
Tak terasa sudah lima bulan usia kandungan Siti. Perutnya mulai menyembul dan pembengkakan mulai terjadi di beberapa bagian tubuhnya. Siti cemas badannya akan kembali seperti dulu lagi setelah melahirkan, namun Reyhan berhasil meyakinkan istrinya untuk tetap makan apapun yang ia mau tanpa perlu khawatir. Suaminya selalu meyakinkan Siti bahwa ia akan tetap mencintainya dalam keadaan apapun dan itu membuat Siti tenang.
Reyhan kini sedang berada di kelas ibu hamil. Siti sangat senang jika sudah berkumpul dengan para ibu hamil untuk belajar bagaimana agar ibu dan bayi sehat, serta kegiatan-kegitan apa saja yang dapat menunjang persalinan normal.
"Mas, perut aku terlalu besar untuk usia kandungan lima bulan. Udah kayak tujuh bulan aja, kamu terlalu sering mencekoki ku dengan camilan." Keluh Siti berjalan meninggalkan kelas yang telah usai
"Kata siapa? Nggak kok perut kamu normal, aku jadi gemas." Ucap Reyhan mengelus pelan perut Siti
"Mau mampir kemana?" Tanya Reyhan
"Nggak usah mas, langsung pulang aja. Mau rebahan, capek bawa perut besar kemana-mana. Aku jadi ingat masa lalu aku. Dulu aku juga gampang capek, baru jalan tiga menit udah ngos-ngosan." Ucap Siti tertawa
"Sekarang kan beda. Ada anak aku disini." Ucap Reyhan membuka pintu mobil untuk sang istri. "Sini cium dulu." Ucap Reyhan mengusap-usap perut sang istri dengan kepalanya.
"Geli ah." Ucap Siti menjauhkan kepala Reyhan dari perutnya.
Cukup hanya 10 menit perjalanan mereka sudah sampai rumah.
*
Mawar yang sudah bosan menjadi office girl di kantor Reyhan kini berusaha untuk mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Selain bosan dengan jabatannya ia juga bosan dengan rumah tangga reyhan dengan Siti yang berulang kali ia coba usik namun selalu gagal.
Sudah berbagai cara ia lakukan untuk mengusik ketenangan rumah tangga mereka namun bukannya pertengkaran yang ia dapatkan justru hubungan mereka semakin mesra seakan angin ribut yang ia ciptakan di tengah-tengah meraka tak membuat salah satu diantara mereka tumbang dan menyerah.
Ia sedang berjalan di trotoar jalan seraya membawa amplop coklat berisi surat lamaran pekerjaan. Ia sengaja berasalan sakit untuk tak masuk kerja. Ia harus bisa mendapatkan pekerjaan secepatnya, pikir wanita itu.
Mawar berjalan seorang diri di bawah terik matahari yang bersinar sangat menyengat seakan membakar kulit tubuhnya. Matanya yang tak sengaja menangkap penjual es Manado yang menggiurkan tenggorokannya. Ia memutuskan menyebrang jalan untuk beristirahat di sana dan menikmati es yang sudah menari-nari di tenggorokannya. Saking hausnya ia sampai tak fokus pada jalan yang masih ramai. Saat menyeberang ia hampir saja tertabrak oleh pengendara mobil.
"Woy jalan pakai mata." Ucap pria pemilik mobil yang hampir saja mencelakai Mawar
"Jalan dimana-mana pakai kaki. Lo pikir gue mahluk apaan jalan pakai mata." Jawab Mawar seraya mengambil amplop yang terjatuh
__ADS_1
Saat Mawar mendongakkan kepalanya ia terkejut lantaran pria yang berada di depannya adalah sepupu bosnya di kantor.
