
Semua orang berlari ke arah ranjang, melihat sang kepala rumah tangga sudah terbujur kaku membuatnya anak istrinya histeris, kecuali Siti. Nampaknya kepahitan hidup yang berpuluh-puluh tahun ia alami memaksanya untuk bersikap dewasa.
Kini wanita itu tengah menenangkan ibunya yang sedang meraung-raung memeluk jasad sang suami.
"Ibu, kita boleh menangis tapi jangan seperti ini Bu. Kasian bapak," kata Siti berusaha membangkitkan sang ibu dari pelukan ayahnya
"Bapak hanya pingsan Ti, bapak nggak pergi. Ibu akan ambil minyak gosok biar bapak sadar ya," ucap Bu Lastri bangkit berdiri dan berjalan menuju meja untuk mengambil barang yang ia maksud
"Ibu, sudah ibu sudah. Ibu tenang, istighfar Bu," Siti menguatkan hati ibunya disaat hatinya sendiri sudah menjadi kepingan.
Tak lama kemudian Bu Lastri mulai tenang, ia mulai bisa mengendalikan emosinya.
Sementara itu semua orang mengurus jenazah pak Rusdi agar segera bisa dikebumikan. Semua tetangga dan sanak saudara mulai berdatangan.
Siti duduk ditengah-tengah ibu dan adiknya yang masih sesenggukan. Reyhan menatap sekilas istrinya, wajah yang tenang, namun matanya menyorotkan kesedihan yang dalam. Ia bangga pada wanita yang kini menjadi ibu dari anaknya itu, ia juga membanggakan dirinya sendiri yang ternyata tak salah memilih istri.
Disaat Siti sedang rapuh saja, ia mampu meminjamkan pundak pada kedua wanita berharga di hidupnya. Ia mampu menopang kesedihan keduanya.
Saat jenazah akan di sholatkan kedua orang tua Reyhan datang. Bu Lia ingin memeluk Siti yang notabenenya adalah sang menantu, namun melihat Siti yang justru menjadi topangan ibu dan adiknya membuat wanita itu bangga pada menantunya. Kesedihan yang terpancar jelas dari matanya membuat Bu Lia mengerti bahwasanya wanita itu hanya pura-pura kuat untuk keluarganya.
Bu Lia berjalan pelan ke arah mereka. Ia memberikan kata-kata penenang dan juga sentuhan lembut untuk besannya itu. Sebagai sesama seorang istri ia tahu betul bagaimana perasaannya saat ini. Ditinggal selamanya oleh satu-satunya pria yang menemani masa tua kita bukanlah perkara gampang.
Bu Lastri tak sadarkan diri saat jasad sang suami akan diberangkatkan ke peristirahatan terakhirnya. Reyhan yang saat itu sedang di dekat sang ibu mertua dengan gerakan cepat mengangkat ibunya dan ia letakkan di kamar.
"Tin, nggak usah ikut ke pemakaman. Kamu disini aja sama Mbak Siti jagain ibu ya," kata Reyhan lalu keluar kamar sat mendapat anggukan dari keduanya.
*
Satu jam kemudian semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing. Termasuk Reyhan, Haris dan kedua orang tua mereka. Kedua orang tua Haris pamit pulang setelah melaksanakan ibadah sholat ashar. Sedangkan untuk orang tua Reyhan memutuskan bermalam dan akan kembali esok hari.
Keadaan Bu Lastri sesudah lebih baik, meskipun masih murung.
"Kalian udah makan?" tanya Reyhan saat masuk kamar ibu mertuanya
"Ibu udah aku paksa makan mas tadi, meskipun sedikit. Aku boleh minta tolong mas, kayaknya ibu perlu infusan. Ibu hanya makan dua sendok aja tadi," ucap Siti khawatir
"Iya, akan aku carikan. Kamu udah makan?"
__ADS_1
"Nanti aja mas, aku nggak lapar," jawab Siti lemas
Reyhan tersenyum lalu mengatupkan tangannya di kedua pipi Siti. "Kamu mau jaga ibu kan? Kalau kamu jaga ibu kamu harus sehat, kamu harus tetap jaga makan kamu. Makanlah walau hanya sedikit, kamu nggak menghidupi diri kamu sendiri. Anakku masih butuh asi dari ibunya, kalau ibunya nggak makan, asi yang dihasilkan juga tidak akan banyak kan. Aku nggak mau anakku jadi rewel karena itu. Gimana? Masih nggak mau makan juga?" tanya Reyhan lembut
"Iya mas aku akan makan, kamu juga ya," ajak Siti
"Aku pergi cari infusan dulu, setelah itu aku akan makan,"
Siti mengangguk, "hati-hati ya mas," ucapnya kemudian
"Iya sayang, ajak Tini makan juga. Biar ibu di temani sama mama, biar main juga sama anak-anak, siapa tahu perhatian ibu akan teralihkan dengan mereka,"
Reyhan pergi setelah mendapat anggukan dari Siti.
