
"Ti, kamu yakin mau ke kota? Kehidupan di sana keras nak." Ucap Bu Lastri sesaat setelah keluar dari kamarnya
"Yakin Bu. Kata budhe majikannya tuh baik, Aku yakin kalau aku di sana bisa bantu perekonomian kita Bu. Aku juga nggak mau jadi bulan-bulanan si Tini." Jawab Siti berusaha meyakinkan ibunya.
Bu Lastri tak lagi menjawab, ia berat jika harus melepas Siti ke kota. Namun disisi lain apa yang katakan Siti ada benarnya, ia selalu jadi bulan-bulanan Tini jika disini, apalagi jika ia sudah menikah nanti Bu Lastri tak tahu nasib Siti akan bagaimana.
Keesokan harinya pak Rusdi sudah lebih baik, ia berniat akan kembali ngojek hari ini. Disaat sarapan ia melihat Siti yang nampak murung, ia menduga murungnya Siti disebabkan oleh dirinya yang tak mengijinkan anak itu pergi ke kota. pak Rusdi diam saja, ia tak akan merubah keputusannya, ia akan tetap mempertahankan Siti untuk tinggal disini, tak perlu kemanapun.
"Pak, di kota aku...."
"Sekali nggak tetap nggak." Ucap pak Rusdi memotong ucapan Siti yang tahu kemana arah pembicaraannya.
Siti tak lagi berucap, ia akan mencoba meyakinkan ibunya terlebih dahulu. Mungkin dengan cara ini ibunya bisa meluluh hati pak Rusdi.
Tini yang tak tahu apa-apa mengernyitkan dahinya bingung, "Mbak mau pergi ke kota?" Tanya Tini penasaran
"Iya diajak sama budhe Janah."
"Jadi apa? Paling juga asisten rumah tangga yang gajinya nggak seberapa." Ucap Tini seraya mengunyah makanan
"Yang penting halal Tin." Jawab Siti tak mau kalah.
"Mbak yakin kalau pergi ke sana nanti diterima sama majikan mbak?"
"Yakin. Budhe Janah bilang majikannya baik, lebih baik dari orang-orang di sekelilingku yang bisanya hanya menghina, mencaci maki, mencemooh tapi nggak ngasih solusi apa-apa. Nyatanya budhe Janah bisa bertahan lama di kota dengan majikan yang sama. Kalau budhe bisa kenapa aku nggak?" Sindir Siti pada adiknya
Tini tertawa pelan, "Tapi kan mbak nggak dapat ijin. Ya udah si nggak usah maksa, lagian juga di sana belum tentu betah juga."
__ADS_1
"Ini Ti kuenya." Ucap Bu Lastri meletakkan kue disebelah piring makan Siti.
Siti langsung beranjak dari duduknya, ia berniat ke rumah budhe Janah terlebih dahulu.
"Itu belum habis makannya, habisin dulu." Pinta bu Lastri
"Udah kenyang Bu. Kenyang sama hinaan." Sindir Siti yang entah kenapa dia sedikit berani melawan ucapan-ucapan Tini.
Semua orang saling pandang tak percaya, Siti yang biasa diam dan menurut sedikit berubah. Apa karena ia tak diijinkan ke kota, pikir Bu Lastri
"Pak, udahlah kasih ijin aja Siti ke kota. Biar di ngerasain sendiri bagaimana kerja di sana. Dia akan terus begini kalau kita nggak kasih ijin. Kasih kesempatan dia untuk merasakan bagaimana kerasnya kehidupan di sana. Ibu yakin Siti bisa jaga diri, apalagi kerjanya kan juga sama mbak Janah, kakaknya bapak. Pasti dijagain sama dia." Kata Bu Lastri berusaha membujuk suaminya
"Justru kehidupan di sana keras bapak nggak mau Siti merasakan itu. Kehidupan disini aja udah terasa keras buat dia Bu. Bagaimana di kota nantinya?" Pak Rusdi tetap pada pendiriannya.
"Nggak semua orang seperti tetangga kita pak, ibu percaya masih ada orang baik yang tak memandang fisik seseorang. Mbak Janah aja betah kerja di kota kan." Bu Lastri masih kekeh untuk membujuk pak Rusdi, bukannya ia merelakan Siti hidup di kota sendirian, tanpa dirinya. Tapi menurut Bu Lastri jika memang apa yang dikatakan Siti benar mengenai majikannya, maka itu lebih baik jika dirinya terus disini yang semakin lama semakin makan hati karena omongan adiknya.
