Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
33. hamil


__ADS_3

Siti menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Ia menatap langit-langit kamarnya. Ia diam sejenak merasakan tubuhnya yang terasa lebih baik dari kemarin. Namun saat ia duduk perutnya kembali terasa diaduk. Ia berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan suara seperti orang muntah namun tak ada apapun yang keluar dari mulutnya.


"Kamu muntah lagi?" Tanya Reyhan yang berlari ke kamar mandi mendengar Siti seperti muntah.


"Nggak apa-apa mas udah nggak kok." Jawab Siti mengusap mulutnya


"Kita periksa aja ya. Aku khawatir kalau kamu begini terus." Ucap Reyhan tak bisa menyembunyikan ke khawatirannya.


"Iya, aku tes ini dulu tapi ya. Kamu keluar sebentar." Pinta Siti


"Udah sayang langsung periksa aja."


"Pakai ini dulu mas. Untuk menghargai mama." Ucap Siti


Reyhan tak lagi menyangkal, ia keluar kamar mandi dan berdiri diam di depan pintu. Ia menunggu Siti dengan was-was. Beberapa saat kemudian Siti membuka pintu kamar mandi dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Reyhan menebak bahwa istrinya itu sedang kecewa karena hasil yang ia lihat.


Reyhan membawa Siti ke dalam pelukannya. Ia tahu istrinya itu pasti sedih dan kecewa. Apa yang diharapkan semua orang belum berhasil ia wujudkan.


"Sabar sayang. Nggak apa-apa kalau kamu belum hamil. Masih ada banyak cara, masih banyak jalan untuk menuju ke arah sana. Kita berjuang sama-sama." Ucap Reyhan memeluk erat sang istri.


Siti melepaskan diri dari pelukan sang suami. Lalu ia mengambil tangan Reyhan dan membawanya ke dalam perutnya.


"Sudah ada anakmu disini." Ucap Siti dengan suara bergetar

__ADS_1


Reyhan termenung sejenak, ia seperti sedang mencerna kata-kata Siti.


"Ka....kamu ha...hamil." Tanya Reyhan terbata bata


Siti mengangguk lalu memeluk lagi Reyhan dengan erat.


"Aku hamil mas, sebentar lagi kita punya anak. Aku bisa kasih kebahagiaan buat semua orang. Aku akan jadi ibu." Ucap Siti menangis bahagia


"Iya sayang iya. Kita mandi habis itu turun, kita kasih tahu mama sama papa." Ucap Reyhan mengecup kening istrinya.


Sementara itu, Mawar yang bangun lebih dulu nampak sedang membantu asisten rumah tangga menyiapkan sarapan.


Tak lama kemudian Bu Lia dan pak Dani berjalan menuju meja makan dan melihat Mawar yang sedang menyiapkan sarapan.


"Sudah Tante, saya biasa bangun pagi." Jawab Mawar.


Bu Lia hanya mengangguk. Lalu terdengar suara langkah kaki yang tengah menuju ruang makan.


"Gimana Ti? Udah di tes?" Tanya Bu Lia penasaran


"Sudah ma. Ini hasilnya." Ucap Siti menyerahkan hasil tes kehamilan


Bu Lia yang memang menanti kehadiran anak Reyhan seketika melompat kegirangan, ia heboh sendiri dengan benda kecil di tangannya itu. Reyhan dan Siti hanya tersenyum melihat tingkah sang ibu

__ADS_1


"Pa, papa lihat. Siti hamil pa, akhirnya mama punya cucu dari Reyhan. Mama sudah menunggu ini sejak lama. Kamu jangan capek-capek, jangan banyak aktivitas yang berat, jangan banyak pikiran, jangan stress, jangan..."


"Mama udah ma. Biarkan kita sarapan dulu ya. Habis ini aku langsung ajak Siti ke rumah sakit. Biar dokter aja yang kasih saran ok." Ucap Reyhan


"Iya ya. Aduh mama jadi lupa kalau itu adalah tugas dokter." Ucap bu Lia nyengir


Mereka hanya tertawa kecil, kecuali Mawar. Entah kenapa ada rasa sedikit kesal mendengar Siti hamil. Namun rasa kesalnya tiba-tiba menghilang setelah melihat senyum Reyhan yang mengembang sempurna. Dalam hati ia mengangumi seorang pria yang sudah beristri itu. Ia melihat Reyhan dengan seksama, untuk pertama kalinya ia melihat Reyhan dengan pakaian rumahan seperti itu, ternyata ia terlihat tampan dan muda. Mawar menyesali sesuatu, kenapa ia bertemu dengan Reyhan sebagai orang yang membuatnya hidup sebatang kara. Seandainya saja kita bertemu bukan karena kecelakaan yang membuat ayahku tiada, batin Mawar dengan pandangan tak lepas dari Reyhan.


Bu Lia yang sejak tadi memperhatikan Mawar hanya menatap wanita itu tak suka. Ia mengerti arti tatapan wanita itu.


Setelah selesai sarapan Reyhan dan Siti akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


"War, langsung ikut ke rumah sakit ya. Habis itu cari kontrakan sekalian." Ucap Reyhan pada Mawar


"Nggak usah. Baru aja mama bilang kalau Siti nggak boleh capek-capek, kamu mau ajak Siti keliling cari kontrakan. Nggak, mama nggak ijinin. Kamu ke rumah sakit sama Siti. Nanti balik lagi, cari kontrakan sama mama." Ucap Bu Lia tegas.


Reyhan sejenak diam, apa yang diucapkan oleh sang ibu ada benarnya, pikir pria itu.


"Ya udah gitu aja." Ucap Reyhan setuju. "Udah makannya? Berangkat sekarang?" Tanya Reyhan pada Siti.


"Ya, sekarang aja mas. Nanti takut antri. Ma, pa kita pergi dulu ya." Ucap Siti pada semua orang.


Mawar yang sejak tadi di tatap oleh Bu Lia sesekali menunduk. Entah apa yang membuat bu Lia menatap Mawar dengan begitu tajam batinnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2