
Beberapa hari setelah penawaran Yurike, Siti menjadi galau. Ia sering melamun lantaran bingung jalan mana yang ia pilih. Di satu sisi ia ingin menerima tawaran dari Yurike namun di sisi lain ia tak enak pada budhe dan majikannya.
Majikannya banyak berjasa atas apa yang ia terima hari ini. Karena gaji majikannya pula ia bisa mengirim uang dan barang-barang keperluan lainnya.
"Mikir apa Ti? Kangen sama bapak ibumu? Beberapa hari terakhir kok kayaknya kamu galau." Tanya budhe Janah.
"Bukan masalah itu budhe."
"Terus?"
"Aku kemarin pas ke salon ditawari kerja di sana. Aku pengen nerima tawaran itu, bukan karena jumlah gajinya. Tapi memang aku pengen punya usaha sendiri, aku pengen maju di kota ini. Kalau aku jadi baby sitter terus kan nggak mungkin budhe, ada saatnya anak asuhku udah nggak butuh baby sitter. Tapi aku nggak enak sama Bu Dahlia dan suaminya. Aku takut mereka mikir kalau aku ini sombong, nggak tahu diri, nggak tahu malu dan lain-lain lagi. Aku bisa begini kan berkat Bu Dahlia juga budhe. Kalau aku pamit sekarang tuh rasanya kayak sombong aja gitu, mentang-mentang udah cantik, seksi pergi dari sini. Nggak mau jadi baby sitter lagi. Itu yang buat aku galau." Curhat Siti panjang lebar.
"Kalau kamu ingin sesuatu kejarlah. Ikuti kata hatimu selagi itu baik. Budhe akan merestui apapun yang kamu ambil. Dicoba dulu ngomong sama ibu. Ungkapan semua perasaan kamu, keinginan kamu, cita-cita kamu. Bu dahlia orang yang berhati mulia. Budhe yakin nggak ada pemikiran kayak apa yang kamu sebutkan tadi. Semua orang pasti akan memilih pilihan yang terbaik." Ucap budhe Janah
"Gitu ya? Aku coba lah nanti ngomong sama bu Dahlia." Ucap Siti berharap jalannya di permudah untuk menuju jalan kesuksesan.
*
Di tempat lain, nampak seorang anak kecil yang belum genap satu tahun merangkak kesana kemari untuk mengacak apapun yang dapat di jangkau olehnya. Bayi perempuan yang gembul itu adalah anak Tini dan Haris yang di beri nama Gendis.
Kehadiran anak Tini membuat suasana rumah lebih ramai. Pak pak Rusdi sudah tak sering sakit-sakitan sejak kehadiran Gendis di tengah-tengah keluarga itu. Pria paruh baya yang menjadi tulang punggung keluarga kini sudah tak memforsir dirinya untuk bekerja keras. Ia menuruti permintaan anak menantunya yang melarang dirinya bekerja. Lagipula sejak Siti merantau keadaan ekonomi mereka sangat membaik, lebih stabil. Ia tak lagi memikirkan merenovasi rumah, lantaran rumah yang sederhana yang kini berlantai dua itu sudah lebih dari cukup, sudah lebih dari ekspektasinya.
Rumah dapat itu dibangun kembali lantaran Bu Lastri dan pak Rusdi mengelola uang dari Siti dengan baik. Selain itu Haris pun ikut membantu meskipun hanya sedikit.
Kita sebagai manusia yang hidup berdampingan tak bisa luput dari omongan orang. Bahkan hingga kita jadi mayat pun masih ada saja hal yang dibicarakan oleh orang. Sama halnya dengan keadaan pak Rusdi dan keluarganya masih jadi bahan bisikan kaum tetangga.
