Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
37. Arga


__ADS_3

Melihat tatapan Bu Lia pada Mawar membuat Reyhan curiga bahwasanya sang ibu lah yang menempatkan Mawar sebagai office girl.


"Mama yang masukin Mawar sebagai office girl?" Tanya Reyhan menyusul sang ibu duduk di sofa.


"Iya, biar tahu rasa dia, berani sekali nantang mama." Jawab bu Lia kesal. "Mau protes?" Tanya Bu Lia dengan galak


"Nggak. Aku mah bodo amat mau dia bagian apa juga." Jawab Reyhan cuek


"Mama kesini mau bilang, kalau Arga udah balik ke Jakarta. Mama khawatir kalau dia kembali berusaha menjatuhkan perusahaan ini." Ucap Bu Lia khawatir


"Ma, aku udah bosen ya kalau harus berdebat atau bertengkar karena masalah perusahaan. Aku nggak apa-apa kok kalau dia yang nerusin perusahaan ini. Aku bisa nerusin perusahaan papa." Ucap Reyhan pasrah


Agam adalah cucu tertua di kelurga Bu Lia. Namun karena kesalahan kedua orang tua Agam di masa lalu membuat mereka tak di percaya lagi oleh nenek untuk memegang perusahaan terbesar di Jakarta. Hanya Bu Lia lah anak yang di percaya untuk mengelola perusahaan dan harus di teruskan oleh anak turun temurunnya.


Kakak adik Bu Lia adalah orang yang rakus akan harta. Mereka berniat akan menguasai seluruh harta nenek dan dinikmati berdua saja. Bu Lia adalah anak yang paling penurut dan memiliki hati baik diantara tiga saudaranya. Itu sebabnya Bu Lia menjadi kepercayaan nenek untuk meneruskan perusahaan yang di incar oleh kedua anaknya.


"Nggak. Mama diberi amanah untuk menjaga perusahaan ini dari orang-orang rakus seperti mereka. Lakukan apapun untuk mempertahankan satu-satunya harta peninggalan nenek Rey. Jangan sampai lengah apalagi putus asa." Ucap Bu Lia memberi semangat pada Reyhan agar tetap bertahan dengan tekanan yang entah kapan datangnya.


"Iya." Ucap Reyhan malas.


"Satu masalah belum selesai satu masalah datang lagi." Keluh Bu Lia memijat pelipisnya

__ADS_1


"Nggak usah di pikir ma, ini urusan aku. Biar aku yang menghadapinya."


"Harus, termasuk Mawar. Dia hadir juga membawa masalah."


"Iya mama. Aku juga akan menghempas jauh Mawar dari kehidupan kita kalau memang tindakannya udah keterlaluan. Mama bisa pegang kata-kata aku ma, aku udah berubah. Aku nggak main wanita lagi." Ucap Reyhan meyakinkan ibunya


"Untuk sekarang iya, nggak tahu nanti." Jawab bu Lia ragu.


Reyhan hanya menghela nafas berat.


"Ma, Siti sendirian di rumah?" Tanya Reyhan yang tiba-tiba ingat istrinya


"Eh iya. Ya udah mama balik." Ucap Bu Lia terburu buru pulang.


"Kamu digaji karena tenaga kamu ya, jangan buat anak saya mengeluarkan uang untuk pekerja yang malas seperti kamu." Tegur Bu Lia


"Saya nggak malas Bu. Saya sedang istirahat sejenak." Jawan Mawar santai


"Ada jam untuk istirahat dan juga bekerja. Jangan karena kamu adalah rekomendasi anak saya kamu bisa seenaknya. Satu hal lagi yang harus kamu ingat, anak saya hanya tanggung jawab dengan perbuatannya. Tapi jika kamu bekerja seenaknya dan kamu berpikir anak saya akan membiarkan kamu begini terus, kamu salah." Ucap Bu Lia dengan tatapan kebencian


"Ibu tidak perlu mengingatkan saya akan hal itu Bu. Saya juga sadar saya siapa."

__ADS_1


"Bagus kalau kamu sadar." Ucap Bu Lia lalu kembali melanjutkan langkahnya


Mawar semakin dibuat kesal saja oleh Bu Lia. Seandainya saja ia mempunyai incaran pekerjaan lain, ia akan mengundurkan diri dari jabatannya yang sekarang ini.


"Tapi tunggu, Bu Lia sangat khawatir jika anaknya jatuh hati sama aku. Akan sangat menyenangkan jika aku bisa bermain dengan ibu dan pria itu." Gumam Mawar seraya menampilkan senyum liciknya.


*


Jam menunjukkan pukul 12 siang. Semua karyawan berhamburan menuju luar kantor untuk mengisi perut yang sudah kosong, ada sebagian dari mereka yang memilih untuk mengisi perutnya dengan olahan yang ada di kantin kantor tersebut.


Reyhan yang berjalan keluar melihat sebuah mobil yang baru saja masuk halaman kantornya. Ia berhenti sejenak untuk mengetahui siapa yang datang. Tak disangka tank dinyana orang yang baru saja di bicarakan oleh ibunya datang ke kantornya. Arga berjalan dengan penuh wibawa ke arah Reyhan


"Lama kita tidak berjumpa." Ucap Arga memasukkan tangannya ke saku celana


Reyhan hanya tersenyum, "ada apa kau kesini? Kalau untuk membahas kepentingan mu, aku tidak ada waktu." Ucap Reyhan hendak melangkah melewati Arga namun pria itu merentangkan satu tangannya yang membuat Reyhan berhenti melangkah.


"Aku ingin melakukan penawaran dengan mu. Bagaimana kalau kita urus perusahaan ini bersama, pasti akan jauh lebih maju." Tawar Arga


"Aku tidak tertarik, kau bisa pergi sekarang."


Mereka saling tatap dengan tatapan tajam. Seakan ingin saling membunuh satu sama lain.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari sepasang mata sudah mengintip mereka sejak tadi.


Bersambung


__ADS_2