Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
21. bertengkar untuk pertama kalinya


__ADS_3

Pukul 5 sore Siti dan Reyhan sampai di Jakarta. Merasa badannya letih, Reyhan lebih memilih pulang agar cepat beristirahat. Kepalanya pusing memikirkan ucapan ibunya, ia bingung haruskah ia mengatakan pada Siti untuk tak kembali bekerja. Jika dari Reyhan sendiri, ia mengijinkan Siti untuk bekerja, namun setelah mendapat pencerahan dari Bu Lia, ia memikirkan ucapannya. Ia takut jika Siti lama kelamaan akan lalai dengan tugasnya sebagai istri.


"Udah pulang Rey?" Tanya Bu Lia mendengar Rey melangkah masuk rumah.


"Iya ma, capek jadi langsung pulang aja." Jawab Reyhan duduk di sebelah ibunya.


"Gimana? Udah kamu pikirkan omongan mama kemarin?" Tanyanya lagi


"Aku masih bingung ma. Bingung juga gimana ngomongnya ke Siti. Aku takut dia marah."


"Ya gimana kamu ngomongnya aja Rey. Bahasa yang enak, pelan nggak kasar, ya pokoknya sehalus mungkin. Jangan lupa juga tanyakan hal yang sensitif begini pas mood nya bagus, biar responnya juga enak. Ini mama cuma kasih pencerahan aja sama kamu Rey. Semua keputusan kembali ke kamu. Kalau kamu mengijinkan Siti kerja juga nggak apa-apa. Mama nggak ada hak untuk larang apalagi ikut campur urusan kalian. Tapi kamu nanti harus terima konsekuensinya kalau Siti kerja." Ucap bu Lia kembali menjelaskan.


Reyhan diam, ia sudah mengambil keputusan akan membicarakan hal ini dengan Siti. Ia berharap respon Siti tak seperti yang ia bayangkan.


*


Tak terasa sudah satu bulan Siti bekerja di salon Yurike. Ia senang bisa mendapatkan ilmu baru, pengalaman baru, teman baru. Namun karena kesibukan ia menjadi jarang berkomunikasi dengan Reyhan. Selama satu bulan ini mereka hanya berkomunikasi beberapa kali saja.


Reyhan yang mulai merasakan perubahan di diri Siti berencana akan membicarakan soal pernikahan dan tak mengijinkannya bekerja. Masih satu bulan bekerja saja Reyhan sudah merasa di duakan. Siti yang tak pernah dapat libur menjadikan Reyhan kesepian.


Malam ini Reyhan akan ke rumah Siti untuk membicarakan hal yang selama ini mengganggunya.

__ADS_1


"Aku mau bicara penting Ti. Kamu janji dulu jangan marah ya." Ucap Reyhan memulai obrolan


"Nggak. Kamu mau ngomong apa?" Jawab Siti santai


"Kalau kita menikah bisakah kamu berhenti kerja?" Tanya Reyhan dengan hati-hati


Siti tak langsung menjawab, ia nampak berpikir. "Kamu nggak mengijinkan aku kerja lagi setelah menikah? Kenapa?" Tanya Siti balik


"Ya kamu lihat aja dong yang. Kamu sebulan kerja aja kita udah jarang ketemu. Kita callingan juga pas malem aja. Itupun jarang, kamu udah capek duluan seharian kerja. Aku nggak mau kamu begini sayang, buat hubungan kita juga. Aku merasa di duakan sama kerjaan kamu." Ucap Reyhan mengungkapkan isi hatinya.


"Kasih aku kesempatan buat kerja sebentar lagi. Aku masih ingin mencari uang sendiri. Aku janji kalau kita udah nikah nanti aku akan melayani kamu dengan baik, aku nggak akan melupakan tugasku." Ucap Siti yang masih kekeh ingin menghasilkan sendiri.


"Buka usaha aja ya. Uang aku uang kamu juga nantinya." Bujuk Reyhan


"Ya kamunya sekarang begini. Kamu kayak nggak ada waktu buat aku. Kalau kamu begini terus hubungan kita yang jadi korban. Aku nikahin kamu karena aku butuh kamu, aku cinta sama kamu. Tapi kalau kita begini terus nggak akan baik sama hubungan kita. Ok, anggap aja setelah nikah kamu tetap kerja seperti sekarang. Dan kamu masih menghabiskan waktu dengan diri kamu sendiri, buat apa kita nikah. Aku maunya kamu di rumah begitu aku berangkat dan pulang kerja. Kamu antar aku ke teras sebelum aku berangkat, kamu tunggu aku pulang kerja di rumah. Udah itu aja, aku cuma mau waktu kamu sayang, itu aja. Aku mau kamu fokus sama aku udah." Ucap Reyhan sedikit kesal


"Kok kamu jadi kayak marah-marah sih."


"Bukannya aku marah sayang. Kamu aku jelasin nggak ngerti-ngerti. Setelah menikah kamu tuh tanggung jawab aku. Nggak ada kewajiban kamu buat kerja. Uang aku cukup buat nafkahin kamu yang."


"Kasih aku waktu untuk berpikir dulu ya."

__ADS_1


"Berapa lama?"


"Aku maunya bulan depan lamar kamu, dan tiga bulan kemudian kita nikah."


"Cepet banget." Ucap Siti terkejut


"Apanya yang cepat sih? Kita udah kenal berapa lama? Kita pacaran berapa lama sih yang? Aku sama kamu udah sama-sama dewasa. Apa kita nunggu tua dulu baru nikah?" Ucap Reyhan yang sedikit emosi mendengar jawaban Siti. "Kamu dulu nggak gini loh yang, kamu berubah. Kamu lebih mementingkan kerjaan kamu dari pada aku. Apa aku perlu pergi dulu dari hidup kamu baru kamu sadar kalau kita saling membutuhkan?" Tanya Reyhan


"Nggak-nggak. Bukan gitu."


"Terus gimana? Maunya kamu bagaimana? Aku harus kasih ijin kamu kerja setelah menikah, terus kamu sibuk begini terus, iya?" Ucap Reyhan sedikit keras.


Siti terkejut, bertahun-tahun mengenalnya tak pernah ia bicara sekeras ini. Matanya berkaca-kaca, hanya karena mempertahankan sebuah pekerjaan ia mendapat bentakan dari Reyhan.


"Aku mempertahankan kerjaan aku karena aku baru bisa merasakan kerja dengan hasil besar saat aku bekerja disini mas. Selama bertahun-tahun aku bekerja dikampung tapi nggak menghasilkan apapun. Dan disaat aku sedang berusaha mewujudkan mimpiku dengan hasil keringat ku sendiri kamu nggak dukung aku. Kamu marah-marah begini ke aku." Ucap Siti sedikit berteriak dengan suara bergetar menahan tangisnya.


Mendengar nada suara Siti yang bergetar terselip rasa sesal di dalam hatinya. "Sayang bukan maksud aku marah, aku nggak marah. Ok aku minta maaf, aku udah bentak-bentak kamu. Maaf." Ucap Reyhan yang memeluk Siti


Reyhan merasakan pundak Siti yang bergetar. Ia menumpahkan air matanya yang sudah tertahan. Reyhan menyesal sudah tersulut emosi, ia menciumi puncak kepala Siti untuk meredakan tangisnya.


"Udah dong nangisnya. Aku minta maaf. Aku tahu aku salah, nggak seharusnya aku semarah itu. Maaf ya." Ucap Reyhan mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2