Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
54. Berkunjung ke kampung


__ADS_3

"Sayang gimana kalau kita ke rumah bapak sama ibu dulu sebelum kita ke Bali. Kebetulan waktu kamu melahirkan dan koma aku nggak ngasih kabar mereka, sebenarnya waktu itu aku hampir menghubungi mereka. Biar bagaimanapun mereka harus tahu kondisi kamu. Tapi begitu aku mau ngasih tahu mereka, Haris lebih dulu menelpon ku dan mengatakan kalau bapak juga sakit dan masuk rumah sakit. Jadi aku urung buat ngasih tahu kondisi kamu. Aku nggak mau buat beban pikiran mereka jadi dua kali lipat." Ucap Reyhan di suatu malam yang berhasil mengejutkan Siti


"Terus kondisi bapak sekarang gimana mas? Apa mereka nggak bertanya tanya waktu itu kenapa kita nggak ke sana?" Tanya Siti panik


"Tenang sayang. Aku ke sana kok waktu itu. Aku jelasin ke mereka kalau kamu baru melahirkan jadi nggak bisa ikut. Mereka berniat kesini, tapi aku berusaha memberi pengertian pada mereka untuk lebih fokus dulu sama bapak. Alhasil mereka mengerti. Dan untuk kondisi bapak waktu itu juga sedikit parah. Bapak terkena serangan jantung dan juga gejala stroke. Tapi untungnya penyakit bapak ketahuan di awal dan juga mendapat penanganan yang tepat dan cepat. Jadi sejauh ini bapak sedang berada dalam masa pemulihan. Tadi siang baru aku telepon si Haris. Dia bilang bapak sudah jauh lebih baik." Jelas Reyhan panjang lebar.


Mendengar penuturan Reyhan wajah Siti menjadi sedikit muram. Nampaknya ia kepikiran dengan kondisi bapaknya, meskipun mendengar dari mulut Reyhan bahwa bapaknya sudah jauh lebih baik, itu tak akan membuat soto tenang sebelum melihatnya langsung.


"Jangan dipikirkan sayang. Besok kita berangkat ke kampung. Kita bisa menginap beberapa hari di sana sebelum liburan." Ucap Reyhan seolah mengerti apa yang di khawatir Siti.


"Aku jadi nggak mood liburan mas. Aku mau ke kampung aja." Ucap Siti berubah pikiran


"Yakin?" Tanya Reyhan


"Iya mas. Nggak apa-apa kan kalau kita tunda dulu liburannya?" Tanya Siti ragu-ragu


"Kan yang pengen liburan kamu. Aku sih terserah kamu aja, mau jadi atau nggak. Aku akan mengikuti apapun yang kamu mau." Ucap Reyhan mengelus puncak kepala Siti


"Makasih mas, kamu memang yang terbaik. Aku bersyukur punya kamu. Mudah-mudahan kita selalu bersama dunia akhirat." Harap Siti yang di aamiin kan dirinya sendiri dan juga suaminya.


**


Hari masih sangat pagi, bahkan matahari belum terlalu naik ke permukaan untuk menyinari dunia, namun Reyhan sudah berada di balkon nampak sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan teleponnya. Ia nampak berbicara serius namun sesekali tertawa.


Siti yang memperhatikan suaminya dari ranjang hanya mengernyitkan keningnya lantaran melihat Reyhan yang kadang tertawa dan kadang serius. Ia tak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh pria itu. Siti jadi berpikiran yang tidak-tidak. Tidak mungkin utusan kantor sepagi ini, pikirnya. Reyhan juga tak pernah menerima telepon sepagi ini sebelumnya, beberapa pertanyaan kini melintas di kepalanya. Ingin sekali rasanya ia ke sana, namun melihat Reyhan yang tengah asyik membuatnya urung.


Siti beranjak hendak ke kamar mandi, ia tak mau berlama-lama memikirkan urusan apa yang sedang dibicarakan oleh suaminya.


Begitu keluar dari kamar mandi secara bersamaan ia melihat Reyhan yang masuk kamar dari arah balkon.

__ADS_1


"Teleponan sama siapa sih mas, dari aku masih kamar mandi sampai keluar kamu baru kelar." Tanya Siti mengeringkan rambutnya dengan handuk


Bukannya menjawab Reyhan malah mendudukkan Siti di depan meja rias dan membantu Siti mengeringkan rambutnya. Siti jadi menatap curiga ke Reyhan melalui cermin di depannya.


"Apa sih sayang kok gitu lihatnya? Sama temen kok. Temen lama." Ucap Reyhan masih sibuk dengan rambut Siti.


