
"Astaga, bagaimana bisa para wartawan mendapatkan biodata ku? Mereka dapat dari mana pula," gumam Siti berjalan keluar ruangan untuk bertanya pada karyawannya
"Ros, kamu tahu siapa yang membocorkan biodata saya ke wartawan? Ini kenapa media sosial penuh dengan berita saya?" tanya Siti pada Rosa, salah satu karyawannya.
"Mungkin mereka cari tahu sendiri Bu, mereka sempat nanya-nanya ke kita sih soal latar belakang ibu, tapi kami hanya jawab setahu kami. Untuk masalah biodata kami nggak mungkin kasih tahu ke mereka, kami mana tahu biodata ibu selengkap itu. Berita itu sudah beberapa hari ini memang ada di media sosial bu," jelas Rosa panjang lebar. "Nggak apa-apa bu, toh berita yang mereka keluarkan juga baik-baik kan," imbuhnya
"Iya sih, tapi nggak jelas sumbernya dari mana. Ya sudahlah kamu lanjutkan kerja," ucap Siti kembali ke ruangannya.
*
Di tempat lain
"Bu lihat deh, Mbak Siti jadi terkenal sejak jadi desainer. Mbak Siti hebat ya bu," ucap Tini memperlihatkannya ponsel
"Alhamdulillah, rezeki mbak mu Tin. Mungkin ini adalah bayaran atas kesabaran dan juga ketabahan mbak mu. Sudah sepantasnya dia mendapatkan apa yang dia mau, ibu masih sangat ingat betapa menderitanya hidup Siti sebelum dia berubah," ucap Bu Lastri menerawang, ingatannya kembali pada puluhan tahun silam.
"Ibu, udah jangan diingat masa itu. Aku adalah salah satu golongan orang yang menghina Mbak Siti dulu. Seandainya saja waktu bisa di putar, aku nggak akan berbuat jahat sama mbak," kata Tini menyesal
"Kamu adalah salah satu orang yang membuat mbak mu berubah, mulut mereka dan mulutmu memang jahat. Tapi Mbak mu menjadikan hinaan mereka menjadi cambukan untuk berubah. Kamu juga turut andil dalam perubahan mbak mu, hanya saja caramu salah. Tapi sudah terjadi, jangan dipikirkan lagi ya. Mbak mu sudah melupakan semuanya, dia sudah memaafkan kesalahan orang-orang. Yang terpenting sekarang dia sudah menjadi orang sukses dan mimpinya sudah terwujud satu persatu. Mudah-mudahan seberat apapun masalah kalian ke depannya, kalian bisa menghadapi dengan badan yang tegap, hati yang sabar dan pikiran yang tenang. Hanya itu doa ibu untuk kalian saat ini," ucap bu Lastri panjang lebar seraya mengelus pelan rambut Tini yang sedang berbaring di pangkuannya.
"Aamiin," sahut Tini
Kembali pada Siti yang masih sibuk dengan ponselnya. Ia membaca biodata yang tertera di media sosial, memang semuanya benar. Namun, justru kebenaran informasi itulah yang membuatnya bingung.
Ceklek
__ADS_1
Siti mendongak seketika saat pintu terdengar dibuka.
"Mas Rey, kesini nggak bilang-bilang," ucap Siti beranjak dari duduknya dan menghampiri Reyhan lalu mencium punggung tangannya.
"Nggak surprise dong kalau aku bilang. Udah lihat berita di sosial media?" tanya Reyhan duduk di sofa yang terdapat di ruangan itu.
