maaf, aku nggak bermaksud buat merongrong kamu soal anak. Aku hanya ingin kamu..."
"Berhenti kerja." Potong Siti cepat. "Iya mas aku akan berhenti kerja. Aku turuti keinginan kamu, tapi tolong jangan ingatkan aku soal ini. Kamu pikir dengan aku nggak kunjung hamil itu nggak beban buat aku? Beban mas. Hal ini sangat membebani aku. Apalagi kita tinggal sama orang tua. Jadi aku tuh nggak mudah mas. Meskipun keluarga kamu terima aku apa adanya, tapi tetap beban buat aku kalau aku nggak hamil-hamil. Kamu tahu mas? Aku sampai mengonsumsi obat kesuburan demi aku segera dapat anak. Aku kelihatannya aja kuat, nggak mikir soal anak, tapi hati aku sakit mas, hati aku sedih aku nggak hamil-hamil." Ucap Siti dengan isakan seraya menunjukkan sebuah botol kecil berisi obat kesuburan
Reyhan terperangah. Selama ini apa saja yang ia lakukan sampai tak tahu apa yang dirasakan oleh istrinya. Reyhan berpikir selama ini ia sudah memberikan apapun yang terbaik untuk sang istri, namun malam ini ia baru sadar bahwa sang istri yang terlihat selalu bahagia seakan tanpa beban, justru ia menanggung beban berat itu sendirian. Ia merasa tak berguna saat itu juga, ia merasa dirinya sangat bodoh tak bisa memahami perasaan Siti.
Seharusnya ia sadar, sebaiknya apapun seorang mertua akan tetap menjadi beban tersendiri bagi menantu. Akan ada hal yang membuatnya sungkan untuk mengungkapkan atau melakukan sesuatu. Nyatanya ia sampai harus sembunyi sembunyi untuk melakukan hal ini.
Reyhan membawa Siti ke dalam dekapannya. Pundaknya bergetar hebat saat kepalanya berada di dada Reyhan.
"Maafkan aku sayang." Ucap Reyhan lirih
Bersambung
__ADS_1