"Pak Arga kan?" Tanya Mawar
Arga mengernyit, "Kenal gue lo?" Tanya Arga
"Saya kerja di kantornya pak Reyhan. Beberapa kali saya lihat bapak datang ke sana." Ucap Mawar menjelaskan
Arga memperhatikan penampilan mawar yang memakai pakaian formal hitam dan putih lalu tangannya yang memeluk amplop coklat besar khas pelamar kerja
"Lo cari kerjaan?" Tanya Arga
"Ya pak. Saya bosan jadi office girl." Jawab Mawar jujur
Arga manggut-manggut. Ia memperhatikan penampilannya Mawar yang terkesan biasa saja namun ada daya tarik tersendiri bagi Arga. Ia mencari letak daya tarik itu dan menemukan tai lalat yang menambah kesan manis di wajahnya.
"Pengalaman kerja lo apa aja?" Tanya Arga
"Ya udah deh." Ucap Arga menerima ajakan Mawar yang entah ia sendiri juga tak tahu apa yang membuatnya begitu mudah menerima ajakan orang asing di depannya ini.
Mereka duduk berhadapan setelah memesan dua porsi es Manado.
"Jadi pengalaman lo pernah kerja apa aja?" Tanya Arga lagi
"Aku kerja ikut orang ya baru kali ini. Dulunya aku jualan kue buatan ibu tiri ku. Aku pengen cari kerjaan yang mungkin lebih baik dari office girl. Ya buruh pabrik atau pelayan di restoran gitu. Aku cuma lulusan SMA jadi ya susah cari kerjaan yang aku pengenin." Ucap Mawar
"Dulu kenapa mau jadi office girl kalau itu bukan keinginan lo."
"Aku kerja di sana karena pak Reyhan. Jadi, dia nggak sengaja nabrak ayah sampai meninggal dan dia itu mau tanggung jawab atas hidup aku, dia nampung aku di kantornya dan carikan aku kontrakan biar aku nggak luntang-lantung." Ucap Mawar menceritakan asal usul ia bekerja di kantor Reyhan
Arga sedikit terperanjat. "kok lo lapor polisi?" Tanyanya kemudian
__ADS_1
"Awalnya aku mau bawa dia ke kantor polisi, tapi aku kasian lihat istrinya. Apalagi dia bilang kalau dia menjanjikan aku pekerjaan dan tempat tinggal. Sedangkan waktu itu aku tidak ada rumah juga untuk aku tinggalin. Aku baru di usir dari rumah ibu tiriku. Aku nggak ada pilihan juga."
Arga manggut-manggut mendengar cerita Mawar. "Gue mau kasih lo penawaran, gimana kalau lo kerjasama sama gue. Lo nggak perlu keluar dari perusahaan Reyhan. Lo tinggal ikuti apa kata gue, gue bakal bayar lo mahal kalo lo berhasil." Tawar Arga
"Memang apa yang harus aku lakukan?" Tanya Mawar penasaran
"Ya ntar aja lah lo bertindak kalau dapat kode dari gue."
"Asal nggak bunuh pak Reyhan aja pak."
"Ya nggak lah. Gue nggak sekriminal itu. Gue cuma mau lo bantuin gue buat sedikit ngasih pelajaran ke Reyhan melalui istrinya"
"Hubungannya sama pengen menguasai perusahaan apa pak?"
"Gue mau memanfaatkan istrinya supaya Reyhan nggak bisa berkutik dan mau nggak mau menyerahkan perusahaannya ke gue. Eh tapi tunggu dulu, dari mana lo tahu kalau gue pengen menguasai perusahaan itu?" Tanya Arga heran
"Nggak sengaja denger obrolan karyawan kantor." Jawab Mawar jujur
"Nama lo siapa?"
"Sebut saja saya Mawar."
"Serius gue."
"Aku juga serius pak. Namaku Mawar."
"Mau terima tawaran gue kan?"
"Mau sih mau. Tapi kan aku kerjanya di kantor gimana cara kerjanya? Kan katanya target bapak si Siti, istrinya pak Reyhan." Tanya Mawar bingung
"Lo bisa hubungi gue di nomor ini kalau istrinya Reyhan ikut ke kantor. Udah itu aja, untuk selanjutnya itu urusan gue." Jawab Arga menyodorkan satu lembar kartu namanya.
__ADS_1
Bersambung