"Udah mas, kenapa?" tanya Siti balik
"Maaf ya, kamu pasti bingung dan bertanya-tanya siapa yang kasih info detail itu. Jadi pas kamu masih di kampung, aku sering datang kesini dan ketemu sama salah satu wartawan pemburu berita artis. Mereka katanya mau cari info mengenai latar belakang kamu. Setelah aku selidiki beberapa hari itu, ternyata baju-baju kamu itu masuk dalam list baju terbaik tahun ini. Mangkanya wartawan ngejar berita tentang kamu. Nggak marah kan?" tanya Reyhan setelah menjelaskan semuanya
"Nggak mas. Kenapa aku harus marah. Aku sih nggak nyangka ya bakal sejauh itu pencapaian aku. Alhamdulillah kalau begitu, rezeki nya Sean," ucap Siti tersenyum
"Mungkin sebentar lagi kamu nggak akan jadi incaran wartawan aja, bisa diundang di acara tv juga," kata Reyhan tertawa kecil
"Aamiin. Ucapan yang baik harus di aamiinkan," ucap Siti lagi. "Kamu nggak ada kerjaan?" tanyanya kemudian
Melihat itu Siti hanya tertawa kecil. Nyatanya suaminya itu sejak dulu tak berubah, masih saja suka menggodanya, Siti sudah terbiasa dengan gombalan yang ia dengar dari mulut suaminya itu. Jika dulunya ia tersipu dengan ucapan Reyhan yang membuat kaum hawa terbawa perasaan maka sekarang tidak, Siti biasa saja menanggapi hal itu.
*
Beberapa Minggu berlalu.
Hari Minggu telah tiba, Siti dan Reyhan tengah bercengkrama di depan tv. Mereka sedang bermain dengan anak semata wayangnya yang terlihat lincah meskipun sedikit gemuk.
Perhatikan mereka teralihkan lantaran ponsel Siti yang berdering.
__ADS_1
"Siapa sayang?" tanya Reyhan
"Nggak tahu, nggak kenal nomernya," jawab Siti lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu
"Ya selamat pagi," sapa Siti
"Selamat pagi bu, kami dari acara tv realiti show wanita hebat, ingin mengundang anda di acara kami yang tayang setiap Minggu malam, apakah bisa?" tanya seseorang di seberang sana
Siti sangat terkejut mendengar kabar ini. Saking terkejutnya ia sampai linglung sejenak.
"Ini bukan penipuan kan?" justru kata itu yang keluar dari mulut Siti
"Bukan bu. Kami melihat berita ibu di mana-mana baik media sosial maupun cetak, kami juga beberapa kali melihat anda di tv. Kami hanya ingin anda membagikan cerita anda untuk menjadi pelajaran dan motivasi bagi kaum perempuan bahwa untuk sukses tidak harus mengenyam pendidikan tinggi. Kisah hidup anda sangat inspiratif untuk dibagikan Bu. Bagaimana, ibu bersedia?" tanya pria itu lagi
"Iya, saya bersedia untuk memenuhi undangan itu," jawab Siti cepat
"Baik kalau begitu, Minggu depan ibu bisa datang ke lokasi yang akan saya kirim ke ibu ya. Acara di mulai pukul enam petang. Jadi ibu harus sudah disini sebelum pukul 6 petang," jelas pria itu
"Baik pak, saya akan datang tepat waktu," ucap Siti kegirangan.
Reyhan sejak tadi mengamati istrinya yang menunjukkan ekspresi tak biasa. Ia jadi penasaran apa yang di obrolkan dengan si penelepon.
"Siapa yang? Kenapa kamu bahagia gitu?" tanya Reyhan
Siti berlari ke arah suaminya, "ya ampun mas, apa yang kamu ucapkan satu Minggu lalu benar-benar terjadi. Kamu tahu, aku barusan di undang di acara tv wanita hebat. Katanya kisah aku inspiratif untuk dijadikan pelajaran dan inspirasi buat orang diluar sana terutama perempuan. Ya Allah mas aku seneng banget, aku harus kasih tahu ini sama mama sama ibu. Kamu jagain Sean sebentar ya," ucap Siti kegirangan lalu berjalan menuju dimana kedua mertuanya berada.
__ADS_1
Reyhan masih terdiam, rasanya sudah lama sekali ia tak melihat Siti yang kegirangan seperti itu. Pria itu mengulum senyumnya, dalam hatinya ia sangat bangga dengan wanita yang dahulu dikatai sebagai wanita terkutuk dan pembawa sial itu. Seandainya saja bukan adiknya yang mengatakan itu maka dirinya sendiri yang akan memberikan pelajaran, batin Reyhan.
Bersambung