
Semua orang masih bercengkrama di butik Siti. Wanita yang baru saja di hadiahi butik oleh suaminya nampak masih mengagumi seluruh isi butik. Ia berkeliling menyentuh semua benda yang berada di sana. Hingga suara Clara mengagetkannya.
"Desain gaun kamu bagus Ti," ucap Clara tersenyum
"Makasih Ra, Alhamdulillah kalau bagus. Mudah-mudahan banyak yang lirik juga," harap Siti
"Pasti, semua berawal dari nol. Kamu beruntung punya Reyhan yang peduli sama mimpi kamu. Nggak semua suami bisa kayak gitu. Nggak semua istri diijinkan berkarir oleh suaminya," ucap Clara
"Iya Ra. Aku emang beruntung punya mas Reyhan, semua kriteria suami idaman ada padanya," ucap Siti menerawang
Setelah beberapa saat bercengkrama semua orang pamit satu persatu. Kini tinggal kedua keluarga Siti dan juga Reyhan yang masih tertinggal.
"Nak, ibu sama yang lain pulang dulu ya. Besok kita mau balik ke kampung, toko nggak mungkin ditinggal lama-lama kan, lagian Haris juga harus kerja," ucap Bu Lastri pada anak menantunya
"Iya Bu aku ngerti kok. Kalian tidurnya dimana?" tanya Siti
"Kamu masih nanya aja. Suami kamu kan selalu tuntas dalam menyelesaikan apapun, kita tinggal di hotel. Pokoknya Ti, kita udah kayak pejabat. Kemarin aja begitu sampai sini kita udah dijemput sama orang suruhan Reyhan untuk bawa kita ke hotel," ucap pak Rusdi membanggakan menantunya
Semua orang tertawa. Namun hati Siti sedikit tersentil, ia menyesal sudah memikirkan yang tidak-tidak mengenai suaminya. Sebagai istri harusnya ia tahu sedalam apa cinta Reyhan padanya, pikir wanita itu.
"Besok biar aku sama mas Rey yang antar kalian ke bandara ya," ucap Siti
*
Malam hari, Siti tengah berdiri di balkon dekat kamarnya. Tangannya ia letakkan di pagar pembatas yang terpasang di balkon itu. Ia menikmati udara malam yang menyejukkan, angin bertiup pelan membuat rambut Siti terbang dengan pelan lantaran tertiup angin.
Siti mengulum senyum mengingat perjuangannya hingga ke titik ini. Ia masih ingat betul, bagaimana ibunya selalu mengingatkan untuk tetap tabah dan sabar. Siti tak menyangka buah kesabarannya berbuah semanis ini.
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di sepanjang pinggangnya. Ia sedikit terkejut namun tak bergeming dari posisinya. Tanpa menoleh atau bertanya ia tahu siapa yang sedang memeluknya dari belakang, sudah pasti itu adalah suaminya, Reyhan. Pria itu meletakkan dagunya di atas pundak istrinya.
"Masih ada keinginan yang belum terwujud? Katakan padaku, aku akan mengabulkan apa yang kamu mau jika aku mampu," bisik Reyhan
__ADS_1
Siti geleng kepala, "tidak ada mas, semua yang aku inginkan sudah aku dapatkan. Suami yang baik, bertanggung jawab dan kriteria lain dari suami idaman sudah dimiliki oleh suamiku. Aku punya anak yang sehat, mertua yang sayang sama aku, orangtuaku kehidupannya sudah terjamin. Apa lagi yang aku mau, mungkin masih satu," ucap Siti menggantung kalimatnya agar Reyhan bertanya
"Apa?" tanya Reyhan menoleh ke arah Siti yang membuat jarak diantara wajah mereka hampir terkikis habis.
"Aku mau kita seperti ini terus meskipun kedepannya kita di terjang badai sekuat apapun, angin seribut apapun, ombak sebesar apapun, aku mau kita tetap berjalan bersama dengan tujuan yang sama. Kalaupun ingin istirahat, kita istirahat bersama," ucap Siti menatap lekat suaminya lalu mengecup singkat pipinya.
