Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
12 lempar gombal


__ADS_3

Setelah beberapa bulan menabung ia bisa mewujudkan mimpinya memiliki wajah yang putih bersih tanpa noda, sudah persis seperti iklan deterjen. Jika dilihat dari fisik Siti mungkin orang tak akan percaya jika dirinya adalah seorang baby sitter, bahkan Dahlia saja yang menjadi majikannya merasa insecure, ia khawatir jika suaminya kecantol oleh kecantikan Siti


"Aduh Ti, kamu cantik banget sekarang. Udah seksi, udah putih, mulus lagi. Saya jadi takut kalau mas Bima berpaling hati ke kamu." Ucap Dahlia bercanda


"Ah ibu, bisa aja. Nggak usah takut Bu, saya nggak akan begitu." Ucap Siti


Dahlia tertawa, "iya iya. Percaya kok, saya yakin mas Bima setia sama saya." Ucap Dahlia. "Eh ti, kamu nggak pengen pulang kampung, udah setahun kamu kerja nggak pulang. Kalau mau cuti, nggak apa-apa cuti aja." Sambung Dahlia


"Nggak bu, saya pulang nanti kalau udah bisa bawa uang banyak." Ucap Siti tertawa kecil yang diikuti oleh Dahlia.


Anak asuh Siti yang kini sudah berusia satu tahun lebih nampak sudah sangat aktif, ia berjalan ke sana kemari tiada henti.


"Main di taman depan yuk dek. Kita jalan-jalan, boleh kan Bu." Tanya Siti pada Dahlia


Dahlia hanya mengangguk.


"Yeee kita jalan-jalan. Kita naik motor sama mbak Siti. Yeee." Ucap Siti sudah pantas jika di panggil ibu. Anak asuhnya hanya tertawa melihat tingkah Siti yang seperti anak kecil


Siti membawa Flora berjalan mengelilingi taman. Banyak berbagai macam penjual di sana, terdapat beberapa area permainan anak juga. Siti membelikan satu balon karakter berbentuk hello kitty berwarna pink.


Setelah tiga puluh menit di taman Flora merasa bosan, ia sedikit merengek dan rewel. Siti memutuskan untuk pulang, sebelumnya ia mampir terlebih dahulu di supermarket utuk membeli minum, ia sungguh sangat kehausan.


Saat masuk supermarket tak sengaja ia bertabrakan dengan seseorang hingga membuat Flo terkejut dan kembali merengek.


"Aduh mas, jangan main hape kalau jalan." Protes Siti seraya berusaha menenangkan Flo


"Maaf iya saya salah". Ucap pria itu


"Ya memang sa.." Siti berhenti berucap melihat siapa pria di depannya. "Mas Reyhan." Ucapnya lagi

__ADS_1


Reyhan hanya diam mengamati Siti, terakhir kali ia bertemu Siti di salon saat Siti membenarkan bentuk rambutnya. "Astaga, ini kamu Siti? Ya ampun sekarang beda banget. Lama nggak ketemu, jadi pangling. Kamu makin cantik aja." Puji Reyhan di akhir kalimat


Siti nampak tersipu, "Banyak yang lebih cantik di luar sana." Jawabnya dengan wajah memerah


"Ini anak asuh kamu?" Tanyanya melihat Flo yang berada dalam gendongannya


"Iya mas."


"Kamu mau masuk? Mau beli apa? Aku temani mau?" Ucap Reyhan menawarkan diri.


Nampaknya pria itu jatuh hati pada Siti, semenjak pertemuan keduanya dengan Siti, ia selalu memikirkan wanita itu. Dan sekarang ia lebih cantik dari yang terakhir kali ia lihat.


"Boleh kalau nggak ngerepotin." Jawab Siti senang


Mereka akhirnya masuk ke supermarket bersama, niat Siti yang hanya membeli minuman kini matanya kembali haus akan camilan.


Sesekali nampak Reyhan yang menatap Siti dengan tatapan dalam. Setelah puas di sana Siti menyudahi untuk berlama-lama di sana. Ia ingin lama-lama dengan pria yang kini bersamanya, namun ia terhalang oleh Flo yang harus segera dibawa pulang.


"Nggak, cuma jajanan doang kan. Nggak mahal juga. Aku boleh minta nomer kamu nggak sih, bolehlah sesekali kita nanti jalan bareng kalau kamu pas libur. Ada liburnya kan?"


"Ada kok mas, setiap hari minggu aku libur ngurus anak asuhku. Orangtuanya ada di rumah semua soalnya."


"Bagus kalau begitu, catet nomer kamu disini." Ucap Reyhan memberikan ponselnya. "Makasih ya." Ucapnya pada Siti setelah mengembalikan ponselnya


"Sama-sama, aku pulang dulu ya mas. Udah mau gelap, nanti dicari sama majikan aku."


"Kamu naik apa?"


"Aku bawa motor tadi."

__ADS_1


"Oh ya udah, kamu pulang aja. Keburu gelap."


Siti menurut, ia berjalan menuju parkiran dan melajukan motornya dengan pelan. Hatinya berbunga-bunga, seandainya saja Siti memakai helm yang tertutup seluruh wajah maka ia akan tersenyum dengan lebarnya. Baru kali ini Siti di dekati oleh seorang pria, lebih tepatnya setelah fisiknya berubah.


*


Pernikahan Tini yang menginjak satu minggu sedang hangat-hangatnya. Sangat terlihat bahwa Haris memang menerima Tini apa adanya. Haris sudah mengetahui bahwa Tini mempunyai seorang kakak yang bekerja di kota. Ia pun tahu wajah kakak iparnya dari sebuah foto keluarga. Haris sempat marah dengan Tini lantaran ia tak jujur dari awal dan ia juga mengakui bahwa ia malu punya kakak seperti Siti. Beruntung Tini menikah dengan pria yang cukup dewasa, Haris menanggapi kejujuran Tini akan ketidaksukaan terhadap sang kakak dengan bijak. Ia memberi pengertian pada istrinya itu untuk tak perlu bersikap tidak menghargai sang kakak.


Hati Tini memang sedikit luluh dengan Siti, lebih tepatnya saat ia menerima hadiah pertama berupa baju untuk lamarannya beberapa waktu lalu. Setelah itu tini dan kedua orangtuanya sering mendapat hadiah berupa barang dari Siti.


Setelah menikah Tini dan suaminya memutuskan untuk tetap tinggal di rumah orangtuanya. Tini tak tega jika harus meninggalkan orangtuanya hanya berdua. Haris pun menurut, ia sangat mengerti dengan tindakan Tini.


Di tempat lain, Siti tengah mengulum senyum di atas ranjangnya lantaran berkirim pesan dengan Reyhan. Baru kali ini ia berkirim pesan pada lawan jenisnya. Jadi sudah di pastikan tingkah Siti saat ini persis seperti ABG.


Ti kamu tahu nggak apa bedanya kamu sama Borobudur


Apa mas?


Kalau Borobudur candi, kalau kamu candu. Eeaaaa


Wajah Siti seketika memerah. Ia menampakkan gigi putihnya dengan lebar. Tak mau kalah ia membalas gombalan receh Reyhan.


Mas aku ngerasa aneh kalau aku chat an sama kamu


Kenapa begitu


Soalnya notifnya di hape, tapi yang getar hati aku. Yaaaaaah


Mereka nampak seperti ABG yang jatuh cinta. Mereka sama-sama melempar gombalan yang membuat keduanya terbawa perasaan. Siti baru kali ini merasakan jatuh cinta, apa iya ini jatuh cinta, secepat ini? Pikir Siti

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2