"Masak iya sepagi ini?" Tanya Siti masih curiga


"Cari kerjaan dia yang. Udah ah, kamu mikirnya jangan kemana-mana. Kamu tahu lagu kangen band yang terbaru? Yang judulnya cinta sampai mati? Itulah lirik lagu yang mewakili perasanku." Bisik Reyhan ditelinga Siti lalu melangkah ke kamar mandi.


Siti tak bergeming, ia memikirkan lagu yang disebut Reyhan. Disaat tengah berpikir, Sean tiba-tiba menangis.


**


Siti dan Reyhan langsung berangkat ke kampung setelah berpamitan dengan pak dan Dani dan juga bu Lia. Mereka memutuskan untuk berangkat dengan supir agar bisa bergantian menjaga Sean yang masih bayi.


Matanya seketika berbinar melihat Siti dengan Sean di gendongannya. Bu Lastri membuang sapunya lalu berjalan setengah berlari ke arah Siti.


"Ya Allah nak, kamu pulang? Kebiasaan kamu nggak ngasih kabar dulu. Ini pasti cucu ibu? Sini-sini nenek mau gendong. Ya Allah tampan sekali cucu nenek?" Ucap bu Lastri panjang lebar


Reyhan dan Siti hanya tersenyum melihat kehebohan yang diciptakan Bu Lastri. Sedangkan Sean hanya menatap neneknya yang tengah berbicara dengannya. Saking sibuknya dengan cucunya, Bu Lastri sampai lupa menyuruh anak dan menantunya masuk rumah.


"Bu, kita disuruh disini aja?" Tanya Siti yang melihat ibunya hanya sibuk dengan Sean


"Astaga ibu sampai lupa. Lagian rumah sendiri kenapa harus nunggu di suruh si. Ayo masuk, itu bapak yang antar juga suruh masuk sekalian. Kita makan sama-sama. Tapi nanti, ibu belum masak. Kamu lagian nggak ngasih tahu dulu. Kalau ngasih tahu kan begitu sampai sini kalian sudah makan." Omel bu Lastri pada Siti


Siti dan Reyhan hanya tersenyum mendengar omelan bu Lastri.


Si supir hanya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Assalamualaikum lihat siapa yang datang." Teriak bu Lastri masih dengan kehebohannya


Semua orang nampak berjalan ke arah ruang tamu


"Waalaikumsalam. Kenapa teriak-teriak sih Bu." Protes pak Rusdi


Begitu sampai di ruang tamu, semua mata terbelalak bahagia.


"Siti, ya Allah bagaimana kabarmu nak. Reyhan bagaimana kabarmu?" Tanya pak Rusdi yang punggung tangannya dicium anak menantunya.


"Alhamdulillah sehat pak. Bapak gimana? Maaf ya pak Siti nggak bisa ikut kesini pas bapak sakit." Ucap Siti menyesal


"Alhamdulillah bapak jauh lebih sehat. Berkat nak Reyhan yang menanggung biaya berobat bapak sampai sembuh. Nak Reyhan benar-benar menanggung kesehatan bapak sampai ke akar-akarnya. Terimakasih ya nak." Ucap pak Rusdi merasa berhutang budi pada menantunya


"Nggak perlu berlebihan pak, sudah tanggung jawab saya. Saya akan melakukan apapun untuk kalian selagi saya mampu." Ucap Reyhan tersenyum


"Ini anak kamu? Tampan sekali cucu kakek ini. Sini-sini sama kakek." Ucap pak Rusdi mengulurkan tangannya meminta Sean.


"Bentar ah, bapak nanti dulu. Ibu baru sebentar gendong...." Bu Lastri menghentikan ucapannya lantaran lupa tak menanyakan Siti nama anaknya.


"Sean Bu. Namanya Sean." Ucap Siti


"Bu, ibu kan harus masak buat mereka. Sini kasih Sean ke bapak. Sana buruan ke dapur." Titah pak Rusdi demi bisa menggendong Sean


Akhirnya Bu Lastri menyerahkan Sean pada pak Rusdi dengan setengah hati.


"Ibu ke dapur sebentar ya." Ucap Bu Lastri menuju ke dapur. "Eh si bapak kenapa berdiri aja? Duduk aja pak, nggak usah sungkan-sungkan. Anggap rumah sendiri. Reyhan, Siti jangan lupa kalian kesini bawa supir. Jangan dilupakan, masak dari tadi ngejogrok aja dia dibelakang kalian. Kasian tahu." Ucap Bu Lastri mengingatkan namun lebih terdengar seperti mengomel.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2