Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
40. Mawar tak jera


__ADS_3

Siti mengerjapakan mata, ia menatap langit-langit diatasnya. Bukan di rumah, batin wanita itu. Tak berapa lama kemudian ia teringat bahwa ia ikut Reyhan ke kantor. Ia meraih ponsel di sampingnya. Ia terperanjat ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah dua.


Siti berjalan keluar ruang istirahat itu. Ia melihat suaminya yang sudah kembali dan tenggelam dengan tumpukan kertas-kertas.


"Mas, aku pulang ya. Bosen." Ucap Siti duduk di sofa


"Makan dulu sayang, nih." Ucap Reyhan memberikan sekotak nasi putih dan lauknya.


Siti menerima kotak itu dan mulai menyuapkan ke dalam mulutnya.


"Habisin ya. Aku selesaikan kerjaan dulu habis itu pulang."


"Aku nggak apa-apa kalau harus pulang naik taksi online."


"Nggak. Nggak boleh." Ucap Reyhan tegas dan cepat


Siti tak lagi menjawab, ia memilih melanjutkan makan. Percuma debat dengan Reyhan, tak akan menang, pikir wanita yang tengah hamil itu.


Sementara di luar ruangan Reyhan, nampak Arga tak putus asa untuk selalu datang ke kantor keluarganya itu, ia masih bersikeras untuk membujuk Reyhan agar mau menerima tawarannya. Tak apa jika, ia tak bisa menguasai perusahaan ini sekarang, setidaknya ia bisa mengelola karena dengan itu sedikit demi sedikit ia pasti bisa meraup harta perusahaan itu, pikir pria yang berusia 35 tahun itu.


Arga terus berjalan menuju ruangan Reyhan, ia masuk tanpa permisi ataupun mengetuk pintu. Reyhan yang terkejut seketika berdiri dan menatap pria itu dengan amarah. Siti yang tengah makan pun menghentikan aktivitasnya untuk melihat siapa pria yang tak punya sopan santun itu.


"Bisakah kau datang dengan sopan?" Ucap Reyhan memutari mejanya dan menggeret Arga keluar ruangan


"Hey, kenapa kau semarah ini? Aku hanya berkunjung ke kantor ini. Jangan lupa bahwa aku masih keluarga mu. Jangan lupakan itu Reyhan." Ucap Arga menepuk nepuk pipi Reyhan


Dengan cepat Reyhan menangkis tangan itu


"Pergi dari sini." Usir Reyhan

__ADS_1


"Kenapa aku harus pergi? Coba katakan padaku, apa kau takut perusahaan ini akan jatuh ke tanganku suatu hari nanti."


"Coba saja kalau bisa." Tantang Reyhan, "jika kau tak punya kepentingan disini, pergi sekarang." Usir Reyhan


"Aku hanya mengantar ini, surat undangan perkumpulan keluarga besar Brata." Ucap Arga menyerahkan selembar kertas undangan


Reyhan sangat membenci acara itu, ia teringat terakhir kali ia datang hanya mendapatkan sindiran dari keluarga besarnya lantaran pernikahannya yang gagal. Selain itu Reyhan juga di cap sebagai pria yang tak sukses hanya karena ia tak membangun perusahaan sendiri.


"Bersiaplah untuk kembali menerima ucapan pedas saudaraku. Kalau aku jadi kau, akan aku jadikan ucapan pedas mereka sebagai cambukan untuk diriku. Aku akan berusaha lebih keras untuk membangun perusahaan sendiri."


"Kesuksesan seseorang bukan di ukur dari seberapa banyak kau membangun perusahaan, tapi seberapa berguna kau bagi sekitarmu. Kau memang berhasil membangun dan mengembangkan perusahaan mu sendiri, tapi kau gagal menjadi orang yang berguna. Bahkan kau juga tidak berguna bagi istrimu sendiri." Ucap Reyhan dengan senyum mengejeknya


"Jaga bicaramu Rey." Ucap Arga emosi


"Kau yang memulai. Jika pertemuan terakhir mungkin aku yang menjadi bahan pergunjingan, mungkin esok hari kau yang jadi bahan utama perkumpulan keluarga Brata. Seorang Arga Brata Wirya berhasil membangun perusahaan di luar negeri namun gagal membangun bahtera rumah tangga. Itulah kabar yang aku baca satu bulan lalu di media sosial." Ucap Reyhan kembali masuk ke ruangan dan menutup pintu


