
Pukul 9 pagi Reyhan dan Siti sampai di kantor. Siti yang yang pertama kalinya bertandang ke kantor suaminya nampak terperangah.
"Mas aku udah beberapa tahun tinggal di Jakarta tapi nggak pernah lihat kantor sebesar ini." Ucap Siti memandangi bangunan tinggi dan besar itu.
"Rata-rata semua gini sayang. Nggak punyaku aja." Jawab Reyhan merangkul pundak sang istri.
"Selamat pagi pak, Bu." Ucap beberapa karyawan Reyhan
Siti menjawab semua sapaan karyawan suaminya itu. Sedangkan Reyhan hanya menganggukkan kepalanya. Siti heran melihat sikap Reyhan yang terkesan galak, itu sangat terlihat jelas di raut wajahnya.
"Aku nggak ganggu mas kalau nungguin kamu di sini?" Tanya Siti duduk di sofa panjang yang berada di ruangan suaminya
"Nggak sayang. Kalau kamu capek ada kasur di dalam situ, kamu bisa istirahat." Ucap Reyhan menunjukkan ruang istirahat yang terdapat di ruangan itu.
Tok tok tok
"Masuk." Ucap Reyhan
Tak lama kemudian seorang wanita dengan berpakaian kerja yang terlihat seksi membuka pintu dan tersenyum lebar menampakkan gigi putihnya.
"Hai Rey." Sapa wanita itu
Reyhan mendongak dan sedikit terkejut dengan kedatangan wanita itu. Sedangkan Siti masih diam mengamati tingkah mereka. Siti berpikir bahwa wanita ini bukanlah karyawati Reyhan, tak mungkin pekerjanya memanggil suaminya hanya dengan sebutan nama, pikir Siti dalam hati.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya Reyhan sedikit gugup dan sesekali melirik ke arah Siti
"Aku udah kirim pesan ke kamu kemarin kan kalau aku mau mampir kesini sebelum berangkat ke kantor." Jawab wanita itu yang sama sekali tak menyadari kehadiran Siti
Siti masih menampakkan wajah tenangnya dan itu justru membuat Reyhan kalang kabut.
"Aku sibu Nin. Silahkan keluar sekarang." Ucap Reyhan memutari meja kerjanya dan menggeret wanita yang bernama Hanin itu keluar dari ruangannya.
"Kok kamu jadi ngusir aku? Biasanya juga kamu biasa aja aku main kesini." Ucap Hanin bingung
Mendengarkan ucapan Hanin membuat Reyhan ingin mengubur dirinya sendiri.
"Udah, kamu jangan kesini lagi ya. Ok. Aku nggak mau kamu ganggu aku lagi. Kita nggak ada urusan apa-apa selain kerjaan. Kenapa kamu jadi sering kesini?" Ucap Reyhan diluar ruangan
__ADS_1
"Main aja, kenapa sih emang?" Tanya Hanin tak tahu Reyhan sudah menikah. "Aku mau kita kayak dulu lagi Rey, kita mulai lagi dari nol." Ucap Hanin tiba-tiba
"Kamu pikir SPBU mulai dari nol. Udah ini yang terakhir kamu kesini. Aku udah nikah Nin, jangan ganggu lagi. Udah sana pergi. Aku panggil satpam nih." Ancam Reyhan.
Hanin bukannya pergi malah tertawa, "Bohong banget, kalau kamu udah nikah kenapa respon chat aku? Kemarin-kemarin juga aku kesini kamu biasa aja, kita ngobrol banyak hal. Kenapa sekarang tiba-tiba bilang udah nikah."
"Kamu nggak lihat tadi ada wanita duduk di sofa. Dia istri aku Nin, selama ini aku respon kamu biasa aja, tapi bukan berarti kita kembali kayak dulu lagi." Ucap Reyhan masuk ke dalam ruangannya
Siti yang sejak tadi berdiri di dekat pintu menatap tajam Reyhan.
Beberapa bulan terakhir memang Hanin, mantan Reyhan sering berkunjung ke kantornya. Terkadang urusan pekerjaan namun terkadang ia datang hanya ngobrol biasa saja. Reyhan sama sekali tak tahu jika maksud kedatangan Hanin adalah untuk memintanya kembali padanya. Ia hanya menganggap semua orang adalah temannya. Tak pernah terpikirkan oleh Reyhan jika Hanin akan berniat ke arah sana.
