Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
36. Bu Lia vs Mawar


__ADS_3

Reyhan sudah kembali bekerja di kantor karena keadaan Siti yang semakin hari semakin membaik. Ia sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Meskipun sesekali masih merasa mual dan sedikit pusing namun tak separah beberapa waktu lalu.


"Sayang aku kerja dulu ya. Hubungi aku kalau ada apa-apa." Ucap Reyhan di teras


"Iya mas. Jangan pulang telat ya." Pinta Siti merapikan dasi Reyhan.


Sejak hamil Siti menjadi manja, ia tak mau berjauhan dengan Reyhan terlalu lama. Ia akan menghubungi Reyhan jika suaminya itu pulang terlambat.


"Iya." Ucap Reyhan lalu beralih turun ke perut Siti yang masih rata. "Ayah kerja dulu ya nak. Jaga bunda." Ucapnya seraya mengelus perut Siti lalu menciumnya sebentar.


Mawar memulai bekerja dengan mengerucutkan bibirnya. Ia tak menyangka akan di pekerjakan sebagai office girl. Pagi ini ia mendapat tugas untuk membersihkan bagian lantai satu. Saat tengah fokus mengepel telinganya tak sengaja mendengar beberapa orang karyawan yang mengatakan 'selamat pagi pak', ia berpikir dalam hati pasti itu Reyhan yang tengah disapa oleh beberapa karyawannya. Ia mendongakkan kepalanya. Ternyata benar, Reyhan berjalan ke arahnya dengan balutan jas berwarna navy yang membuat jantung Mawar seketika berdetak dengan cepat.


"Pak Reyhan." Panggil Mawar begitu pria itu di dekatnya


Ia mengernyit lalu berucap, "Eh kamu, udah mulai kerja ya. Yang rajin ya. Semoga betah." Ucap Reyhan lalu melanjutkan langkahnya. Saat beberapa kali melangkah ia kembali menengok ke belakang untuk melihat Mawar. Ia sedikit bingung, siapa yang menjadikan ia office girl, batin pria itu bertanya-tanya. Namun sedetik kemudian ia tak memusingkan hal itu.


Mawar kembali kesal melihat respon Reyhan yang biasa saja. Ia menyapa Reyhan dengan harapan agar ia ditempatkan bekerja di bagian yang lebih baik. Office girl bukanlah pekerjaan yang ia inginkan di perusahaan milik pria tampan itu.


Setelah selesai melakukan pekerjaannya, Mawar yang baru saja akan membasahi tenggorokannya kembali di perintah untuk membuat minuman bagi karyawan dan meletakkannya di atas meja masing-masing.


"Ruangannya pak Reyhan mana? Kamu tahu nggak?" Tanya Mawar pada salah satu office boy


"Tahu, di lantai lima ada tulisannya kok nanti di depan pintu. Kenapa? Kamu diminta ke ruangannya? Bareng aja, aku juga mau antar minuman buat pak Reyhan." Ucap office boy itu


"Kalau gitu biar aku aja yang antar ya. Kamu antar ke karyawan lain aja." Ucap Mawar merebut nampan yang berisi secangkir kopi diatasnya.

__ADS_1


Mawar berjalan menuju ruangan Reyhan dengan senyum yang mengembang. Ia berniat akan meluluhkan hati Reyhan agar ia di letakkan di bagian karyawan yang bersanding dengan komputer di depannya, bukan pekerjaan yang berteman dengan sapu dan juga pel.


Sebelum mengetuk pintu ia membernarkan letak rambut dan membasahi bibirnya.


Tok tok tok


"Masuk." Teriak Reyhan


Mawar perlahan membuka pintu itu, nampak ruangan Reyhan yang besar dan banyak terpasang foto pernikahannya dengan Siti.


"Maaf pak saya mau antar kopi." Ucap Mawar yang sejak tadi kehadirannya tak di indahkan.


Reyhan mendongak, "eh kok kamu yang antar." Tanya Reyhan


"Oh gitu, makasih ya." Ucap Reyhan


Mawar belum beranjak dari ruangan Reyhan


"Ada yang mau kamu sampaikan?" Tanya Reyhan


"Iya pak, saya mau tanya kenapa saya di...." Belum selesai Mawar berucap Bu Lia datang dengan wajah dinginnya


"Kamu ngapain di sini?" Tanya Bu Lia


"Kerja Bu. Kan ibu bisa lihat saya pakai seragam." Jawab Mawar menahan kesal

__ADS_1


"Iya saya tahu kamu kerja. Terus ngapain kamu di ruangan anak saya? Kan harusnya kerja dan ruangan kamu kerja bukan disini." Ucap Bu Lia ketus


"Saya antar kopi aja Bu."


"Udah kan? Ya udah sana pergi." Usir Bu Lia


"Bentar ma, dia tadi mau tanya sesuatu ke aku. Biar dia nanya dulu." Sela Reyhan


Mawar ragu, haruskah ia mempertanyakan soal posisinya di kantor ini. Ia nampak berpikir lalu berucap, "nggak jadi pak, saya juga lupa tadi mau tanya apa." Ucap Mawar bohong. "Kalau gitu saya permisi dulu." Ucap Mawar


Sebelum Mawar meninggalkan ruangan Reyhan ia sempat membalas tatapan tajam Bu Lia dengan tatapan yang sama. Wanita tua ini benar-benar mengibarkan bendera perang, batin Mawar.


Reyhan hanya memperhatikan mereka yang sama-sama memancarkan aura mistis. Ia khawatir jika mereka saling tatap dengan tatapan begitu lama-lama mereka akan saling jambak dan akhirnya


"Mama ada apa, tumben kesini?" Tanya Reyhan yang bertujuan untuk memutuskan perang mistis diantara mereka.


Mendengar ucapan Reyhan, Mawar segera berjalan keluar ruangan pria itu.


"Nggak ada apa-apa, mau lihat semua karyawan mama yang kerja disini. Kerjanya benar atau tidak." Ucap Bu Lia dengan teriakan di akhir kalimat agar Mawar mendengarnya.


Reyhan hanya menghela nafas panjang.


Mawar menengok kebelakang sebentar lalu melengos


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2