
Setelah beberapa saat Siti bercengkrama dengan keluarganya, ia pamit untuk istirahat. Selama berkumpul di depan tv Siti hanya fokus pada anak Tini dan suaminya serta kedua orangtuanya. Tini yang diam saja membuat Siti enggan untuk memulai bicara atau mulai bertanya padanya. Ia masih teringat betapa hinanya dirinya di mata Tini. Bahkan disaat mereka masih kecil saja Siti sudah terlihat buruk dimatanya.
Siti mengecek ponsel begitu sampai di atas ranjang miliknya. Nampak kamar Siti yang sudah lebih bagus dari terdahulu. Ia tak menyangka bapak ibunya ternyata mengelola dengan baik uang yang di kirim oleh Siti.
Terdapat beberapa pesan masuk dari Reyhan ketika Siti membuka ponselnya
Sayang aku udah sampai di penginapan, aku langsung istirahat ya. Cepek berjam-jam nyetir. Sampai jumpa besok.
Itulah salah satu pesan yang dikirim oleh Reyhan dengan menambahkan emoticon cium di akhir pesannya.
Siti tak membalasnya, ia juga memutuskan untuk tidur agar besok bisa menemui Reyhan dengan wajah fresh nya.
Dikamar lain, nampak Tini dan Haris yang belum terlelap. Entah mengapa sejak kedatangan Siti, Tini berubah menjadi diam.
"Kamu kenapa dari tadi diem aja?" Tanya Haris
"Nggak apa-apa. Kaget aja lihat mbak Siti."
"Kamu minta maaf sana. Tadi kayaknya juga mbak Siti nggak negur kamu sama sekali. Biar bagaimanapun kamu banyak salah sama dia." Ucap Haris menasehati
"Apa mbak Siti mau maafin aku?"
"Pasti di maafin, kamu lihat sendiri kan, selama di Jakarta mbak Siti kalau kirim barang buat bapak sama ibu, kamu sama Gendis nggak pernah lupa. Itu artinya mbak Siti nggak pernah benci sama kamu."
"Iya juga sih. Ya udahlah besok aku coba ngomong."
__ADS_1
Setelah itu mereka merebahkan diri di kasur untuk menjemput mimpi mereka.
Keesokan harinya Siti bangun tidur pagi-pagi sekali. Nyatanya ia tak pernah melupakan kebiasaannya sebelum berangkat ke kota, selalu membantu ibunya di dapur menyiapkan makan pagi.
"Istirahat aja Ti, kamu pasti masih capek." Ucap Bu Lastri begitu melihat Siti sampai di dapur.
"Nggak apa-apa Bu. Aku di Jakarta juga sering bantu budhe Janah siapin sarapan." Ucapnya mulai memotong sayuran. "Bu masak menu yang enak ya. Nanti calon menantu ibu mau kesini. Kebetulan dia kemarin yang antar aku pulang, tapi nggak mau mampir, dia langsung cari penginapan. Dan sekarang dia mau berkunjung ke sini." Ucap Siti menjelaskan.
"Wah kamu udah punya calon suami nak? Alhamdulillah, anak ibu hebat dapat orang kota." Ucap Bu Lastri senang.
"Alhamdulillah Bu. Aku berharap nanti bapak sama ibu beri kami restu untuk meneruskan hubungan lebih lanjut." Harap Siti
"Apapun yang kamu jalani akan ibu dukung nak. Selagi itu baik buat kamu. Ibu sama bapak hanya bisa menjadi pendukung, penyemangat dan juga pendengar yang baik untuk keluh kesah kamu dan juga kisah bahagia kamu nantinya. Mudah-mudahan Tuhan juga merestui hubungan kalian."
"Oh ya Bu, aku udah nggak kerja sama budhe lagi. Aku udah pindah ke salon kecantikan, baru mau pindah sih Bu, soalnya salonnya masih di renovasi. Mangkanya aku bisa pulang."