Sementara itu di ruangan Reyhan nampak Siti yang mencerca Reyhan dengan berbagai pertanyaan


"Dia siapa mas? Kenapa kalian kayak nggak akur?" Tanya siti


"Arga, sepupu aku yang sukses di luar dan juga dalam negeri. Dia cucu paling tua di keluarga Brata. Kamu ingat aku pernah bilang kalau ini adalah perusahaan keluarga dari mama?" Reyhan menghentikan ucapannya untuk melihat respon Siti


"Iya kenapa?" Tanya Siti


"Jadi dulu itu orang tua Arga pernah di beri amanah untuk mengelola perusahaan ini, karena ayahnya Arga adalah anak pertama dari nenek. Tapi sayangnya, mereka menyalahgunakan wewenang itu, mereka bekerja sama dengan adiknya mama untuk menguasai seluruh perusahaan ini dan hasilnya dibagi dua, padahal nenek sama kakek masih ada waktu itu. Untungnya aksi mereka ini ketahuan dan akhirnya nenek sama kakek murka, jadi mereka melimpahkan perusahaan ini sama mama dan harus di pegang sama keturunannya. Nah si Arga ini berusaha untuk mengambil perusahaan ini dari tangan aku. Itu sebabnya kita kayak musuhan. Jangan jadi beban pikiran ya. Aku cerita kamu kayak gini bukan untuk menambah beban buat kamu. Aku hanya mau kita terbuka, itu aja. Jadi tolong jangan memikirkan hal ini."


Siti mengangguk. "Tapi dia nggak pernah jahat sama kamu kan? Nggak pernah celaikain kamu kan?" Tanya siti khawatir


"Nggak kok. Pulang aja yuk. Kerjaan aku udah selesai." Ajak Reyhan

__ADS_1


Saat berjalan di koridor tiba-tiba Siti merasa mual.


"Mas, aku kamar mandi dulu ya. Mual ini." Keluh Siti


"Ya udah aku tunggu di lobby ya." Ucap Reyhan


Siti hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia bertemu Mawar di koridor toilet karena tak tahan dengan perutnya, Siti hanya tersenyum menyapa Mawar.


"Mau pulang ya mbak." Sapa Mawar setelah Siti selesai dengan ritualnya


"Eh iya War. Gimana, betah kerja disini?" Tanya Siti


"Betah mbak. Apalagi pak Reyhan baik orangnya, sering beli makan siang buat saya." Ucap Mawar bohong


Siti manggut-manggut pelan. "Buat kamu aja?" Tanya Siti


"Iya mbak. Tapi jangan tanyakan ini sama pak Reyhan ya. Soalnya ini permintaan pak Reyhan, saya nggak boleh cerita ini ke siapapun."


"Terus kenapa kamu cerita ke saya?"


"Ya kan pak Reyhan suami mbak, jadi saya rasa nggak apa-apa kalau ceritanya ke mbak. Biar nanti nggak terjadi salah paham. Itu aja mbak."


"Oh. Iya-iya. Kalau gitu saya permisi dulu ya. Kamu lanjutin kerjanya biar bisa cepat istirahat." Ucap Siti ramah lalu melangkahkan kakinya untuk pulang.


Mawar hanya tersenyum licik melihat punggung Siti yang semakin berjalan menjauh. Ia berharap dengan omongannya barusan Siti menaruh curiga pada Reyhan. Kalau sudah ada kecurigaan, rasa saling percaya semakin lama akan semakin hilang dan itu bisa berakibat buruk untuk hubungan mereka, pikir wanita yang tengah mengepel itu.


Sementara itu Siti berjalan seraya memikirkan ucapan Mawar. Apa benar suaminya sering membelikan makan siang untuknya? Itulah pertanyaan yang memenuhi kepala Siti saat ini. Namun sedetik kemudian ia berusaha melupakannya, ia tak mau memikirkan sesuatu yang tak ia lihat sendiri, pikir Siti berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2