
Reyhan yang baru saja sampai rumah merogoh sakunya untuk meraih ponselnya yang berdering. Ia mengernyitkan dahinya begitu membaca nama si penelepon.
"Siapa Rey?" Tanya pak Dani
"Arga pa." Jawab Reyhan meletakkan ponselnya di telinga.
Reyhan menampilkan wajah yang penuh amarah begitu beberapa saat menerima panggilan dari Arga.
"Jadi kau yang bawa istriku Ar, katakan sekarang dimana kau." Teriak Reyhan
"Bangsat kau Arga. Jangan berani kau sentuh istriku atau kau akan ku kirim ke neraka dengan tanganku sendiri." Ucap Reyhan semakin tersulut emosi.
Mendengar nama Arga, Bu Lia seketika langsung mengerti apa tujuannya menculik Siti.
"Kau memang bajingan Arga. Aku tak menyangka kau melibatkan istriku hanya karena perusahaan. Ambil perusahaan itu jika kau mau. Dimana kau sekarang? Akan aku serahkan perusahaan itu padamu." Ucap Reyhan
Reyhan hampir saja melempar ponselnya namun urung saat ponsel itu kembali berbunyi menandakan ada pesan masuk yang ternyata dari Arga, ia mengirimkan pesan lokasi dimana ia dan Siti sekarang.
"Ma, pa ternyata Arga yang culik Siti. Dia mau kita menyerahkan perusahaan keluarga. Sekarang aku mau kesana, aku akan bawa semua berkas perusahaan kita. Mama sama papa lapor polisi ya. Bawa mereka datang ke tempat yang baru saja aku kirim ke hape kalian." Ucap Reyhan mengotak atik ponselnya.
"Rey kamu hati-hati ya. Jangan tersulut emosi, mama nggak mau kamu kenapa napa." Ucap Bu Lia khawatir
Reyhan mengangguk lalu menuju ruang kerjanya untuk mengambil berkas yang sekiranya perlu dibawa.
Reyhan membutuhkan waktu selama 15 menit untuk sampai di rumah kosong itu. Reyhan langsung saja berjalan cepat untuk masuk ke dalam, ia melihat Siti yang nampak sedang berdebat dengan Arga, memperdebatkan hal apa Reyhan tak tahu dan tak mau tahu.
Reyhan berjalan ke arah Arga dan Siti lalu melempar berkas yang ia bawa. Arga yang tak menyadari kehadiran Reyhan sedikit tersentak.
"Oh hai sepupu ku. Kau menepati janjimu." Ucap Arga memungut berkas yang tergeletak di lantai lalu membukanya.
Arga tersenyum saat membuka-buka berkas itu.
Sementara di sisi lain, pak Dani dan Bu Lia serta beberapa polisi datang untuk mengepung tempat itu.
__ADS_1
"Angkat tangan." Ucap salah satu polisi itu
Arga yang masih memandangi berkas itu seketika mendongak dan menampilkan wajah tak terbaca. Ia tak bisa lagi berkutik
"Rey kau." Ucap Arga tak meneruskan kalimatnya
"Apa? Asal kau tahu Ar, aku melaporkan ini ke polisi bukan karena ingin mempertahankan perusahaan. Aku melakukan ini karena kau sudah membawa istriku dalam urusan kita."
"Akan ku balas perbuatan mu ini Rey." Teriak Arga yang sudah di borgol dan dibawa oleh polisi.
Reyhan dan Siti saling tatap.
"Kamu nggak apa-apa kan? Ada yang luka?" Tanya Reyhan melihat seluruh tubuh Siti
"Nggak ada mas. Aku nggak apa-apa."
Mata Reyhan beralih ke pergelangan tangan Siti yang nampak memar.
"Tadi aku berusaha melepas ikatan yang ada di tangan aku mas, jadi agak memar. Tapi nggak apa-apa kok."
"Kalian mau sampai kapan ngobrol disini? Ini sudah malam kalian mau bermalam disini?" Sela Bu Lia saat melihat mereka malah ngobrol bukannya pulang
"Iya ayo kita pulang." Ajak Reyhan merangkul pinggang sang istri
Reyhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia menggenggam tangan istrinya yang terlihat pucat.
