
Setelah satu Minggu berusaha untuk memulihkan kondisinya, Siti akhirnya bisa beraktivitas seperti biasa, ia sudah bisa melakukan apapun yang ia mau. Bahkan ia sudah bisa menyusui Sean untuk pertama kalinya. Siti bersyukur masih diberi kesempatan untuk hidup, koma dalam waktu tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar. Ia melewatkan momen tumbuh kembang Sean.
Mulai hari ini dan seterusnya Siti akan membayar waktu yang telah terbuang selama ia koma. Ia berniat akan mengajak Reyhan berlibur ke luar kota. Ia ingin menghabiskan waktu bersama dua laki-laki yang amat di cintanya.
"Mas." Panggil Siti pada Reyhan yang berdiri di depan cermin
"Apa sayang?" Ucap Reyhan tak mengalihkan perhatiannya
"Aku mau liburan kira-kira kantor bisa ditinggal nggak ya. Aku mau menghabis waktu sama kalian berdua. Biar mama bisa istirahat juga, kamu tahu sendiri kan. Sean ikut aku pas nyusu doang. Kalau mau main atau jalan-jalan juga maunya digendong mama. Sean belum terbiasa sama aku mas meskipun aku ibunya dan aku mau membangun kedekatan dengan Sean."
Reyhan berjalan dan duduk di samping Siti yang sedang menyusui Sean.
"Mau liburan kemana?" Tanya Reyhan lembut
Siti nampak berpikir, "kemana aja mas, ke bali juga boleh. Aku cuma mau bayar waktu kebersamaan aku yang hilang sama kamu dan juga Sean." Jawabnya dengan wajah sedikit sendu.
"Boleh juga. Lagian kita nggak pernah liburan selama menikah." Ucap Reyhan yang matanya beralih pada Sean. Bayi montok itu sedang sibuk menyesap puncak lemak kembar milik Siti.
"Sean, itu punya ayah ya. Kamu mintanya jangan banyak-banyak." Ucap Reyhan pada anaknya.
Plak
"Sakit yang." Keluh Reyhan mengelus lengannya. "Tiga bulan puasa bukan hal yang mudah lho." Imbuhnya dengan cemberut di buat-buat.
"Ya sekarang kan udah bisa buka puasa. Udah ah, kamu turun duluan aja nggak apa-apa. Sean masih lama."
"Nggak mau. Aku maunya sarapan yang sama kayak Sean." Rengek Reyhan
Siti hanya menghela nafas panjang mendengar ucapan Reyhan. Tak berselang lama Sean sudah kembali tidur dengan mulut sedikit terbuka. Siti hendak berdiri berniat meletakkan Sean di boxnya, namun dengan cepat tangan Reyhan memegang pergelangan tangan Siti membuat wanita itu berhenti melanjutkan aktivitasnya.
"Taruh sini dulu, aku mau kayak Sean." Rengek Reyhan.
"Ya aku tidurin di boxnya dulu mas."
__ADS_1
"Nggak usah kelamaan, udah taruh kasur sini aja dulu. Nggak bakal jatuh juga dia." Ucap Reyhan menepuk ranjang di sebelahnya.
Siti menurut, ini masih pagi dan tak mungkin ia memulai pagi dengan perdebatan, pikirnya.
"Bukain." Lagi-lagi Reyhan merengek dengan wajah melasnya
Tanpa aba-aba Reyhan langsung menyerang Siti, ia merindukan lemak kembar Siti yang kini terlihat lebih penuh dan bulat sempurna sejak menyusui Sean.
Reyhan melakukan hal yang sama seperti Sean tadi, ia menyesap puncak lemak kembar Siti dengan rakusnya. Kerinduan yang mendalam membuat Reyhan dan Siti tenggelam dalam hasrat yang sama.
Semakin lama kepala Reyhan semakin tenggelam diantara dua undukan lemak kembar Siti. Ia meninggalkan banyak karya di sana. Siti merasa sudah dibawa terbang oleh Reyhan, ia mencengkram kuat pundak Reyhan hingga meninggal bekas lusuh di kemeja pria itu.
Gerakan Reyhan semakin brutal saat mendengar suara pekikan yang diciptakan Siti. Perlahan tangan Reyhan menyusup kebawah. Ia menuju mangkok Siti yang ternyata sudah basah. Ia memasukkan satu jarinya dan mengaduk aduk isi mangkok Siti. Suara Siti yang semakin meresahkan membuat Reyhan harus membungkam bibir Siti dengan memberi sensasi yang membuat Siti semakin gerah.
