
"Mas, kok kamu jadi gini sih. Itu kasian loh Mawar. Sebagai sesama perempuan aku ngerasain mas, apa yang terjadi dengan Mawar itu nggak mudah untuk dilewati. Apalagi seorang diri." Ucap Siti duduk di samping suaminya
"Itu kan kesalahan mereka. Dan aku nggak ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi dengan Mawar." Ucap Reyhan yang tetap kekeh pada pendiriannya
"Aku tahu mas kalau apa yang dialami Mawar itu karena kesalahannya sendiri. Tapi kamu nggak berhak hukum dia. Udahlah mas, aku yakin Arga nggak akan berani macam-macam lagi sama kamu ataupun aku. Arga harus mempertanggung jawabkan perbuatannya mas."
"Sekarang ini Arga juga sedang dalam masa mempertanggung jawabkan perbuatannya yang. Dia sudah melakukan tindakan kriminal dengan menculik kamu. Apa kamu pikir itu hal yang sepele juga. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu dan anak kita."
"Tapi sekarang yang terjadi aku nggak apa-apa kan. Udah ya, kasian Mawar. Dia butuh Arga mas."
"Sayang, seandainya saja kamu tahu apa yang di lakukan Mawar di belakang kamu. Pasti kamu nggak akan mau mohon-mohon aku demi bantu dia."
"Memang apa yang udah dia lakukan?" Tanya Siti bingung
"Dia berusaha merusak rumah tangga kita. Kamu ingat, waktu mama minta tolong buat pasang gas. Sebenarnya bukan itu tujuannya. Mama lihat ada bekas lipstik di jas aku. Dan kamu tahu siapa yang membuat bekas itu? Mawar. Mawar sengaja pura-pura jatuh di belakang aku biar dia bisa membuat karya di jas aku dan pasti kamu tahu kelanjutannya tanpa aku harus bilang kan." Ucap Reyhan sedikit emosi karena Siti kekeh untuk memintanya mencabut tuntutan Arga. "Bahkan masih banyak lagi cara dia untuk membuat kita salah paham dan bertengkar. Kamunya aja yang nggak sadar." Imbuhnya
Siti sedikit terkejut dengan ucapan Reyhan. Siti jadi ingat dengan ucapan Mawar beberapa bulan lalu yang mengatakan Reyhan sering beli makan siang untuknya, apa itu salah satunya, pikir Siti.
Melihat Siti yang diam saja membuat Reyhan kembali berucap, "apa kamu masih berniat untuk bantu dia dengan cara terus membujukku agar mencabut tuntutan Arga? Kamu udah tahu Sifat asli Mawar, masih mau bantu dia?" Tanya Reyhan
"Tapi mas, rumah tangga kita sampai sekarang baik-baik aja kan. Itu sudah membuktikan kalau cinta kita kuat mas. Terlepas dari apapun yang dilakukan Mawar sama kita, anak yang di kandung Mawar nggak salah apa-apa mas. Setidaknya kita pikirkan nasib anaknya Mawar. Kamu sebentar lagi juga akan punya anak mas."
Reyhan menghela nafas berat, "kamu terlalu baik, kamu terlalu memikirkan nasib orang lain tapi kamu nggak peduli dengan diri kamu sendiri. Terkadang kita harus tega sama orang yang, buat pelajaran dia juga." Ucap Reyhan berjalan keluar kamar
Siti mengingat semua rentetan kejadian beberapa bulan lalu. Ia menyadari memang Mawar selalu mengatakan hal-hal yang bisa mengakibatkan dirinya salah paham dengan Reyhan. Ia tak menyangka Mawar yang terlihat baik berusaha menjatuhkan rumah tangannya.
*
__ADS_1
Keesokan harinya Mawar mencoba untuk mengunjungi Arga di tahanan. Ia datang membawa makanan dan juga camilan ringan.
