Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
59. Ayah


__ADS_3

Siti berjalan mendekati suaminya dengan takut dan sedikit menunduk. Melihat itu Reyhan menjadi tak tega untuk marah pada istrinya.


"Maaf aku pulang terlambat," ucap Siti saat di depan suaminya


"Kamu mandi dulu, habis itu makan malam aku tunggu di meja makan," titah Reyhan


Siti mengangguk, tanpa menunggu apapun lagi Siti berjalan dengan cepat ke kamarnya untuk membersihkan diri. Ia tak mau membuat suaminya bertambah marah karena lama menunggunya untuk makan malam.


Tak ada percakapan apapun di meja makan, hanya suara dentingan sendok dan piring yang tengah beradu di heningnya malam itu.


"Sean biar sama mama dulu ya, kita bicara di kamar. Ma aku nitip Sean sebentar ya," ucap Reyhan pada Siti dan ibunya secara bergantian


Bu Lia hanya mengangguk, "bicara yang baik Reyhan, jangan pakai amarah," pesan Bu Lia


Reyhan melangkah ke atas setelah memberi anggukan pada ibunya.


Sepasang suami istri itu kini tengah duduk berdampingan di tepi ranjang dengan Reyhan menghadap sang istri


"Aku minta maaf mas," ucap Siti yang entah ke berapa


"Aku begini buat kamu juga kok. Aku nggak mau kamu kelelahan terus sakit. Kamu pernah dengar kata-kata jika seorang ibu sakit maka seisi rumah akan kacau, pernah kan. Kamu juga harus memikirkan kesehatan kamu, Sean masih butuh kasih sayang, waktu dan juga perhatian dari ibunya. Apalagi dia juga masih asi, jangan karena kesibukan kamu terus kamu lupa semuanya. Lupa sama tugas kamu sebenarnya sebagai seorang wanita. Aku melarang kamu menggambar pola tengah malam bukan berarti kamu lembur di butik," jelas Reyhan panjang lebar


Siti semakin menundukkan kepalanya, ia tersadar selama ini ia lupa dengan kesehatannya sendiri. Selalu Reyhan yang mengingatkan untuk makan, tidur dan istirahat.


"Iya maaf, aku janji nggak akan mengulanginya lagi," hanya itu yang mampu keluar dari mulut Siti


"Cobalah untuk menepati janji itu. Aku akan memaafkan mu kali ini, tapi jika ini terjadi lagi. Aku sendiri yang akan jual butik itu," Reyhan memperingatkan

__ADS_1


Siti mendongakkan kepalanya seketika, ia tak menyangka kesalahannya ini akan berbuntut pada peringatan yang akan menghancurkan salah satu mimpinya. Ia sadar ia salah, tapi kenapa harus sejauh itu, pikir Siti


"Ini yang pertama dan terakhir," jawab Siti


Sejak kejadian itu, Siti tak lagi setiap hari ke butik. Ia benar-benar kapok, ia tak akan mengulanginya lagi. Reyhan memang tak marah besar kala itu, namun sikap dingin yang di tunjukkan oleh suaminya nyatanya membuat Siti kelabakan.


Siti mengambil keputusan jika akan ke butik dua sampai tiga kali saja dalam seminggu, selebihnya ia akan menghabiskan waktu dengan anak semata wayangnya.


Tak terasa sudah satu tahun Siti menggeluti dunia fashion. Lambat lain butiknya pun dikenal banyak orang, mulai dari kalangan menengah hingga ke atas. Tentu saja itu akan membuat hari-hari Siti semakin sibuk ditambah lagi Sean yang sudah mulai aktif berjalan ke sana kemari dan mengambil semua barang yang dijangkau nya lalu ia buat mainan. Beruntung bu Lia selalu siap siaga untuk menjaga Sean saat Siti sedang ada urusan darurat.


Kring kring


Siti meraih ponselnya dan menjawab panggilan telepon yang ternyata dari salah satu karyawannya.


"Iya halo," sapa Siti


Siti mengernyit, "artis siapa?" tanya Siti yang heran sekaligus terkejut. Ia tak menyangka butiknya akan terdengar sampai telinga artis


"Ria ricis Bu, sama calon suaminya yang ganteng itu," jawab gadis itu


"Oh, ya udah saya ke sana," jawab Siti memutus sambungan telepon lalu menitipkan Sean pada ibu mertuanya dan pergi ke butik.


Ceklek


Siti membuka pintu dan melihat sepasang calon suami istri yang tengah duduk di dalam ruangannya. Siti tersenyum mengangguk saat keduanya menatapnya bersamaan


"Maaf menunggu lama, apa yang bisa saya bantu?" tanya Siti berjalan dan menyalami keduanya

__ADS_1


Mereka mulai hanyut dalam diskusi yang panjang serta sesekali diiringi tawa. Setelah dua jam mereka tenggelam dalam obrolan panjang sepasang calon suami istri itu pamit undur diri.


Siti memijat kepalanya yang pening. Ia pusing dengan idenya sendiri. Kliennya yang berkali-kali mengungkapkan gaun pernikahannya ingin berbeda dari yang lain membuat Siti mencetuskan ide untuk gaunnya diberi lampu.


Beberapa Minggu berlalu, sejak datangnya klien istimewa hari itu, butik Siti sering dikunjungi wartawan pemburu berita artis. Meraka datang untuk mempertanyakan model gaun yang akan di pakai oleh YouTubers terkenal itu.


"Aduh, aku jadi berasa kayak artis mas tiap hari di datangi wartawan," ucap Siti di suatu malam


Reyhan tertawa, "bagus dong. Butik dan istriku jadi terkenal sekarang," ucapnya kemudian


"Kamu mau aku terkenal? Aku nanti dilihatin banyak pria-pria tampan loh diluar sana," goda Siti


"Apalah artinya melihat tanpa memiliki. Biarlah mereka lihat kamu yang kayak gimana juga. Cuma lihat aja nggak bisa megang apalagi memiliki," jawab Reyhan cuek


Siti tertawa, "suamiku nggak posesif lagi ternyata," imbuhnya


Reyhan memeluk Siti dari samping dan meletakkan kepala di pundak kuat sang istri.


"Jika Tuhan memberiku kepercayaan untuk punya anak kedua, aku mau anak kita perempuan. Aku berharap dia menjadi penerus ibunya yang punya pundak kuat,"


"Aku kuat karena kamu mas,"


"Nggak dong. Aku hadir ketika kamu sudah berdiri dengan kuat. Aku tidak ada saat kamu sedang berusaha kuat untuk tetap berdiri tegak dengan kaki kamu sendiri saat ombak datang," ucap Reyhan semakin mengencangkan pelukannya


"Ayah," panggil Sean dengan girangnya


Reyhan dan Siti saling tatap, mereka melupakan kehadiran Sean yang sedikit terhimpit karena mereka yang pelukan. Sedetik kemudian mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2