Lama tak mengunjungi mangkok Siti membuat sendok milik Reyhan tegangan tinggi. Ia tak mau membuang waktu lagi, ia lupa dengan meeting nya pagi ini, ia lupa dengan pekerjaan yang sudah menunggunya, dan ia juga melupakan kedua orangtuanya yang sudah duduk menunggu di meja makan untuk melakukan sarapan.
Reyhan sedikit kesulitan memasukkan sendoknya ke mangkok Siti, mungkin karena beberapa bulan tak terpakai membuat mangkok itu sedikit menyempit, pikir pria yang kini sedang berusaha menenggelamkan sendoknya.
Reyhan harus bersabar dengan memasukkan sedikit demi sedikit sendoknya, ia perlahan lahan mendorong sendok itu dengan diiringi suara pekikan dari Siti yang membuat Reyhan ingin mencekik dirinya sendiri. Suara lirih Siti benar-benar membangunkan hasrat Reyhan yang nyatanya kini mangkok Siti sangat sulit ditaklukkan. Dengan sedikit frustasi ia mendorong sendoknya dengan satu hentakan yang sedikit keras dan
Akhirnya seluruh sendok Reyhan sudah benar-benar tenggelam dalam mangkok yang memberi sensasi kehangatan itu.
Niat Reyhan yang hanya ingin merasakan seperti yang Sean rasakan nyatanya berakhir dengan tenggelamnya sendok miliknya. Suara Siti yang membuat sendoknya terbangun dan sulit di kendalikan membuat Reyhan tak bisa menahan dirinya. Ia menaik turunkan sendoknya hingga menciptakan suara semacam orang yang sedang......
Tepuk tangan.
Semakin lama suara Siti semakin menggairahkan dan itu membuat Reyhan semakin bergerak cepat. Saat sedang fokus dengan kegiatannya tiba-tiba
Tok tok tok
"Reyhan, Siti ayo sarapan. Makanan udah siap dari tadi." Teriak Bu Lia
"Iya ma, se...Ben..ah." Jawab Reyhan tak jelas dan itu membuat Bu Lia mengernyitkan dahinya bingung.
__ADS_1
"Kamu ngapain sih, kalau udah selesai buruan turun. Udah siang lho ini." Teriak Bu Lia
"Iya ma.. ini udah... Ah akhirnya selesai." Jawab Reyhan bersamaan dengan mereka yang sudah mencapai puncaknya bersama.
Reyhan merobohkan dirinya di atas Siti. Melakukan sesuatu yang menguras tenaga di pagi hari dan melakukannya sebelum sarapan membuat Reyhan lemas. Ia berbaring di samping Siti dengan nafas ngos-ngosan.
Sementara Bu Lia yang masih berdiri di depan kamar Reyhan dan Siti nampak garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia memikirkan apa yang sedang dilakukan anak dan menantunya di dalam sehingga di panggil sejak tadi tak kunjung keluar. Karena sudah lama berdiri di sana Bu Lia memutuskan meninggalkan kamar anaknya dengan pikiran yang sama.
"Buruan mandi mas, aduh berantakan lagi kan aku jadinya." Protes Siti
"Kamu seneng kan?" Goda Reyhan. "Ke kamar mandi barengan aja gimana?" Ucapnya lagi
"Nggak. Malah tambah lama lagi, seharian nggak keluar kamar jadinya kita." Tolak Siti
"Iya, iya. Ya udah aku mandi dulu ya."
Sementara di lantai dasar
"Masih ngapain mereka ma?" Tanya pak Dani yang sudah nampak menahan lapar
"Nggak tahu, nggak jelas juga tadi si Reyhan bilang apaan. Kita sarapan duluan aja pa, udah laper mama juga." Ucap Bu Lia mengambil sehelai roti dan dioles selai.
Tap tap tap
Terdengar langkah kaki yang sedang menuruni anak tangga, nampak Siti dan Sean yang berada dalam gendongannya. Siti memutuskan untuk turun lebih dulu sebelum ia membersihkan diri. Rasa lapar lah yang membuatnya percaya diri untuk makan sebelum mandi.
"Reyhan mana?" Tanya bu Lia seraya menyodorkan tangan untuk menggendong Sean.
"Masih mandi ma." Jawab Siti duduk dan mulai mengolesi rotinya dengan selai
"Mandi? Jam segini baru mandi?" Gumam Bu Lia pelan
Sejurus kemudian ia mengerti maksud Siti. Kini pikirannya sudah terbuka, ia mengerti apa yang dilakukan Reyhan dan Siti saat ia mengetuk pintu tadi.
__ADS_1
"Pantesan suaranya nggak jelas." Gumam Bu Lia seraya berjalan meninggalkan meja makan
Bersambung