Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
8. bertemu orang baru


__ADS_3

Malam itu Siti mulai mengemas pakaian yang akan ia bawa ke Jakarta. Esok hari ia akan menempuh perjalanan panjang menuju kota. Siti sudah tak sabar menunggu esok hari.


"Nak, kamu hati-hati ya di sana, jaga kesehatan, jaga diri, jaga ibadah. Kalau kangen sama kita pulang ya. Ibu sama bapak pasti nanti kangen banget sama kamu." Ucap Bu Lastri berkaca-kaca


"Ibu, aku pergi untuk kembali. Kalau aku kangen pasti pulang kok Bu, aku janji bakal sering tengokin kalian. Doain ya Bu, mudah-mudahan aku kerjanya lancar, biar aku kirim uang juga lancar." Ucap Siti


"Jangan pikirkan itu nak. Selama kamu di sana pentingkan kebutuhan kamu dulu. Ya udah kamu istirahat, besok kan udah berangkat. Budhe jemput kamu jam tujuh pagi katanya kan."


"Iya Bu."


Bu Lastri keluar dari kamar Siti dengan hati yang berat, ibu mana yang tak berat melepas anaknya merantau jauh dari dirinya. Namun keputusan Siti yang sudah bulat membuat Bu Lastri mau tak mau harus merelakannya. Sementara itu pak Rusdi sejak pulang dari ngojek tak menampakkan batang hidungnya, pria itu sangat kentara tak bisa melepas anaknya jauh dari dirinya. Sedangkan Tini, ia biasa-biasa saja. Mau ada atau tidak, kehadiran Siti tak penting bagi dirinya.


*


Keesokan harinya tepat pukul tujuh budhe Janah sudah di rumah Siti.


"Mbak, aku nitip Siti ya. Tegur dia kalau salah, aku percayakan Siti sama mbak." Ucap pak Rusdi pada kakaknya, lalu ia beralih memandang Siti, "Ti , jangan lupa ibadah sesibuk apapun kamu. Nurut sama budhe ya, cuma budhe keluarga kamu di sana." Ucapannya memeluk Siti


"Iya pak, aku akan ingat nasihat bapak. Kalau gitu kita langsung berangkat ya pak." Ucap Siti mencium punggung tangan sang ibu dan bapak bergantian. "Tin, mbak pamit ya. Nitip ibu sama bapak, bantuin kerjaan ibu juga." Ucapnya pada Tini


Dengan malas Tini menjawab ucapan kakaknya, "Iya. Belum apa-apa udah bawel aja." Ucapnya ketus


Pak Rusdi hendak menyahuti omongan Tini namun dengan cepat Siti memberi kode untuk tak mengatakan apapun.


"Udah Ti, ayo berangkat." Ajak budhe Janah menarik tangan Siti.


Mereka menumpangi sebuah taksi online untuk menuju stasiun.


"Tin, kamu itu jadi orang mbok ya jangan jahat, ibu sama bapak nggak pernah ajarin kamu buat nggak punya perasaan ya." Ucap pak Rusdi lalu menunggang motornya untuk ngojek.


"Terus aja belain anak sialan itu." Gumam Tini masuk rumah


"TINI." Bentak Bu Lastri

__ADS_1


"Apa? ibu mau belain dia juga." Tanya Tini


"Ibu bukan bela siapapun, kalian sama-sama anak ibu, kalau kamu nggak salah kamu nggak akan ditegur sama bapak kamu." Ucap Bu Lastri lalu masuk rumah


Pukul 4 sore Siti dan juga budhe Janah baru saja menginjakkan kaki mereka di teras majikan. Setelah beberapa kali memencet bel pintu terbuka menampakkan wajah seorang wanita muda yang cantik berwajah ramah. Ia mengembangkan senyumnya menyambut kedatangan budhe Janah dan Siti.


"Akhirnya yang ditunggu datang juga. Ini baby sitter untuk Flo?" Tanya Dahlia sang tuan rumah


"Iya Bu. ini keponakan saya sendiri."


"Oh begitu, ok bagus kalau begitu. perkenalkan nama saya Dahlia. Mudah-mudahan kamu betah disini ya. Ayo masuk, istirahat aja dulu, tidur-tiduran. Mulai besok kerja ya. Besok saya kasih tahu apa aja tugasnya." Ucap Dahlia memperkenalkan diri dengan senyum ramahnya


"Nama saya Siti Bu." Ucap Siti memperkenalkan diri lalu masuk mengikuti langkah budhe Janah.