"Wajah kamu kok pucat gitu. Ada yang sakit?" Tanya Reyhan sesekali menoleh ke arah Siti lalu fokus pada jalanan.
"Aku capek aja mas, dari tadi duduk aja." Keluh Siti
"Ya udah kamu tiduran aja kalau gitu. Kamu mau makan apa? Nanti aku belikan kita makan di rumah." Tanya Reyhan
"Nggak usah mas, tadi aku di kasih makan sama Arga."
__ADS_1
Menyebut nama Arga membuat Siti teringat dengan obrolannya tadi.
"Mas, Arga sebenarnya nggak sejahat yang kamu kira. Dia bersikap begini hanya minta untuk dirinya di perhatikan. Tadi dia bilang kalau kenapa karena kesalahan orangtuanya dia juga kena imbasnya. Dia merasa diperlakukan tidak adil."
"Iya sayang aku tahu itu. Caranya dia aja yang salah. Aku tahu Arga nggak jahat, tapi dengan dia begini sama aja kayak dia membuat dirinya sendiri buruk. Sebenarnya aku nggak masalah kalau perusahaan itu dipegang siapapun, bukan perusahaan aku juga. Aku mengelola perusahaan itu sudah maju dan sukses aku tinggal mempertahankan kemajuannya aja. Bukan aku juga yang buat perusahaan itu maju." Ucap Reyhan menjelaskan
Obrolan mereka terhenti lantaran sudah sampai di rumah. Pak Dani dan Bu Lia sudah sampai rumah lebih dulu. Mereka memutuskan untuk langsung Istirahat karena hari sudah malam.
Sementara itu di tempat lain Arga mendapatkan omelan dari kedua orangtuanya.
"Kamu kurang kerjaan banget nyulik istrinya Reyhan. Mama udah bilang berkali kali nggak usah usaha lagi buat merebut perusahaan itu. Biarin aja dikelola sama siapa juga. Kamu udah sukses, buat apa kamu mau ambil-ambil yang bukan hak kamu." Omel ibu Arga yang dari awal sudah tak setuju dengan rencana anaknya untuk mengambil alih perusahaan.
"Ini juga karena kamu pa, ngapain pakai cuci otak anak buat menuruti hasrat kamu itu. Kita udah hidup berkecukupan selama ini, kita nggak mati kelaparan karena nggak bisa megang perusahaan itu." Omel ibu Arga pada sang suami
"Udah lah ma, percuma mama ngomel ma. Udah kejadian, lebih baik mama carikan aku pengacara yang bisa bantu aku ma. Aku nggak mau lama-lama disini." Keluh Arga
"Malu-maluin aja. Ya udah kita pulang aja pa, biar dia beberapa hari disini. Biar nggak jadi orang kriminal." Ucap ibu Arga melangkah pergi meninggalkan Arga yang terkejut dengan ucapan ibunya
"Astaga, ibu macam apa mama ini. Membiarkan aku disini beberapa hari? Apa ini yang namanya ibu yang baik?" Gumam Arga memijat pelipisnya
Tak lama kemudian Arga kembali di masukkan ke sel tahanan. Ia dijadikan satu dengan beberapa tahanan lainnya. Semua yang di sel memandang Arga dari atas ke bawah. Ia mendudukkan dirinya di pojokan paling dekat dengan pintu, ia tak yakin hari ini akan bisa tidur dengan nyenyak melihat orang-orang yang berada satu sel dengannya.
"Kenapa lo bisa masuk sini?" Tanya salah seorang tahanan yang berbadan besar.
"Nyulik istri orang." Jawab Arga ketus
Semua tahanan di sana tertawa terbahak-bahak.
"Dasar, pebinor. Perebut bini orang." Ucap salah seorang tahanan lalu melanjutkan tawanya
Arga hanya berdecak dengan kesal mendengar tawa mereka.
Bersambung
__ADS_1