"Alhamdulillah. Buah dari kesabaran dan ketabahan kamu terjawab sudah nak. Kamu tinggal memetik hasil perjuangan kamu selama ini. Ibu bangga sama kamu. Doa ibu dan bapak akan selalu menyertai setiap langkahmu nak."
Pukul 8 pagi Reyhan sudah sampai di rumah Siti. Siti memang meminta Reyhan untuk datang pagi-pagi agar bisa sarapan di rumahnya. Dengan senang hati Reyhan mengabulkan permintaan wanita istimewanya itu.
"Eh itu kayaknya mas Reyhan Bu. Sebentar aku Susul ke depan." Ucap Siti menuju pintu utama begitu mendengar deru mobil masuk halaman rumahnya
Ternyata benar dugaannya, Reyhan nampak turun dari mobil dan berjalan menghampiri Siti.
"Langsung masuk yuk. Udah di tunggu sama yang lain." Ucap Siti menggandeng tangan Reyhan.
__ADS_1
Reyhan datang di sambut baik dan ramah oleh keluarga Siti. Setelah memperkenalkan diri dan bersalaman dengan keluarganya satu persatu, Reyhan langsung diajak menuju meja makan.
"Jangan sungkan nak, ambil apapun yang kamu mau." Ucap Bu Lastri pada Reyhan
"Iya Bu. Terimakasih."
"Sayang banget kamu nggak bisa ketemu sama suami Tini, udah berangkat kerja dari jam tujuh tadi." Ucap pak Rusdi
"Kerja dimana pak?" Tanya Reyhan mencoba untuk membangun sebuah kedekatan dengan keluarga Siti
"Pabrik sepatu ujung jalan sana nak. Kalau kamu kayaknya nggak perlu ditanya kerjaannya ya. Pasti pemilik perusahaan." Ucap pak Rusdi menebak
"Ah bapak bisa aja. Masih merintis kok pak." Ucap Reyhan merendah.
Tini sejak tadi hanya diam saja. Ia berkali-kali menepuk pipinya untuk memastikan apakah yang ia lihat ini nyata atau tidak. Bagaimana tidak? Seorang Siti yang menurutnya buruk rupa, pembawa sial dan lahir sebagai kutukan kini telah berubah 360° berbeda, ia seperti lahir sebagai malaikat yang merubah nasib keluarganya yang semula pas-pasan kini serba berkecukupan.
"Jangan diem aja Tin, jangan heran kalau aku sekarang sudah berbeda, aku berubah juga karena hinaan kamu. Aku begini karena kamu juga, jadi aku sangat berterima kasih karena dulu sudah menghidupkan semangat aku untuk menjadi lebih baik. Apalagi sebelum kamu nikah sama Haris kamu mati-matian banget buat sembunyikan aku, biar Haris nggak tahu kalau kamu punya kakak buruk rupa." Ucap Siti yang melihat Tini diam saja.
Reyhan yang sedikit banyak tahu mengenai masa lalu Siti hanya menenangkannya melalui sentuhan di tangannya. Sedangkan pak Rusdi dan Bu Lastri hanya diam mendengar Siti berbicara begitu. Tak mungkin juga mereka membela Tini, biar bagaimanapun Tini tetapi salah.
"Sudah nak lupakan masa lalu. Sekarang tatap masa depanmu dengan orang-orang yang mencintaimu dan kamu cintai." Ucap bu Lastri menengahi.
Siti nampak sibuk meladeni Reyhan. Pria itu bahagia diperlukan dengan baik oleh Siti dan keluarganya. Bahkan Siti sudah melayaninya seperti suami istri Eh bukan ya, belajar mengerjakan tugas sebagai istri untuk Reyhan maksudnya. Bagi Reyhan melayani hanyalah ungkapan yang tepat untuk urusan ranjang.
Bersambung
__ADS_1