"Sayang, kamu...kamu..." Ucap Reyhan terbata-bata
"Aku denger semuanya. Dia mantan kamu?" Tanya Siti dengan tatapan mengintimidasi
"Iya, hanya masa lalu yang. Aku nggak ada hubungan apapun sama dia selain kerjaan. Memang dia sering kesini tapi itu untuk membicarakan kerjasama kita. Aku .."
"Kamu kerjasama sama dengan mantan?" Lagi-lagi Siti memotong ucapan Reyhan
"Kamu nggak pernah cerita."
"Ya kan memang urusan aku sama dia murni bisnis yang."
"Yang dia kesini sering ngobrol itu gimana?"
"Ok ok aku minta maaf, aku nggak cerita soal itu. Aku merespon dia biasa aja sayang. Nggak yang gimana-gimana."
"Hape kamu?" Ucap Siti menengadahkan tangan.
Reyhan menelan ludahnya kasar, "Nah mampus kan, pesan dari Hanin belum gue hapus." Batin Reyhan dengan ekspresi yang tak bisa ditebak.
"Hape mas." Ucap siti mengulangi
Dengan ragu-ragu Reyhan menyerahkan ponselnya pada Siti. Sebelumnya tak pernah sekalipun Siti mengotak-atik ponselnya.
Reyhan mulai ketar ketir saat Siti mulai mencari informasi di ponselnya.
__ADS_1
Gimana Rey? Makanannya enak?
Besok mau dibawain apa?
Besok kita ada meeting setelah jam makan siang. Kita ketemuan pas makan siang aja ya, makan siang bareng sebelum meeting
Itulah beberapa kalimat pesan yang di kirim oleh Hanin. Namun tak ada satupun balasan dari pesan itu.
"Ini kok balasan kamu ngga ada? Udah di hapus?" Tanya Siti dengan nada biasa tapi tatapan yang ingin menerkam mangsanya
"Nggak ada. Emang aku nggak bales sayang. Yah buat apa juga aku hapus balasan aku, kan mending aku hapus semua pesannya, nggak balasan aku aja. Ayolah sayang aku nggak ada yang aneh-aneh di belakang kamu. Ganteng-ganteng gini aku setia. Hati aku cuma buat kamu."
"Bawain makanan apa dia?" Tanya Siti tak menggubris pembelaan dari Reyhan
"Nggak tahu, setelah dia pergi aku kasih makanannya ke sekretaris aku."
"Jangan bohong." Ucap Siti keras
"Nggak ada yang. Aku nggak bohong. Serius, aku nggak pernah makan apa yang dia kasih. Aku bagi ke sekretaris aku, tanya sama dia kalau nggak percaya."
"Masih ada rasa kamu sama dia?"
"Astaghfirullah ya Allah ya Robbi. Nggak ada sayang. Rasa apa coba."
"Nggak usah bawa-bawa nama tuhan. Ada niatan selingkuh kamu dari aku."
"Allahu Akbar yang, nggak ada. Aku udah tobat sejak kenal kamu, beneran."
"Oh jadi dulu kamu emang playboy? Pantesan lempar gombal ke aku lancar banget, jiwa playboy kamu masih ada rupanya, iya?" Cerca Siti
"Nggak ada sumpah. Udah dong jangan marah, janji aku nggak bakal menerima pertemanan dari wanita manapun, janji sayang."
"Gombal." Ucap Siti hendak pergi namun dengan cepat Reyhan menarik tangannya hingga tubuh mereka tak lagi berjarak. Melihat kesempatan emas, Reyhan langsung saja melahap bibir Siti, ia memasukkan lidahnya secara paksa.
Siti tak membalas juga tak menolak perlakuan Reyhan. Namun sedetik kemudian tangan Reyhan yang sudah menekan nekan doble meat Siti membuat wanita itu tak sanggup menahannya lama-lama. Akhirnya ia membalas gulatan itu tak kalah panas dari Reyhan. Hanya dengan tekanan tekanan yang ringan saja Siti sudah mengeluarkan suara lengkuhan yang membuat Reyhan tak berdaya. Ia tak lagi memikirkan pekerjaan, ia justru membawa Siti ke ruangan istirahatnya dan bermain dengan mangkok dan juga doble meat Siti.
Bersambung
__ADS_1