Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
38. noda


__ADS_3

Setelah sekian lama saling tatap dalam diam Reyhan pergi meninggalkan Arga yang masih mematung di tempatnya. Mawar penasaran siapa pria yang baru saja bersitegang dengan Reyhan. Ia ingin menghampiri pria itu namun urung, lebih baik cari informasi dulu siapa pria itu pikir Mawar.


Ia melanjutkan langkahnya menuju pedagang soto depan kantor setelah Arga meninggalkan kantor Reyhan. Di saat sedang berjalan telinganya tak sengaja mendengar nama Reyhan di sebut-sebut oleh karyawannya. Ia mendekatkan langkahnya agar mendengar obrolan para karyawati itu lebih jelas.


"Pak Arga datang lagi setelah sekian lama menghilang, apa dia masih tetap sama tujuannya ya? Kalau ganti pemimpin, aduh aku jadi ngeri. Lihat aja mukanya pak Arga garang banget. Pak Reyhan meskipun mukanya begitu kan baik." Ucap salah satu wanita


"Mudah-mudahan nggak lah, tadi sih aku denger pak Arga nawarin buat perusahaan ini di urus bareng gitu. Tapi di tolak kayak nya sama pak Reyhan. Berdoa ajalah mudah-mudahan nggak ada ribut lagi urusan rebutan perusahaan." Jawab wanita satunya lagi


Mawar mengernyitkan dahi bingung, ia tengah berpikir siapa sebenarnya Arga ini? Kenapa harus memperebutkan perusahaan yang sekarang jadi milik Reyhan? Apa perusahaan ini sebenarnya milik keluarga, Reyhan dan Arga sepupuan terus mereka sama-sama ingin menguasai perusahaan ini begitu? Pikir Mawar seraya berjalan pelan. Banyak pertanyaan yang sekarang ini sedang berjejal di otaknya, hingga tak sadar ia sudah tiba di jalan raya.


Tiiiiiinn


Mawar melompat karena terkejut. Hampir saja ia ditabrak oleh mobil yang melintas. Beruntung ada tangan yang menariknya.


"Makasih pak." Ucap Mawar pada si penolong yang ternyata Reyhan


Reyhan hanya mengangguk lalu kembali ke halaman kantor.


*


Mawar yang penasaran dengan hubungan Reyhan dan Arga mencoba mencari informasi pada beberapa teman yang satu jabatan dengannya.


"Mbak, pak Arga itu siapa?" Tanya Mawar lada temannya


"Sepupunya pak Reyhan. Kenapa? Dengar nama itu dari mana kamu?" Tanya wanita itu


"Tadi nggak sengaja dengar karyawati lain ngomongin pak Arga sama pak reyhan."


Wanita itu hanya ber oh ria lalu pamit pulang lebih dulu.

__ADS_1


Ternyata benar dugaannya bahwa Arga dan Reyhan sepupuan lalu memperebutkan perusahaan ini. Setelah mendapat informasi itu Mawar ikut pulang karena keadaan kantor yang sudah sepi.


Lagi-lagi keberuntungan masih berpihak pada Mawar, ia kembali bertemu dengan Reyhan. Tiba-tiba terlintas ide di kepalanya. Mawar berjalan lebih cepat lalu pura-pura tak sengaja menjatuhkan diri di belakang Reyhan. Dan bruk rencananya berhasil untuk menciptakan bekas bibir di jas Reyhan, bekas bibir itu tepat berada di pundak bagian belakang.


"Maaf maaf pak, saya nggak sengaja. Kaki saya tersandung. Maaf." Ucap Mawar


"Nggak apa-apa. Lain kali hati-hati." Ucap Reyhan lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Mawar tersenyum senang. Ia sudah membayangkan sampai rumah Reyhan dan istrinya akan ribut dan itu artinya ia unggul satu kosong dari Bu Lia. Ia kembali melanjutkan langkahnya dengan suka cita tiada tara.


"Sayang aku pulang." Teriak Reyhan


Siti yang berbeda di dapur langsung saja berjalan menuju ruang tamu untuk menyambut sang suami.


"Ngapain kamu di dapur, bukannya istirahat aja." Tanya Reyhan


Bu Lia yang kebetulan sedang melintas di belakang mereka tak sengaja melihat noda di jas Reyhan. ia mengamati noda itu dan sedetik kemudian mata dan matanya kompak terbuka dengan lebar. Ia benar-benar geram dengan Reyhan. Ia mulai berpikir keras bagaimana caranya agar Siti tak melihat noda bekas bibir itu. Kepanikannya semakin bertambah tatkala mereka sudah masuk kamar. Sudah tak ada lagi yang bisa ia lakukan, ia hanya berdoa mudah-mudahan Siti tak melihat noda itu.


"Bagaimana ini. Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan, kandungan Siti masih lemah, dia nggak boleh stress." Ucap Bu Lia mondar-mandir di ruang tengah.


"Mau kemana bi." Tanya Bu Lia pada asisten rumah tangga yang melintas


"Mau kasih salad ini ke non Siti Bu, tadi non buat ini terus pak Reyhan datang. Jadi salad nya di tinggal." Jawab asisten rumah tangga itu


"Kebetulan, biar saya aja yang antar." Ucap Bu Lia cepat seraya merebut piring berisi salad itu.


Bu Lia dengan cepat berjalan menaiki anak tangga. Saking paniknya Bu Lia sampai lupa mengetuk pintu. Ia melihat Reyhan dan Siti hampir saja adu mulut ketika ia membuka pintu.


"Astaga, maaf mama...mama lupa nggak ketuk pintu ya. Sorry sorry." Ucap bu Lia menutup mata seraya menahan senyum.

__ADS_1


Siti dan reyhan saling tatap dengan salah tingkah.


"Ada apa ma?" Tanya Reyhan menahan kesal


"Ini, mama mau antar salad buah Siti yang tertinggal di dapur. Tapi mama lupa nggak ketuk pintu. Lagian kalau mau begitu ya harusnya di kunci pintunya." Ucap Bu Lia menyerahkan piring berisikan salad buah.


"Sepertinya Siti belum tahu noda itu." Batin Bu Lia lega


"Rey bantuin mama pasang gas." Ucap Bu Lia tiba-tiba.


Reyhan mengernyit. "Bukannya ada bibi? Biasanya juga bibi yang pasang."


"Bibi lagi keluar sebentar, ayo cepetan ah. Mau masak buat makan malam. Ti pinjam suamimu bentar ya." Ucap bu Lia menggeret tangan Reyhan


Pria itu hanya mengikuti langkah Bu Lia dengan bingung sekaligus pasrah. Bukannya membawa ke dapur malah wanita itu menggeret ke ruang kerja Reyhan. Pria itu semakin dibuat bingung, sejak kapan dapur pindah ke ruangan kerjanya, pikir Reyhan.


"Lepas jas nya." Titah Bu Lia dengan galaknya


"Apa sih ma? Mama jangan aneh-aneh. Ada apa sih jangan buat aku bingung, tadi pasang gas sekarang lepas jas." Protes Reyhan


"Mama bilang lepas atau mama yang lepas paksa." Ucap Bu Lia tak menggubris ucapan Reyhan


Reyhan melepas jasnya dan memberikannya pada bu Lia.


"Ini apa?" Tanya Bu Lia menunjukkan noda bekas bibir di jas Reyhan


Seketika Reyhan membelalakkan matanya. Ia bingung dari mana noda jas itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2