Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
43. menyesal atau tidak?


__ADS_3

Mawar dan Arga masih duduk berhadapan di kedai es Manado. Diam-diam Mawar memperhatikan Arga, ia terpesona dengan wajah Arga yang tak kalah tampan dengan Reyhan.


"Apa lo lihat-lihat gue." Ucap Arga tiba-tiba.


"Ha, siapa yang lihat. Ge er." Kata Mawar sedikit gelagapan. "Pak, bapak kan udah sukses di luar dan dalam negeri, kenapa masih mau rebut perusahaan yang sekarang di pegang pak Reyhan?" Tanya Mawar penasaran


"Itu perusahaan keluarga, harusnya gue yang pegang. Gue cucu paling tua, setidaknya kalau gue nggak pegang sendiri itu perusahaan ya di kelola bareng lah. Cucu keluarga besar kan bukan dia doang." Jelas Arga


"Rupanya tak sulit memancing Arga untuk bercerita." Batin Mawar


"Kenapa pak Reyhan nolak buat diurus bareng?" Tanya Mawar penasaran


"Karena kesalahan orang tua gue dulu. Mereka yang salah keturunannya kena imbas juga."


Mawar manggut-manggut. "Udah nggak ada lagi yang dibicarakan kan? Aku permisi pulang dulu ya." Ucap Mawar seraya merogoh tasnya untuk membayar es


"Udah gue aja yang bayar. Es dua gelas doang." Ucap Arga berdiri merogoh saku jasnya.


Saat akan berjalan Mawar tak sengaja tersandung kaki meja. Wanita itu jatuh dengan keadaan tengkurap dengan kedua lutut yang terluka.


"Aduh." Pekik Mawar


Mendengar ada sesuatu yang seperti terjatuh, Arga menoleh ke sumber suara. Pria itu merapatkan bibirnya menahan tawa melihat Mawar yang jatuh tengkurap.


"Ngapain sih, kayak bayi aja jalan pakai jatuh." Ucap Arga membantu Mawar berdiri dengan tertawa pelan. "Eh lututnya luka." Ucap Arga tak sengaja melihat kaki Mawar


Mawar mencoba berjalan dengan tertatih tatih menahan perih di kedua lututnya.

__ADS_1


"Rumah lo mana, gue anter pulang." Ucap Arga tak tega melihat Mawar yang kesakitan


"Nggak usah pak, bapak kan mau kerja. Aku bisa naik taksi online." Tolak Mawar


"Nggak apa-apa. Santai aja." Ucap Arga membantu Mawar berjalan menuju mobilnya


Entah mengapa berada di dekat Mawar jantung Arga serasa sangat gaduh. Ia khawatir kegaduhan yang diciptakan oleh jantungnya ini terdengar di telinga Mawar. Ia berkali-kali berusaha menetralkan kegaduhan jantungnya dengan mengatur nafas namun tetap saja.


Sementara itu hal yang sama di rasakan oleh Mawar. Ia juga merasa jantungnya tengah melompat kesana kemari. Ia berjalan sedikit lebih cepat agar segera sampai mobil, ia khawatir jika jantungnya lepas dari tempatnya.


*


"Lo berarti sendirian dong di rumah ini." Tanya Arga yang duduk di salah satu sofa


"Iya, mau sama siapa lagi." Jawab Mawar seraya mengobati lukanya. "Bapak nggak ke kantor? Eh bapak udah nikah belum, nanti mengudang kesalahpahaman lagi. Aku nggak mau dicap perebut suami orang. Cukup Bu Lia aja yang mikir aku begitu." Ucap Mawar tanpa sadar


"Iya." Jawab Mawar singkat


"Kok bisa dia bilang begitu ke lo?" Tanya Arga penasaran


"Dia khawatir anaknya aku rebut dari mbak Siti. Padahal juga cantik kan mbak Siti daripada aku."


"Lo emang kalah cantik dari istri Reyhan, tapi lo manis." Ucap Arga tanpa sadar.


Mawar diam memikirkan apakah apa yang ia dengar tadi salah atau tidak. "Bapak bilang apa barusan?" Tanya Mawar memastikan apakah pendengarannya bermasalah atau tidak.


"Mendengar pertanyaan Mawar membuat Arga sadar bahwa ia salah ucap. Seketika ia nampak gugup.

__ADS_1


"Ha? Nggak bilang apa-apa. Gue cuma bilang kalau apa yang di katakan Tante Lia benar, lo emang kalah cantik dari istrinya Reyhan." Ucap Arga tak sepenuhnya bohong.


Mawar manggut-manggut. Mungkin ia salah dengar, pikir wanita itu.


"Ya udah gue balik ya. Jangan lupa hubungi gue kalau istrinya Reyhan ikut ke kantor." Ucap Arga mengingatkan


"Iya iya." Jawab Mawar malas.


Mawar yang berniat akan mengantar Arga ke teras berdiri namun kakinya yang masih terasa ngilu menjadikan dirinya limbung dan jatuh tersungkur ke arah Arga. Kini mereka saling tindih dengan posisi Mawar di atas Arga. Wajah mereka sudah hampir tidak ada jarak.


Berada di posisi seperti itu membuat Arga terbawa suasana, entah dorongan dari mana tangan Arga bergerak ke tengkuk Mawar dan mendorongnya agar bibir mereka sama-sama bersentuhan.


Pergulatan yang semula malu-malu kini berubah menjadi candu. Keduanya sama-sama hanyut dalam pergulatan lidah itu. Semakin lama tangan Arga semakin berani untuk meraba dan menekan nekan beberapa bagian tubuh Mawar yang berhasil membuat wanita itu mengeluarkan suara yang membuat Arga menjadi semakin gerah.


Mereka hanyalah manusia biasa yang juga merasakan keinginan untuk menuntaskan hasrat. Apalagi status Arga yang duda, ia pernah punya istri yang selalu bisa menuntaskan hasratnya. Dan sekarang dengan status nya yang duda membuat ia tak ada tempat untuk menyalurkan rasa itu.


Kini Arga merasa ada kesempatan untuk melepas apa yang ia simpan lama, ia tak mau membuang waktu apalagi melewatkan kesempatan ini. Ia bergerak cepat untuk mengeksekusi Mawar saat itu juga.


Setelah satu jam bergulat di atas ranjang, Arga mulai mengeluarkan kata-kata manisnya.


"Sorry ya, kelepasan. Mana tadi semprot di dalam lagi." Ucap Arga merebahkan dirinya di ranjang


Mawar diam tak menjawab.


"Aku nggak akan lari kemana-mana, kamu udah pegang kartu nama aku kan? Kamu bisa datang ke alamat itu sewaktu waktu. Jangan takut aku akan lari." Ucap Arga bangkit dari tidurnya dan duduk di samping Mawar


Mawar tak tahu harus menunjukkan rasa menyesalnya atau tidak. Di satu sisi ia menyesal sudah melakukan hubungan terlarang sebelum menikah, namun disisi lain ia menikmati sentuhan yang diberi oleh Arga. Jadi menyesal atau tidak? Hanya Mawar yang tahu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2