
"Gimana toko bu? Rame?" Tanya Siti saat makan malam
"Alhamdulillah nak, rame. Ibu sama Tini kadang sampai kewalahan mengerjakan pesanan yang kadang menggunung. Jadi ibu sama Tini cari dua orang lagi yang bantu-bantu kita." Jawab. Bu Lastri semangat
"Alhamdulillah. Aku ikut senang dengernya Bu." Ucap Siti tersenyum
Mereka bercengkrama dengan bahagia, tak bisa setiap hari bertemu dengan Sean membuat Bu Lastri sejak tadi menggendongnya kesana kemari dan tak mengijinkan bayi gembul itu tidur lebih dulu. Gendis yang saat ini sudah berusia hampir dua tahun sangat senang dengan Sean. Anak itu nampak berkali-kali mengajak bermain dan bicara dengan bayi itu.
Saat sedang asyik-asyiknya bercengkrama dengan keluarga, Reyhan dikejutkan dengan ponselnya yang berdering. Ia pamit untuk sedikit menjauh dari semua orang.
Entah karena apa Siti merasa ada yang di sembunyikan oleh suaminya. Penasaran dengan apa yang suaminya obrolkan ia memutuskan untuk menguping pembicaraan Reyhan.
"Benarkah? Bagus kalau begitu aku sangat senang. Aku akan melihatnya besok. Kau tunggu di sana ya. Bye." Ucap Reyhan memutuskan sambungan teleponnya
Melihat itu Siti langsung berlari dan duduk di tempatnya semula. Ia duduk dengan menahan kesal, sia-sia sudah ia berjalan berjingkat seperti maling jika sampai sana ia mendapati Reyhan yang sudah selesai berbicara.
"Tapi ngomong-ngomong apa yang dia lihat besok ya?" Tanya Siti dalam hati
Di dalam kamar, Siti dan Reyhan bersiap akan tidur. Sean yang lebih dulu terlelap kini sudah telentang di tengah-tengah mereka. Reyhan berbaring di samping kiri Sean seraya menciumi pipi gembul Sean.
"Sayang besok balik ke Jakarta dulu ya. Soalnya ada yang harus aku kerjakan. Mungkin aku akan balik ke sini beberapa hari sebelum jemput kamu. Nggak apa-apa kan? Ada urusan yang tidak bisa aku tinggal. Kamu tenang-tenang aja dulu disini ya." Ucap Rayhan ketika Siti membaringkan tubuhnya di sisi kanan Sean.
"Iya mas, aku ngerti kok." Ucap Siti singkat.
*
Setelah kepergian Reyhan kembali ke kota Bu Lastri dan pak Rusdi kembali berebut Sean. Mereka selalu berdebat untuk mengajak Sean. Siti hanya geleng-geleng kepala melihat itu.
__ADS_1
"Tin, buka toko yuk. Biarkan mereka bertengkar sendiri." Ajak Siti
Tini mengangguk. Hanya membutuhkan waktu lima menit mereka sampai di toko. Ia membantu Tini untuk membuka tokonya. Nampak dua orang gadis yang sedang menata beberapa kue ke dalam etalase.
Tak lama toko dibuka ada beberapa orang yang berdatangan. Nampaknya toko ibunya sudah di kenal banyak orang, pikir Siti seraya melayani mereka.
"Siti bukan?" Tanya salah seorang pembeli
Siti tersenyum, "iya Bu Mina, masak lupa. Ibu kan dulu sering langganan saya pas saya keliling." Ucap Siti ramah
"Ini mataku yang salah apa kamu memang sudah berubah. Kamu jadi secantik ini setelah hampir dua tahun nggak jualan?" Tanya Bu Mina terheran heran
Siti hanya tertawa kecil, "Alhamdulillah Bu, mata ibu masih sehat. Saya memang tidak segemuk dua tahun lalu." Ucapnya
Bu Mina berdecak seraya geleng-geleng kepala. Siti yang ia temui dua tahun lalu sangatlah berbeda dengan sekarang. Ia nampak mengagumi perubahan Siti. Ia memperhatikan Siti dari ujung kepala hingga kaki.
