Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
60. Mendadak pulang kampung


__ADS_3

Pagi-pagi sekali di saat Siti baru saja keluar dari kamar mandi, ponselnya berdering dengan kerasnya. Sean yang masih tertidur sampai membuka matanya lebar-lebar.


"Eh anak bunda sampai kebangun. Maaf ya sayang," ucap Siti meraih Sean ke dalam gendongannya sementara ponselnya ia kunci agar tak berbunyi.


"Siapa sih yang, ya ampun masih pagi banget ini," keluh Reyhan mengucek matanya


"Kamu pegang Sean, kayaknya aku lihat tadi Tini mas yang telepon," jawab Siti


Siti meraih ponselnya setelah menyerahkan Reyhan pada suaminya. Ada perasaan tak enak saat Siti mengetahui nama pemanggil di layar ponselnya


"Iya tin, ada apa?" tanya Siti


"Mbak, bisa pulang sekarang nggak? Bapak lagi sakit, udah seminggu ini tapi bapak nggak mau di bawa ke rumah sakit. Terus bapak lihat Mbak Siti di tv. Bapak bilang kangen sama mbak. Mbak bisa pulang?" tanya Tini untuk yang ke dua kalinya


Bagai di sambar petir tengah hari, jantung Siti terasa berhenti sejenak, ia linglung dalam waktu singkat ketika mendengar bahwa sang ayah sakit.


"Iya mbak pulang sekarang," jawab Siti cepat


Reyhan yang mendengar ucapan Siti seketika menoleh kearah istrinya, "kenapa? Ada apa di kampung? Kenapa pulang?" tanya Reyhan bertubi-tubi


"Bapak sakit mas, katanya udah seminggu dan nggak mau dibawa ke rumah sakit. Ayo kita ke sana mas," kata Siti dengan panik dan air mata yang berderai


"Ya udah aku siap-siap, kamu jangan panik sayang. Aku mohon tenanglah, bapak akan ngerasain juga apa yang kamu rasain. Tolong tenangkan dirimu," ucap Reyhan pada istrinya


*


"Pak, aku udah telepon mbak Siti, katanya dia bisa pulang," kata Tini memijat kaki bapaknya


Pak Rusdi hanya tersenyum, tubuhnya yang semakin lemah rupanya tak mampu membuatnya bicara. Pak Rusdi sudah merasakan badannya tak enak beberapa Minggu belakangan, tapi ia tak mau memanjakan sakitnya dengan hanya rebahan. Itu sebabnya ia terus beraktivitas seperti biasa dan ternyata lama kelamaan tubuh benar-benar lemah hingga duduk saja ia harus dibantu oleh istrinya.

__ADS_1


Meskipun demikian pak Rusdi selalu menampakkan senyumnya, ia ingin memastikan pada semua orang bahwa ia baik-baik saja. Ia tidak apa-apa, hanya saja kesehatannya sedang menurun.


Pukul 9 pagi tepat Siti dan Reyhan sampai di kampung. Mereka sengaja menumpangi pesawat agar sampai lebih cepat.


Siti sampai rumah dan tidak ada orang yang menyambutnya. Ia memutuskan untuk langsung ke kamar orangtuanya. Ia berpikir semua orang pasti sedang berkumpul di sana untuk menemani bapaknya.


"Assalamualaikum," Siti memberi salam


"Waalaikum salam," jawab semua orang


Melihat Siti, Bu lastri seketika berdiri, "kamu sudah sampai nak," tanyanya seraya berjalan ke arah anak dan menantunya


"Iya Bu," jawab Siti mencium punggung tangan ibunya lalu berjalan menuju ranjang


Sungguh pedih hati Siti melihat sang bapak yang sudah lebih kurus dari sebelumnya. Ingin sekali rasanya ia menangis meraung-raung, namun ia sadar itu tak akan merubah keadaan menjadi baik, justru malah membuat semua orang sedih dengan tangisannya. Ia bertekad akan kuat untuk kesembuhan sang ayah.


"Bapak, aku pulang," kata Siti mencium punggung tangan sang ayah.


Siti dan pak Rusdi saling memandang dengan lekat. Kedua orang ini memang sangat dekat. Siti baru menyadari ada guratan lelah dan garis-garis keriput di wajah sang ayah. Ia pun melihat genangan air di mata pak Rusdi.


"Pak ada yang sakit ya? Mana pak, bilang sama aku?" kata Siti berusaha menegarkan dirinya sendiri


"Nggak ada nak. Bapak hanya kangen sama kamu," jawab pak Rusdi lemah


"Ini aku ada disini pak, aku bawa Sean juga. Selama ini kalian hanya saling tatap melalui hape aja kan, bapak harus sembuh pak. Bapak belum sempat ajak Sean lari pagi kayak bapak bawa Gendis," kata Siti yang tak berhasil mempertahankan kekuatannya untuk tak menangis.


"Sudah jangan nangis, bapak nggak apa-apa. Hanya kelelahan saja," kata pak Rusdi


"Pak, kita ke rumah sakit ya," ajak Reyhan berjongkok di depan wajah pak Rusdi

__ADS_1


"Nggak usah nak, bapak istirahat di rumah saja," jawab pak Rusdi. "Bapak tidur dulu ya nak, bapak capek," katanya kemudian.


Semua orang mengangguk.


Setelah pak Rusdi terlelap semua orang keluar kamar, kecuali Bu Lastri tentunya.


"Tin, kamu kok nggak bilang dari awal kalau bapak sakit. Kenapa harus nunggu sakit seminggu kamu baru bilang ke mbak," tanya Siti di ruang keluarga


"Bapak yang minta mbak. Katanya bapak nggak mau bikin mbak khawatir, bapak punya keyakinan kalau bapak sembuh dalam beberapa hari. Tapi nyatanya badan bapak semakin lemah, terus bapak lihat tv dan nggak sengaja lihat mbak di tv. Terus bapak bilang kalau bapak kangen sama mbak," ujar Tini


Siti diam, perasannya sejak tadi merasa tak enak. Entah apa yang membuatnya tak enak, tapi yang jelas ia berharap ini tak ada hubungannya dengan kondisi sang ayah.


"Kita istirahat di kamar ya, kita harus sehat untuk merawat bapak kan?" ujar Reyhan menyentuh pundak istrinya


Siti menurut, ia berjalan lemah ke kamarnya.


"Mas perasaan aku nggak enak dari tadi, aku berharap ini nggak ada hubungannya sama bapak," kata Siti duduk di kasurnya


"Berpikir yang baik-baik saja sayang. Kita berdoa saja meminta yang terbaik untuk bapak," Reyhan memenangkan Siti


*


Pukul 2 siang Bu Lastri baru saja bangun dari tidurnya, nampaknya ia kelelahan selama seminggu ini merawat pak Rusdi. Ia bangkit dari tidurnya dan melihat suaminya yang masih terlelap.


"Pak, udah jam dua ini. Kita tayamum dulu, bapak belum sholat kan," ucap Bu Lastri membangunkan suaminya dengan pelan.


Melihat diamnya pak Rusdi, Bu Lastri mencoba membangunkannya kembali dengan menyentuh tangannya. Ia sedikit terkejut mendapati tangan pak Rusdi yang begitu dingin. Bu Lastri memperhatikan nafas pak Rusdi.


"Ya Allah bapak," teriak Bu Lastri sekencang kencangnya membuat semua penghuni rumah berhamburan datang ke kamar.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2