Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
31. tanggungjawab


__ADS_3

Wanita itu terlihat mengerjpakan mata setelah beberapa saat tertidur.


"Mbak, udah bangun? Yuk minum dulu." Ucap Siti membantu wanita itu duduk dan memberikan segelas air putih.


Sedetik kemudian ia teringat akan sang ayah.


"Ayah, ayah saya mana?" Tanya wanita itu panik


"Mbak, mbak tenang dulu. Ayah mbak udah ada di ambulans. Kita antar beliau ke peristirahatan terakhirnya sama-sama. Tapi Mbak harus tenang." Ucap Siti berusaha sekuat mungkin untuk menenangkan wanita itu


Wanita itu sekilas melihat Reyhan, ia tak menyerangnya lagi seperti tadi, ia sudah bisa menenangkan dirinya sendiri. Namun tatapan dinginnya itu masih ia tunjukkan pada Reyhan.


Siti menuntun wanita itu ke halaman rumah sakit. Nampak ambulans beserta petugas pengantar jenazah sudah siap.


"Kita ikuti dari belakang ya mbak." Ucap Siti


Wanita itu hanya mengangguk lalu masuk mobil.


Saat di dalam mobil


"Mas, dia sebatang kara. Apa yang harus kita lakukan? Setidaknya ada yang harus kita lakukan untuk bantu dia." Ucap Siti.


"Aku sih tadi sempat kepikiran untuk bantu dia di kerjaan ya. Barangkali dia mau kerja di kantor kan. Kan kalau dia kerja di kantor, setidaknya aku nanggung perekonomian dia. Jadi dia nggak kekurangan untuk biayai hidupnya. Menurut kamu gimana?" Tanya Reyhan meminta pendapat


"Boleh. Ntar coba aku ngomong sama dia."


Tak lama kemudian mereka sampai di tempat pemakaman. Wanita itu kembali terduduk lemas saat jasad sang ayah di masukkan ke dalam liang lahat. Siti tak henti-hentinya memberikan sentuhan dan juga ucapan penenang.


Setelah beberapa lama di sana Siti mengajak wanita itu pulang.


"Rumahnya mana mbak. Biar kita antar." Tanya Siti merangkul pundak wanita itu

__ADS_1


"Saya nggak punya rumah. Saya dan ayah baru saja di usir ibu tiri saya karena ayah nggak bisa ngasih apa yang dia mau." Jelas wanita itu dengan mimik wajah murung


"Ya udah. Sementara malam ini mbak tidur di rumah kita. Besok pagi-pagi kita cari kontrakan ya. Mbak udah kerja?" Tanya Siti lagi


"Saya hanya jualan kue buatan ibu tiri saya. Biasanya saya akan jualan keliling, kalau untuk kerjaan tetap saya nggak ada." Ucap wanita itu jujur.


"Kebetulan kalau begitu. Suami saya bermaksud untuk memberikan pekerjaan di kantor kita. Mau?" Ucap Siti menawarkan


"Tapi saya hanya lulusan SMA."


"Nggak apa-apa, nanti ada yang ngajarin dari bawah sampai kamu bisa." Ucap Reyhan yang sejak tadi diam


Wanita itu nampak berpikir, terbesit penyesalan karena tadi ia hendak membawa Reyhan ke kantor polisi. Namum di detik berikutnya ia mewajarkan tindakannya itu, ia juga mewajarkan tindakan Reyhan yang mencarikannya rumah kontrakan dan juga pekerjaan. Karena memang harusnya ia melakukan itu, batin wanita itu.


"Mbak." Panggil Siti yang melihat wanita itu sejak tadi diam


"Iya mbak. Saya mau." Jawab wanita itu cepat.


"Saya Mawar mbak. Panggil nama aja, mbak lebih tua dari saya." Ucap Mawar


"Iya, pulang yuk. Kita istirahat." Ucap Siti


Wanita itu menurut, ia tak tahu harus senang atau sedih. Di satu sisi ia sedih kehilangan ayahnya, namun disisi lain ia senang karena akan mendapatkan pekerjaan tetap dan juga rumah. Untungnya pria ini bersedia bertanggung jawab menanggung hidupnya, pikir wanita itu


Sementara itu, di tempat lain bu Lia dan pak Dani nampak cemas karena sejak tadi ponsel Reyhan dan Siti tak bisa di hubungi. Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan mereka baru saja sampai di pekarangan rumah.


Bu Lia bergegas ke teras mendengar deru mobil yang masuk pekarangan rumahnya.


"Ya Allah Reyhan Siti kalian ini kemana aja? Kalau mau pulang telat ngomong dong, ngasih kabar jangan ngilang. Ka..." Ucapan Bu Lia terhenti karena melihat wanita yang berdiri di belakang Reyhan dan Siti.


"Siapa?" Tanya Bu Lia pada Reyhan dan Siti.

__ADS_1


"Suruh masuk dulu lah ma, kita duduk. Nanti aku jelasin apa yang terjadi." Pinta Reyhan


"Memang apa yang terjadi." Tanya Bu Lia


"Ya mangkanya kita duduk dulu." Pinta Reyhan sekali lagi.


Reyhan mulai menceritakan kejadian pulang kerja sampai pemakaman pak Amin, ayah Mawar. Bu Lia hanya menutup mulutnya karena terbuka dengan lebar.


"Kamu selalu ceroboh Rey." Ucap pak Dani yang rupanya tak terkejut lagi dengan apa yang terjadi dengan Reyhan


Bu Lia beralih menatap Mawar. Wanita itu melihat mawar lekat-lekat. "Maafkan anak Tante ya nak. Kamu boleh istirahat dulu. Ti bawa Mawar ke kamar tamu." Titah bu Lia.


Siti mengangguk. Ia mengajak mawar untuk beristirahat, tak lupa ia meminjamkan beberapa helai pakaian untuk gantinya.


"Kamu istirahat dulu. Aku keluar ya."


Siti kembali ke ruang tamu. Ia melihat Reyhan yang tengah berbicara serius dengan kedua orangtuanya.


"Kamu yakin mau bawa Mawar ke kantor? Apa nggak berlebihan kamu menanggung hidupnya?" Tanya Bu Lia


"Apanya yang berlebihan ma? Dia nggak ada kerjaan, aku bantu. Dia nggak ada rumah aku bantu juga. Aku cuma bisa ngasih itu. Ayahnya meninggal gara-gara aku ma. Kalau bukan aku siapa lagi?" Tanya Reyhan


"Ya udahlah terserah kamu. Tapi satu pesan mama, kamu jangan berlebihan terlalu baik sama dia. Di perempuan, dia akan menyalahkan artikan kebaikan kamu. Kamu sudah bertanggung jawab dengan tempat tinggal dan juga kerjaan. Itu udah cukup, tapi kalau kamu sampai bantu dia ke urusan-urusan lain mama nggak ijinin." Ucap Bu Lia tegas


Siti yang sejak tadi diam, merasa kepalanya semakin berat, matanya mendadak buram.


Bruk


Siti pingsan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2