"Rumah Bu Lastri bagus ya sekarang, pasti sekarang Siti jadi kurus karena kerja terlalu keras buat membuktikan ke kita kalau dia bisa cari uang banyak." Ucap salah seorang ibu-ibu
"Jangan-jangan setelah Siti kurus dia kerja di remang-remang biar makin kaya. Bayaran kayak begitu kan mahal." Jawab satu ibu lagi.
__ADS_1
Bu Lastri yang tak sengaja mendengarnya seketika murka
"Maaf ya Bu. Mau kalian ini apa? Siti disini dengan fisik yang buruk kalian hujat, kalian hina, kalian caci maki. Begitu dia bisa sukses kalian pun masih hina dia. Dia di sana kerja keras banting tulang untuk membahagiakan kami dengan cara yang halal, kami selalu mengajarkan hal baik pada anak-anak kami. Jangan salahkan Siti kalau nantinya dia akan membungkam mulut kalian dengan uangnya. Jangan pernah menghina anak saya lagi atau kalian akan mendapat karma dari Tuhan. Jangan lupa semua tindakan kita ada timbal baliknya, anak kalian cantik, anak kalian seksi, anak kalian pintar, anak kalian berpendidikan, jangan karena kalian terlalu menghina Siti nanti kalian akan mendapat menantu dan cucu yang sama seperti yang kalian lontarkan pada anak saya." Ucap Bu Lastri kesal lalu pergi meninggalkan mereka dengan cepat.
*
"Kangen." Rengek Reyhan melalui sambungan Vidio call.
"Baru seminggu nggak ketemu mas. Jangan kayak anak SMA lagi jatuh cinta." Ledek Siti
"Sayang."
"Iya mas?"
"Panggil sayang juga dong."
"Aku memang manja. Nanti kalau udah nikah aku mau manja-manjaan sama kamu setiap malam." Ucap Reyhan lalu menyembunyikan wajahnya dengan bantal
"Apaan sih. Ini sih tanda-tanda kamu kumat ngegombal."
"Nggak gombal sayang. Di usiaku sekarang harusnya aku punya anak. Nanti kita abis nikah kejar target ya. Aku mau punya anak banyak." Ucapnya bersemangat. "Minggu depan kau ajak ke rumah ya. Aku kenalin ke mama sama papa, kebetulan ada kakak ku juga di rumah, baru pulang dari luar negeri." Sambungnya
"Boleh. Aku juga mau kenal dekat sama mereka."
"Sayang."
"Apa?"
"Kamu tahu nggak cinta ku padamu bagai diare." Ucap Reyhan mengatupkan mulutnya menahan tawa
__ADS_1
"Apaan sih mas ih jorok tahu." Protes Siti
"Ih kamu ma, nggak gitu jawabnya. Harusnya kamu tanya kok bisa? Gitu."
"Ya udah. Kok bisa?" Ucap Siti mengalah
"Tak bisa ku tahan, keluar begitu saja. Ih kan jadi nggak romantis." Ucap Reyhan kesal
"Apaan sih mas. Gombalan doang juga. Aku juga punya nih buat kamu. Mau denger nggak?"
"Mau mau." Ucap Reyhan antusias
"Kamu tahu nggak aku tadi nggak bisa sarapan karena rindu sama kamu, siangnya juga nggak bisa makan karena mikirin kamu, dan malamnya aku juga nggak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Karena aku kelaparan." Jawab Siti tertawa yang di respon kesal oleh Reyhan
"Nyebelin kamu ya."
Siti teringat dengan keinginannya. "Mas, aku mau kerja di salonnya mbak Yurike, Tapin bukan uang langganan aku, di cabangnya. Belum ngomong juga sih sama majikan aku. Mas setuju nggak kalau aku kerja di salon?" Tanyanya
"Boleh aja sayang. Apapun yang buat kamu bahagia lakukan. Aku akan setuju apapun yang akan kamu lakukan, asal hal itu baik." Jawan Reyhan bijak
"Makasih ya, kamu emang yang terbaik."
"Masih belajar."
Bersambung
__ADS_1