"Aamiin," jawab Reyhan tersenyum
"Kalau kamu apa belum terwujud? Katakan padaku, akan aku wujudkan sebisa ku," ucap Siti beralih posisi menghadap suaminya
Reyhan menggeleng, "tidak ada sayang. Hadirnya kamu dan Sean sudah lebih dari cukup bagiku. Aku tidak pernah memikirkan pernikahan setelah penghianatan yang aku terima, tapi saat aku ketemu sama kamu, tiba-tiba aku memikirkan tentang pernikahan," ucap Reyhan menyelipkan rambut Siti ke telinganya.
"Gombal," ucap Siti tersipu
"Tapi kamu seneng kan? Tuh kan merah wajahnya," goda Reyhan tertawa
Siti yang malu jadi salah tingkah dan berusaha mencairkan suasana dengan menggelitik perut Reyhan yang membuat pria itu tertawa terbahak-bahak.
*
"Iya nak, kita pulang ya. Jaga kesehatan, jangan lupakan tugas kamu sebagai istri meskipun kamu nantinya akan punya usaha baru," pesan pak Rusdi pada anaknya.
"Iya pak. Aku akan selalu ingat pesan bapak. Kalian juga jaga kesehatan ya,"
Setelah berpelukan dan saling bersalaman mereka pamit untuk naik ke dalam pesawat.
*
Satu bulan berlalu
Siti sudah mulai di sibukkan dengan kertas dan juga pena. Atas bantuan suaminya butik Siti mukai di kenal orang. Ia mempromosikan butik istrinya ke teman dan juga karyawan di kantornya.
__ADS_1
Meskipun sibuk Siti berusaha tak melupakan kewajibannya sebagai istri dan seorang ibu. Namun hari ini ia tak sadar, ia bekerja hingga sore hari. Biasanya ia akan pulang ketika jam sudah menunjukan pukul tiga sore. Namun kali ini ia benar-benar dibuat tenggelam dengan kertasnya, ia tak sadar jam sudah menunjukkan pukul lima sore, yang itu artinya Reyhan sudah sampai di rumah.
"Siti mana ma?" tanya Reyhan begitu tahu yang menyambut ia pulang adalah ibu dan anaknya
"Masih belum pulang. Mungkin macet Rey. Udah mandi dulu sana. Bentar lagi juga balik dia,"
Reyhan mengangguk. Ia berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Ini adalah pertama kalinya Reyhan pulang tak disambut oleh istrinya. Ia sedikit kesal, namun ia tak hiraukan kekesalannya. Ia berusaha untuk berpikir positif bahwa istrinya terjebak macet.
Di tempat lain, Siti yang mulai sadar waktu bergegas untuk membereskan pekerjaannya lalu pulang dengan terburu buru. Ia panik setengah mati saat mendapati jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah enam petang.
Pikirannya langsung tertuju pada Reyhan yang pulang tanpa dirinya di rumah. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit tinggi agar sampai rumah dengan segera.
Kring kring
"Mas Rey. Astaga dia pasti ngamuk mendapati aku nggak di rumah pas dia pulang," gumam Siti melihat nama yang tertera di ponselnya
"Kamu masih di butik? Kamu tahu sekarang jam berapa? Kenapa nggak pulang-pulang," ucap Reyhan seketika begitu panggilannya terjawab
"Maaf mas, aku ngerjain pola sampai lupa lihat jam. Aku lagi di jalan pulang," ucap Siti panik
"Ya udah hati-hati," ucap Reyhan lalu memutus sambungan
Siti menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai rumah.
"Rey, jangan semarah itu. Ini kan pertama kalinya Siti pulang terlambat. Mungkin dia hanyut dalam kerjaannya dan lupa waktu. Kasian dia kalau kamu marahin, dia juga capek," ucap Bu Lia mengingatkan Reyhan
"Kalau dimaklumi dia akan seperti ini terus ma. Dia kan mengulangi lagi dengan alasan yang sama. Lagipula aku begini buat dia juga kok. Kalau dia nggak diingatkan dia lupa waktu, makan nggak teratur, istirahat kurang, tidur kurang. Aku sering mergokin dia tengah malam lagi gambar pola ma, itu nggak baik buat kesehatan dia. Dan aku nggak mau sampai kesehatannya jadi korban karena kerajaannya," ucap Reyhan
Tak lama kemudian Siti sampai dengan nafas yang sudah terengah-engah. Ia melihat Reyhan dengan ekspresi yang tak terbaca. Melihat itu Siti menjadi takut akan kena amarah suaminya.
Bersambung
__ADS_1