Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
56. Clara


__ADS_3

"Aku tadi sempat melihatmu bersama dengan seorang wanita di restoran. Kau juga satu mobil dengannya, lalu kalian berhenti di butik. Bagaimana aku nggak curiga?" ucap Arga, kini mereka tengah duduk di sebuah kedai kopi yang tak jauh dari mereka berhenti tadi.


"Astaga, jadi kau membuntuti ku sejak tadi?" tanya Reyhan


Arga hanya mengangguk tanpa dosa.


Reyhan menghela nafas panjang lalu ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Arga nampak mengangguk anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Kau berpikir aku kembali seperti dulu?" tanya Reyhan di akhir ceritanya


"Ya bagaimana tidak, aku mengenalmu dari bayi. Aku takut aja kalau kau mau nambah istri, ya sudah kalau memang kau melakukan ini untuk Siti. Mudah-mudahan berhasil ya," ucap Arga lalu pergi dari kedai. Tak berselang lama Reyhan melakukan hal yang sama.


**


Tak terasa sudah satu minggu Siti berada di kampungnya. Hari ini Reyhan akan ke rumah Siti untuk mengajaknya kembali ke Jakarta.


Semua orang melepas kepergian Siti dengan senyum bahagia. Mereka turut bahagia melihat keluarga kecil Siti yang juga nampak harmonis. Para tetangga yang kebetulan sedang berkumpul di halaman sebuah rumah juga nampak menunjukkan senyum ramahnya pada Siti dan juga Reyhan.


Melihat mereka menjadikan Siti kembali mengingat beberapa waktu lalu saat ia mendapat hinaan, Siti menyungging senyuman. Seandainya saja mulut mereka dulu tak jahat, tak julid, maka Siti yakin ia akan tetap menjadi Siti yang buruk rupa tanpa ada perubahan.

__ADS_1


Siti juga pasti tak akan mengenal Reyhan, pria tampan yang baik hati, yang berhasil membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Bisa dikatakan Reyhan adalah pria kedua dalam hidup Siti setelah sang ayah dan selamanya hanya mereka berdua yang memenuhi hati Siti.


"Kenapa kamu lihat aku begitu?" tanya Reyhan yang melihat Siti sedang menatapnya lekat-lekat.


"Nggak apa-apa mas, sampai sekarang aku masih nggak percaya ada kamu di hidup aku. Aku benar-benar nggak menyangka Tuhan benar-benar merubah takdir ku. Setiap aku pulang ke kampung, aku selalu ingat betapa aku hina di mata orang-orang. Dan ketika aku melihat kamu aku selalu merasa menjadi wanita yang paling bahagia dan berharga. Rasanya mengucapkan terimakasih saja tidak cukup untuk itu," ucap Siti memeluk lengan sang suami


"Kamu tidak hanya berharga sayang, tapi kamu adalah jantung aku. Bagian penting dalam hidup aku adalah kamu. Aku tidak peduli dengan masa lalu mu dan seandainya suatu hari nanti badan kamu kembali seperti dulu, aku tidak akan meninggalkan mu," ucapan Reyhan terhenti lantaran mendapat pukulan dari Siti


Plak


"Jangan pernah berpikir aku akan kembali seperti dulu lagi ya, atau jika Tuhan mengabulkan doa kamu, aku tidak yakin kamu akan tetap bersamaku," ucap Siti melipat tangannya di depan dada dan menjauh dari Reyhan.


Siti tak menjawab


Reyhan menghela nafas panjang


*


Pukul 7 malam mereka sampai di rumah. Reyhan dan Siti langsung istirahat menuju kamarnya. Begitu sampai kamar ponsel Reyhan berdering. Pria itu berjalan keluar kamar untuk menerima panggilan tersebut. Lagi-lagi Siti dibuat kesal. Baru kali ini ia melihat Reyhan yang menjauh ketika menerima panggilan. Sebelumnya ia tak pernah melakukan itu, meskipun yang ia bicarakan adalah persoalan kantor Reyhan akan tetap berada di dekat Siti saat menerima panggilan.

__ADS_1


Siti yang merasa badannya letih tak mau menghiraukan hal itu lama-lama. Ia memutuskan untuk membaringkan tubuhnya setelah meletakkan sean di box.


Pukul 2 dini hari Siti terbangun, entah mengapa ia merasa perutnya sangat lapar. Ia melirik ponselnya, tak sengaja ia melihat tanggal yang tertera di ponsel.


"Tanggal 2, ulang tahun aku dong?" gumam Siti lalu menoleh ke arah Reyhan yang tertidur lelap.


"Biasanya kasih surprise, kok sekarang adem ayem aja. Masak dia lupa? Kayaknya yang pelupa itu aku deh," gumam Siti lagi


Krucuk krucuk


Bunyi perut Siti yang lapar berhasil membangunkan lamunannya. Ia beranjak dari kamar untuk ke dapur mencari makanan.


Setelah selesai dengan makan malamnya yang kedua Siti bergegas kembali ke kamar. Siti melihat ponsel Reyhan yang tergeletak di dekat bantal. Rasa keingintahuan yang besar membuat tangan Siti terulur untuk mengambil ponsel suaminya dan melihat siapa yang menghubunginya di panggilan terakhir.


Mata Siti membulat begitu melihat nama yang tertera di ponsel Reyhan. Bahkan bukan hanya panggilan terakhir saja, tapi nama itu sering menghubunginya di beberapa Minggu terakhir.


"Clara," ucap Siti pelan


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2