
Reyhan dan yang lain berhamburan ke arah Siti.
"Angkat Rey angkat." Ucap Bu lia panik.
Reyhan dengan gerakan cepat mengangkat tubuh Siti lalu dibaringkan di sofa. Bu Lia datang dengan minyak gosok lalu diusapkannya ke hidung Siti.
"Kamu kalau Siti udah kelihatan sakit kenapa nggak langsung pulang sih tadi. Kamu kan bisa telepon mama buat jemput Siti, nggak perlu dia ikut ke pemakaman." Omel Bu Lia pada Reyhan
"Udah ma, nggak perlu dibahas yang udah lewat." Ucap pak Dani
Tak lama kemudian mata Siti mengerjap. Perlahan-lahan ia membuka matanya dengan sempurna.
"Sayang, kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?" Tanya Reyhan
"Nggak, aku nggak apa-apa. Sedikit sakit aja kepalanya. Perut aku rasanya nggak enak, mual banget." Keluh Siti.
"Kamu telat datang bulan nggak Ti?" Tanya Bu Lia
Siti nampak berpikir, "Iya ma, aku udah satu bulan nggak datang bulan. Tapi memang haid aku dari dulu nggak teratur ma." Ucap Siti menjelaskan
"Sebentar, mama ambil sesuatu dulu." Ucap Bu Lia pergi dengan terburu buru
Reyhan dan Siti hanya saling pandang. Tak lama kemudian Bu Lia kembali datang dengan membawa benda tipis yang berukuran sedikit panjang
"Besok pagi habis bangun tidur kamu tes pakai ini ya." Ucap Bu Lia menyodorkan alat tes kehamilan
"Apa menurut mama aku hamil?" Tanya Siti menerima alat itu
Bu Lia mengangguk semangat, "Nggak ada salahnya mencoba." Ucapnya. "Kamu ke kamar istirahat, mama buatkan yang anget-anget, biar perut kamu enak."
"Nggak usah ma. Aku jadi ngerepotin mama." Ucap Siti tak enak
__ADS_1
"Nggak. Mama nggak merasa direpotkan. Udah Rey, bawa istrimu ke kamar." Titah Bu Lia
Reyhan membantu Siti untuk bangkit dan berjalan ke kamar. Ia berdoa dalam hati mudah-mudahan dugaan sang ibu benar bahwa Siti sedang hamil.
Sementara itu sejak Siti menerima alat itu ia berubah menjadi sedikit murung. Ia takut jika hasilnya tak sesuai dengan harapan sang ibu mertua. Ia takut jika semua orang kecewa jika terlalu berharap dirinya hamil.
"Kok sedih, kenapa?" Tanya Reyhan duduk di tepi ranjang
"Nggak apa-apa mas. Aku hanya takut kalau hasil dari tes ini nantinya akan mengecewakan banyak orang. Aku takut apa yang mama harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan."
"Jangan begitu sayang. Bukankah kita harus selalu berpikir positif, berucap pun harus yang positif? Apa yang kita pikirkan dan kita ucapkan adalah doa. Jangan berpikir kamu akan mengecewakan mereka. Udah ya, aku nggak mau kamu banyak pikiran. Aku maunya kamu selalu bahagia." Ucap Reyhan mengecup singkat punggung tangan Siti. Hal sederhana yang selalu dilakukan Reyhan ketika istrinya sedang sedih, atau ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Sederhana memang, tapi itu membawa pengaruh besar bagi Siti, atau bahkan mungkin bagi sebagian kaum hawa.
Tak lama kemudian terdengar pintunya diketuk sedetik kemudian Bu Lia nampak menyembul dari pintu yang dibukanya sendiri itu. Ia membawa nampan berisi mangkok dan juga segelas susu hangat.
"Ini kamu makan. Nggak apa-apa nggak ada nasinya, yang terpenting perut kamu terisi. Habiskan selagi hangat." Ucap Bu Lia
"Makasih ma, maaf aku jadi bikin repot mama." Ucap Siti
Siti mengangguk tersenyum. Ia bersyukur mendapatkan ibu mertua seperti Bu Lia. Wanita itu selalu bersikap baik di depannya, menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya.
Reyhan dengan telaten menyuapi Siti sup berisi sayuran dan ayam itu. Untuk pertama kalinya Reyhan menyuapi Siti dalam keadaan sakit.
"Udah mas, aku udah kenyang." Ucap Siti menutup mulutnya
"Tinggal dikit aja kok."
"Nggak mau mas." Rengek Siti
"Ya udah tidur gih. Aku pijit kakinya."
Siti menurut namun sedetik kemudian, "Nggak usah mas, kamu lebih capek dari aku. Nggak apa-apa. Kamu tidur juga." Ucapnya
__ADS_1
"Nggak, aku pijit bentaran aja." Kekeh Reyhan
Siti malas untuk berdebat, rasanya ia tak punya tenaga untuk membuat Reyhan mengerti bahwa ia tak apa-apa. Namun nyatanya dengan sedikit pijatan di kaki Siti membuat wanita itu nyaman, tak membutuhkan waktu lama Siti sudah tertidur dengan pulas. Reyhan memutuskan untuk ke dapur sebelum menyusul Siti tidur, melewatkan makan malam ternyata membuatnya kelaparan.
Sementara di kamar lain, Mawar juga masih terjaga. Mawar celingukan kesana kemari mencari letak kamar mandi.
"Belum tidur?" Tanya Reyhan saat akan ke dapur
"Saya cari kamar mandi pak." Ucap Mawar
"Oh kamar mandi ada di belakang dapur. Ayo saya tunjukkan." Ajak Reyhan
Mawar mengikuti langkah pria itu dari belakang. Ia terlihat gagah dengan balutan jas yang masih belum ia lepas sejak pagi.
"Terimakasih pak." Ucap Mawar
Reyhan mengangguk lalu kembali ke dapur untuk makan. Tak lupa ia membuat susu jahe untuk dirinya sendiri.
"Kamu nggak makan dulu War?" Tanya Reyhan saat Mawar melintas di sampingnya.
"Nggak pak, saya nggak lapar." Jawabnya
"Jangan sungkan, dari tadi sore kita bareng dan kita sama-sama belum makan. Kamu ambil aja makanan yang ada di meja dapur." Ucap Reyhan memberi tahu.
"Iya pak nanti saya ambil."
Reyhan hanya mengangguk lalu meneruskan makannya.
Sedangkan Mawar juga melanjutkan langkahnya, ia baru menyadari sesuatu. Pria yang sudah membuat ayahnya tewas ditempat itu sangat tampan dan gagah. Tiba-tiba Mawar mengulum senyum memikirkan sesuatu.
Bersambung
__ADS_1