
Sore hari setelah bertemu dengan Haris, Reyhan pamit kembali ke penginapan untuk istirahat. Reyhan juga mengatakan secara terang-terangan untuk meminang Siti dalam waktu dekat.
"Pak, Bu. Saya kesini bukan hanya untuk main, saya ingin meminta restu dari bapak dan ibu untuk menjadikan Siti istri saya. Insya Allah dalam waktu dekat saya akan bawa keluarga saya kesini untuk melamar Siti." Ucap Reyhan pada kedua orang tua Siti sebelum pulang
"Iya nak. Bapak sama ibu merestui kalian. Mudah-mudahan diberi kemudahan ya." Ucap bapak Siti
"Aamiin." Jawab semua orang.
"Kalau begitu saya pamit pulang dulu. Ada pekerjaan yang nggak bisa saya tinggal. Jadi besok pagi-pagi saya kembali ke Jakarta." Ucap Reyhan pamit pada semua orang. Lalu Reyhan beralih menghadap Siti, "Aku pulang dulu. Nanti baliknya aku jemput." Ucap Reyhan pada Siti.
Rasanya tak puas jika hanya pamit dengan ucapan. Ingin hati memeluk Siti memberikan sedikit kecupan di setiap wajahnya namun itu semua tak mungkin ia lakukan.
"Hati-hati di jalan." Ucap Siti
Disaat akan masuk rumah Siti dan kedua orangtuanya dikagetkan dengan beberapa tetangga yang datang ke rumahnya.
"Ti, kita minta maaf atas tindakan kita yang keterlaluan. Kita sadar kalau kita salah, itu sebabnya kita datang kesini." Ucap salah seorang wanita yang di iyakan oleh beberapa wanita lainnya.
"Kalian sadar kalau kalian salah ketika saya bisa berubah. Coba saja saya pulang kampung dengan bentuk tubuh dan wajah yang sama. Saya yakin tidak ada kata maaf dari kalian."
Semuanya diam. Mereka tak ada yang bisa menjawab ucapan Siti.
"Iya Ti, kiya tahu kita salah. Kita udah jahat sama kamu tapi kamu masih baik, bagi-bagi sembako ke kita."
Siti tersenyum kecut lalu masuk rumah tanpa menjawab ucapan para tetangga.
"Jangan ambil hati sikap Siti, karena kalian dulu juga begitu." Ucap Bu Lastri lalu menggeret pak Rusdi masuk rumah.
Para tetangga pun berhamburan pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Di dalam rumah ia melihat Tini yang bersama dengan sang suami menonton acara tv. Ia berjalan masuk kamarnya.
"Mbak." Panggil Tini lalu berjalan menghampirinya
Tini nampak ragu ingin mengatakan sesuatu, "Aku minta maaf atas sikap aku dulu. Aku bukan adik yang baik, nggak seharusnya aku ikut-ikutan mereka menghina mbak. Seharusnya a..." Ucapan Tini di potong oleh Siti
"Sudah, lupakan. Yang berlalu biarlah berlalu. Aku nggak mau ingat. Masa lalu Siti sebagai kutukan sudah tidak ada lagi dalam diriku. Jadi nggak perlu dibahas lagi. Aku mau istirahat dulu ya." Ucap Siti membuka pintu kamar dan menutupnya kembali.
Tini menghela nafas berat. Siti tak menjawab permintaan maaf darinya. Ia berjalan dengan lesu ke tempat semula.
"Udah ngga apa-apa. Nanti lambat laun mbak Siti pasti maafin kamu kok. Nggak mungkin Mbak Siti akan selamanya bersikap dingin ke kamu." Ucap harus menenangkan istrinya.
*
Tak terasa sudah dua Minggu Siti di rumah. Hubungannya dengan Tini sudah mulai membaik, mereka terlihat lebih akur dari pertama kali Siti datang dua Minggu lalu.
"Bu aku balik dulu ya. Kapan-kapan aku akan bawa kalian semua liburan ke sana. Tapi aku cari uangnya dulu." Ucap Siti tertawa
"Udah, fokus sama kamu aja. Sama hubungan kalian. Ibu nggak sabar lihat kamu nikah. Ibu mau nimang cucu dari kamu juga." Ucap Bu Lastri.
"Ibu bisa aja." Ucap siti tersipu. "Ya udah pak Bu aku sama mas Rey pamit ya. Biar nggak malem banget sampai sana." Ucap Siti mencium punggung tangan sang ibu dan bapak bergantian yang disusul oleh Reyhan.
"Hati-hati pesan bapak sama ibu jangan pernah dilupakan." Ucap pak Rusdi mengingatkan. "Nak, bapak percayakan kamu sama Siti. Jangan berbuat hal yang tidak baik. Bapak titip Siti ya." Ucap pak Rusdi beralih pada Reyhan
"Pasti pak. Bapak nggak perlu khawatir soal itu." Jawab Reyhan meyakinkan
"Tin, mbak balik dulu ya." Ucap Siti pada Tini seraya cipika-cipiki dan berpelukan.
"Hati-hati mbak."
__ADS_1
Setelah berpamitan pada semua orang, perlahan mereka pergi meninggalkan rumah Siti yang mewah di kampungnya.
*
Reyhan fokus dengan jalanan seraya memikirkan kata kata ibunya.
Flashback on
"Kalau kamu pengen cepat-cepat nikah kenapa kamu ijinin Siti buat kerja di salon? Harusnya keluar dari rumah majikannya ya nggak usah kerja." Ucap Bu Lia
"Dia masih pengen kerja ma. Biarin aja lah dia kerja setelah nikah. Orang di salon aja, nggak berat, nggak seharian juga. Kerjanya di salon langganan mama. Disitu bukanya kan sampai sore aja."
"Iya mama tahu. Tapi kalau Siti kerja juga, dia nggak bisa fokus sama kamu. Dia harusnya duduk diam di rumah Rey, nggak wajib dia kerja. Nanti dia jadi nggak bisa melayani kamu dengan baik, lama-lama tugasnya jadi seorang istri juga dia lupakan."
"Ma, jaman udah modern nggak semua wanita mau duduk diam di rumah, bergantung sama suaminya."
"Kan bisa jualan online atau apa. Masih bisa kok cari uang tapi tetap di rumah. Maksudnya mama itu kan dia nggak perlu keluar setiap hari, pagi sampai sore. Kamu buatin dia usaha dong. Dia tetap punya penghasilan tanpa perlu keluar rumah setiap hari."
Reyhan menghela nafas panjang, ia selalu kalah saat berdebat hal apapun dengan ibunya. Memang benar apa yang dikatakan ibunya, tapi apakah Siti menerima tawaran itu, pikir Reyhan.
Flashback off
"Mikir apa sih mas? Kok diem aja?" Tanya Siti melihat Reyhan yang diam saja namun nampak memikirkan sesuatu
"Ha? Nggak kok sayang. Nggak apa-apa. Aku nggak mikir apa-apa." Ucap Reyhan cepat.
Siti manggut-manggut. Ia merasa ada yang di sembunyikan dari Reyhan tapi ia lebih memilih diam daripada harus memaksanya untuk bercerita.
Bersambung
__ADS_1