"Kenapa ibu jadi ikut-ikutan bujuk bapak. Ibu rela dia pergi ke sana?"
"Darimana ibu tahu kalau di sana dia merasa lebih baik."
"Ya seperti yang ibu bilang tadi, dia di sana kan nggak luntang-lantung juga. Ada budhe yang bisa jaga dia, yang bisa mengarahkannya kalau Siti ada kesalahan. Kita nggak melepaskan Siti begitu saja pak. Ada keluarga kita di sana."
"Sekali nggak tetap nggak."
"Bapak nggak lihat apa dari bangun tidur dia murung terus. Dia pengen banget itu bisa merantau ke kota. Dia juga pengen punya pengalaman pak. Siapa tahu ini jalan Siti untuk menemukan jodohnya, dia pasti juga pengen berubah pak. Bapak aja yang nggak tahu beberapa bulan terakhir dia mati-matian merubah fisiknya. Mungkin dengan dia di kota bisa lebih semangat lagi untuk berubah."
"Halah, paling bentar lagi juga udah nggak konsisten sama niat dietnya." Sahut Tini yang sejak tadi mendengarkan orangtuanya adu mulut.
__ADS_1
Pak Rusdi dan Bu Lastri menatap Tini dengan tatapan tajam.
"Ya sudah, dari pada disini dihina terus sama adiknya lebih baik dia jauh dari kita sekalian. Biar Tini juga puas. Kalau sampai nanti mbak mu lebih sukses dari kamu, bapak harap dia nggak lupa kalau punya adik macam kamu ini." Ucap pak Rusdi lalu pergi meninggalkan meja makan.
Tini berdecak kesal. "Nggak mungkin juga dia sukses." Gumam Tini mengikuti langkah bapaknya yang meninggalkan meja makan
"Kamu jadi anak jangan keterlaluan Tini." Ucap Bu Lastri sedikit keras
Tini tak menggubris, ia lebih memilih melangkahkan kakinya keluar rumah.
Sementara ditempat lain Siti sedang berbicara serius dengan sang budhe
"Jadi gimana budhe, aku pengen banget bisa ke sana. Tapi dapat ijin dari bapak susah." Keluhnya
"Biar budhe aja nanti yang ke sana ya. Biar budhe aja yang ngomong sama bapak. Kamu sekarang jualan dulu, biar nggak kesorean ntar pulangnya."
Siti menurut, ia menyerahkan semuanya pada budhe Janah dengan harapan ia bisa mengantongi ijin dari kedua orangtuanya untuk merubah takdir menjadi lebih baik. Siti punya keyakinan yang besar ia bisa merubah nasib keluarganya dengan cara merantau ke kota.
malam hari pukul tujuh budhe Janah benar-benar menepati janjinya, ia bertandang ke rumah Siti untuk membujuk adiknya agar anaknya diijinkan untuk ikut dengannya.
"Sebenarnya aku berat mbak, tapi kayaknya Siti kekeh untuk ikut sama kamu. Disini aku udah sering sakit, ibunya ngurusin apa-apa sendirian kalau nggak ada Siti." Ucap pak Rusdi mengutarakan unek-uneknya.
"Kamu jangan terlalu memanjakan Tini, suruhlah dia bantu ngurusin rumah. Jangan tahunya menghina orang saja. Anak TK juga bisa kalau disuruh begitu, dia udah dewasa harusnya nggak perlu dikasih tahu ya sudah ngerti kewajibannya sebagai anak." Ucap budhe Janah ia menghentikan ucapannya untuk bernafas. "Kamu nggak kasih ijin Siti mengubah nasibnya biar terus bantuin kalian tanpa merubah dirinya begitu? Begitu mau kalian, nggak kasian sama Siti?" Sambung budhe Janah
Pak Rusdi nampak memikirkan ucapan sang kakak dan akhirnya berkata, "Ya sudah kalau kamu mau ajak Siti ke kota. Tapi kamu jaga betul-betul. Aku nggak mau Siti sampai kenapa-napa." Ucapnya
"Nggak usah kamu bilangin juga aku tahu harus apa. Tiga hari lagi kita berangkat ke Jakarta, masalah uang nggak usah dipikirin. Aku aja yang nanggung transportasinya." Ucap budhe Janah lalu pamit pulang.
__ADS_1
Siti nampak senang dengan keputusan sang bapak yang melepaskannya untuk merantau. Ia bertekad akan merubah takdir dirinya dan juga keluarga. Ia harus berhasil membuat keluarganya tak dipandang rendah oleh siapapun, tekat Siti dalam hati.
Bersambung