Di malam hari, Siti berbaring di kamarnya menyusui sang anak agar segera tertidur. Ingatan Siti kembali berputar pada sang ayah, ia mengingat betapa sayangnya pak Rusdi padanya, apalagi saat semua orang menghina karena fisiknya. Kini tidak ada lagi sosok yang dipanggilnya bapak itu. Air mata Siti mengalir derasnya, hingga tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya. Siti berbalik ke belakang, ia melihat suaminya yang berbaring di sampingnya.
Siti tak sanggup lagi pura-pura kuat, ia berbalik dan memeluk suaminya dengan erat. Ia menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya.
Reyhan tak berucap, ia membiarkan wanitanya menumpahkan segala kesedihan yang ia simpan sejak tadi siang. Tangannya terulur untuk mengusap pelan punggung Siti untuk memberikan sentuhan ketenangan.
Siti mendongak, "maaf mas bajunya jadi basah," ucapnya setelah beberapa lama menumpahkan tangisnya.
Siti mengangguk.
"Bapak hanya perlu doa kita, biar terang jalannya. Sekarang kamu tidur ya, istirahat biar besok segar," kata Reyhan
"Aku ke kamar ibu bentar ya, mau lihat ibu," ucap Siti beranjak dari berbaringnya.
Siti melangkah keluar setelah mendengar kata 'iya' daru mulut suaminya.
Ceklek
Siti melihat ibunya yang tengah mengaji. Siti mengulas senyumnya. Ia lega sang ibu sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Eh Ti, kamu ngapain disitu. Sini!" ucap Bu Lastri
Siti melangkah masuk
__ADS_1
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Siti duduk di tepi ranjang
"Alhamdulillah sudah lebih baik nak, ibu sudah lebih tenang setelah mengaji," jawab Bu Lastri
"Alhamdulillah kalau begitu. Ibu mau aku temani tidur? Ibu nggak biasa tidur sendirian,"
Bu Lastri tersenyum, "nggak perlu nak, ibu bisa kok tidur sendirian. Kamu sekarang istirahat saja, kamu pasti lelah," ucapnya
"Iya Bu. Ibu juga tidur ya. Aku ke kamar dulu," ucap Siti kemudian beranjak dari kamar Bu Lastri
*
15 hari kemudian
Keadaan Bu Lastri sudah kembali seperti biasa, ia menyibukkan diri di toko setelah 10 hari kepergian suaminya. Melihat itu, Siti memutuskan untuk kembali ke kota.
"Tin, Ris, kalau ada apa-apa kabari mbak secepatnya ya. Kalian jaga kesehatan, ibu juga. Aku sama mas Rey pulang dulu ya," ucap Siti pada ibu dan kedua adiknya.
"Iya nak, hati-hati di jalan ya. Kamu juga jaga kesehatan," pesan Bu Siti
Siti dan Reyhan pergi setelah mencium punggung tangan sang ibu.
Keesokan harinya Siti kembali ke butik. Rasanya sudah lama sekali ia tak ke sana.
"Bu, kami turut berdukacita atas kepergian bapak ibu," ucap salah satu pegawainya
"Iya, makasih ya. Bagaimana butik selama saya tinggal?" tanya Siti
"Baik-baik aja kok Bu, malah semakin banyak artis yang datang kesini buat lihat desain ibu," ucap pegawainya antusias
"Masak? Alhamdulillah kalau begitu," ucap Siti berjalan masuk ke ruangannya
Sebelum memulai pekerjaannya Siti membuka benda persegi yang sangat berguna bagi nusa dan bangsa. Ia melihat media sosial nya yang tak ia buka 15 hari terakhir.
Siti membelalakkan matanya begitu melihat media sosial yang penuh dengan mamanya.
Siti Rusdiana, desainer gaun pengantin Ria ricis ternyata hanya lulusan SMA. Berikut biodata wanita cantik yang menggemparkan dunia fashion.
__ADS_1
Bersambung