"Bu Mina mau beli kue apa?" Tanya Tini yang berjalan dari belakang. "Eh tahu nggak mbak, Bu Mina ini tak pernah absen beli kue di toko kita, Bu Mina bilang beliau adalah langganan tetap Mbak Siti pas masih keliling." Ucap Tini
"Ya ibu tiap hari nunggu kamu, ibu tanya sama orang-orang. Sampai akhirnya ibu dengar kalau kamu ternyata merantau ke kota. Ya sudah ibu nggak cari kamu lagi. Tapi Alhamdulillah nya warung ibu masih ramai sampai akhirnya ibu nemu toko ini. Ibu sering lewat sini dan melihat toko ini yang tak pernah sepi. Akhirnya ibu coba beli, kok ternyata rasanya sama kayak kue buatan ibu kamu. Jadilah ibu beli roti disini dan ibu jual lagi di warung dan lambat laun ibu tahu kalau toko ini milik ibu kamu." Jelas Bu Mina panjang lebar.
"Jodoh memang nggak kemana Bu." Ucap Siti tertawa kecil
"Kamu sudah menikah? Katanya kamu dapat orang kota yang tajir melintir dan tampan." Bisik Bu Mina
Lagi-lagi Siti tertawa, "Alhamdulillah ibu saya sudah menikah dan memiliki satu anak laki-laki." Ucapnya
"Wah selamat ya. Coba aja ibu masih punya anak gadis. Ibu akan minta bantuan kamu untuk cari menantu di sana." Ucap bu Mina terkekeh
__ADS_1
Pembicaraan mereka usai setelah hari sedikit siang. Sean kini sudah berada di toko dengan nenek dan juga kakeknya. Toko yang semula tempat berjualan kini dijadikan sebuah rumah kedua untuk bercengkrama.
Pak Rusdi yang jarang ke toko kini nampak sibuk menyuapi Gendis dengan berbagai makanan. Sean hanya sibuk melihat orang yang lalu lalang di sekitarnya. Sesekali Sean tertawa saat langganan Bu Lastri datang dan mengajaknya bicara.
Keesokan harinya.
Reyhan menemui seorang perempuan yang sudah ada janji dengannya. Ia tampak akrab dan dekat dengan wanita itu. Wanita yang terlihat feminim dan mempunyai lesung pipi menambah kesan manis pada wajahnya.
Arga yang kebetulan berada di tempat yang sama nampak memperhatikan keduanya. Fokusnya meeting nya jadi teralihkan, namun beberapa saat kemudian ia melihat wanita itu mengeluarkan laptopnya, Arga menebak bahwa mereka hanya terlibat dalam urusan pekerjaan. Setelah itu ia kembali fokus dengan meeting nya.
Tak berselang lama Reyhan dan wanita itu beranjak dari tempatnya. Arga lagi-lagi mengantar kepergian mereka dengan tatapan bertanya tanya. Ia kenal betul Reyhan, ia takut jiwa bermain wanita Reyhan kini tengah kembali on. Ia masih menatap punggung Reyhan dan wanita itu yang menjauh. Ia sedikit terkejut ketika wanita itu masuk mobil Reyhan. Kalau memang urusan dengan wanita itu hanya urusan kerja, kenapa mereka pergi bersama dalam satu mobil, pikir Arga menyentuh dagunya.
Merasa ada yang aneh, Arga memutuskan untuk mengakhiri meeting nya saat itu juga. Ia berniat akan mengikuti kemana Reyhan pergi. Ia curiga Reyhan sudah kembali ke jari dirinya yang dulu, namun disisi lain ia masih tak percaya jika Reyhan kembali lagi, melihat Reyhan yang sangat mencintai istrinya apa benar ia kembali seperti dulu, pikir Arga bingung dengan apa yang ia lihat.
Tak berselang lama mobil Reyhan berhenti di sebuah butik. Arga seketika membelalakkan matanya.
"Untuk apa dia ke butik ini? Apa di berniat menikah lagi. Astaga, Reyhan harus segera di ruqyah. Dasar pria gila, baru punya anak malah berniat nambah istri juga." Ucap Arga kesal. Ia memutuskan untuk ke menunggu Reyhan keluar dari butik itu .
Satu jam lamanya Arga menunggu hingga akhirnya ia melihat Reyhan yang keluar dari butik besar itu. Ia mengikuti mobil Reyhan dan tak lama kemudian ia menghadang mobil Reyhan.
Arga dengan terburu buru menghampiri mobil Reyhan.
"Ada apa ar?" Tanya Reyhan
"Rey, aku minta maaf sebelumnya Rey. Bukannya aku mau ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian. Rey katakan ada apa? Kau bisa berbagi cerita denganku." Ucap Arga yang mendapat jawaban kerutan di kening Reyhan
Reyhan tertawa meskipun ia tak mengerti dengan apa yang Arga maksud, "ngomong apa sih ar. Astaga, bagaimana bisa kau bisa berpikir kalau aku akan menikah lagi?" Ucapnya lalu kembali tertawa
__ADS_1
Arga semakin bingung. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bersambung