"Mawar, kamu kok tahu aku disini?" Tanya Arga terkejut dengan kedatangan kekasihnya
"Satu kantor bicarain kamu mas. Kamu ditahan disini pun aku dengar dari mereka. Ini aku bawa makanan buat kamu. Di makan ya, dihabiskan. Aku cuma bisa kasih itu." Ucap Mawar mendorong satu kantong kresek besar yang ia letakkan di atas meja.
"Makasih ya. Bahkan kamu masih peduli sama aku disaat aku sedang begini." Ucap Arga sedikit menyesal dengan apa yang terjadi
"Kamu pikir aku sayang kamu karena harta? Lagian aku heran mas sama kamu. Kok bisa kamu berbuat begini, kamu nggak mikir resiko apa yang bakal kamu hadapi kedepannya. Kamu terlalu ceroboh mas." Ucap Mawar menyampaikan unek-unek nya.
"Iya aku nggak pikir panjang soal ini." Ucap Arga sedikit menunduk
"Bukan hanya soal ini mas, kamu juga ceroboh dalam hal lain. Gimana nasib aku sama janin yang aku kandung mas? Kita butuh kamu."
Arga tak menjawab, ia mengusap kasar wajahnya.
"Apa kamu bilang? Nasib janin yang kamu kandung?" Ucap ibu Arga yang entah sejak kapan berdiri di dekat meraka.
"Ma aku bisa jelasin ma." Ucap Arga panik
Ibu Arga dengan cepat mengangkat tangannya menandakan ia meminta Arga untuk berhenti berucap. Arga diam seketika setelah ibunya mengangkat tangan.
Ibu Arga berjalan mendekati Mawar.
"Kamu dihamili anak saya?" Tanya ibu Arga
Mawar mengangguk pelan, "iya Bu." Jawabnya kemudian
__ADS_1
"Apa jaminannya bahwa kamu berkata benar." Tanya ibu Arga
"Saya hanya bisa membuktikan ketika anak ini lahir Bu. Ibu bisa melakukan tes DNA." Jawab Mawar dengan kesal lantaran ibu Arga meragukannya
"Ma, dia memang mengandung anakku ma. Kami sering melakukannya dan sampai akhirnya Mawar hamil." Ucap Arga menengahi
"Mama benar-benar nggak habis pikir sama kamu Ar, kamu menghamili anak orang, kamu menculik istri orang. Otak kamu dimana sih sebenarnya?" Ucap ibu Arga tak habis pikir
"Iya ma maaf. Aku sadar aku salah." Ucap Arga menyesal
"Percuma kamu menyesal sekarang. Semua sudah terjadi dan harusnya mama nggak sewa pengacara buat kamu Ar. Kamu harus disini untuk membayar apa yang kamu perbuat."
Mata Arga dan Mawar sama-sama membulat.
"Ma kok gitu sih. Aku nggak mau disini ma, lagipula gimana nasib Mawar dan calon anakku nanti." Ucap Arga panik
"Kamu akan tetap menikah biar mama sama papa yang urus. Setelah menikah kamu tetap menjalani hukuman kamu. Mama nggak akan bantu." Ucap ibu Arga tegas.
"Astaga ma, kenapa jadi begini sih. Ma please ma. Aku anak mama apa bukan? Kenapa mama jahat sama aku ma." Protes Arga.
"Bu, kesalahan sebesar apapun yang dilakukan mas Arga, dia tetap anak ibu. Apa ibu tega melihat mas Arga yang menderita di penjara?" Ucap Mawar mencoba menengahi
"Kamu ikut saya pulang. Selama Arga di penjara kamu akan tinggal di rumah saya. Nanti akan saya urus pernikahan kalian. Ayo ikut saya pulang."
"Ma, aku ikut." Rengek Arga
Ibu Arga tak menghiraukan rengekan sang anak. Ia menggeret tangan Mawar untuk ikut dengannya.
__ADS_1
"Astaga Arga, mungkin pas pembagian ibu yang baik kau sedang ngopi. Itu sebabnya aku kebagian ibu yang begini. Ya Tuhan, udah kayak ibu tiri." Gumam Arga frustasi
Bersambung