Siti masuk rumah megah itu lebih dalam, Siti nampak mengagumi keindahan apapun yang berada di rumah itu. Hingga akhirnya budhe Janah berhenti di sebuah pintu yang ia tebak itu adalah kamar yang akan ia tempati.


"Ti, ini kamar kamu, kamar budhe ada di depan kamar kamu ini. Kamu istirahat dulu, budhe ke dapur ya, mau lihat bahan makanan." Ucapnya membuka pintu kamarnya sendiri


"Aku ikut budhe." Ucap Siti cepat


Siti mengikuti saran budhenya, ia masuk kamar yang terlihat lebih besar dari ruang tamunya. Di sana terdapat lemari dan juga meja rias. Kaca jendela yang luas dan gorden yang bagus juga. Siti tersenyum lebar. Nampaknya apa yang di katakan budhe Janah benar adanya, majikannya sangat baik dan ramah. Siti bersyukur ikut dengan budhenya yang punya majikan berhati malaikat, pikirnya.


Siti tak mau buang waktu, ia segera memasukkan semua pakaian yang di dalam tasnya dan menatanya ke lemari.


"Ya ampun, masih banyak ruang yang kosong rupanya. Saking besarnya ni lemari aku masuk sini muat deh kayaknya." Gumam Siti geleng kepala melihat lemari yang besar itu.


Setelah selesai ia memutuskan untuk mandi dan tak lupa beribadah kepada sang pencipta. Setelah itu ia memutuskan untuk merebahkan dirinya di ranjang ukuran sedang, tak besar namun juga tak kecil.


Siti memutuskan untuk menghubungi sang bapak, ia mengabarkan bahwa sudah sampai di rumah majikannya. Ia bercerita bahwa majikannya ini orang yang baik dan ramah.


"Alhamdulillah kalau begitu Ti, bapak sama ibu jadi nggak khawatir kalau kamu senang di sana." Ucap pak Rusdi


"Iya pak. Kalau begitu aku sholat dulu ya pak, habis ini mau bantu budhe masak buat makan malam soalnya." Ucap Siti

__ADS_1


Karena sering membantu ibunya di dapur, tangan Siti tak kesulitan membantu budhenya menyiapkan masakan.


"Loh Siti kok nggak istirahat aja malah bantu bi Janah?" Ucap Dahlia yang membuatkan susu untuk bayinya.


"Nggak apa-apa Bu, belum ada kerjaan juga kan. Saya udah biasa kok bantu ibu di dapur."


"Oh gitu ya? Bagus kalau begitu."


"Anak yang saya asuh berapa tahun Bu usianya?" Tanya Siti memberanikan diri.


Dahlia tertawa pelan, "Masih tiga bulan. Saya mau balik kerja lagi, mangkanya saya cari pengasuh." Jawab Dahlia seraya mengocok botol yang berisi susu formula


Belum sempat Siti membuka mulutnya untuk bertanya kembali terdengar suara langkah yang berjalan masuk rumah.


"Itu suami saya sudah pulang. Terusin masaknya ya." Ucap Dahlia meninggalkan dapur.


Siti beralih menatap budhenya.


"Budhe suami Bu Dahlia galak nggak?" Tanya Siti berbisik


"Nggak, baik juga kok, sama kayak Bu Dahlia. Tenang aja kamu." Ucap budhe Janah yang mengerti kekhawatiran Siti. "Gini aja, sekalian sama kenalan kamu antar teh hangat ini ke kamarnya ibu sama bapak. Ada di lantai dua pintunya warna coklat." Ucap budhe Janah menyerahkan nampan berisi secangkir teh hangat.


Tok tok tok


"Masuk." Teriak Bu Dahlia dari dalam.


Siti membuka pintu perlahan dan nampak suami Dahlia yang tengah membuka sepatu, sedangkan Dahlia sendiri menggendong anaknya dan memegangi botol berisi susu.


"Taruh di meja aja Ti. Oh ya mas kenalin ini Siti, keponakan bi Janah. Dia yang akan ngasuh anak kita." Ucap Dahlia pada suaminya


Pria itu yang tadinya menunduk seketika mendongak. "Saya Bima. Semoga betah kerja di sini." Ucap Bima memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan


"Siti pak. Aamiin, saya juga berharap begitu. Saya permisi dulu pak, bu." Ucap Siti membalas uluran tangan Bima dan sedikit menunduk untuk berpamitan.

__ADS_1


Siti benar-benar takjub dengan kedua majikannya yang baik. Selain kaya harta nyatanya mereka juga kaya hati. Seandainya saja semua tetangga Siti seperti itu, batinnya.


Bersambung


__ADS_2