
Menginjak usia kehamilan yang ke tujuh Siti semakin manja. Membawa perut besar kemana mana memang tak mudah. Semakin dekat dengan jarak melahirkan membuat Siti harus melakukan olahraga ringan yang dapat menunjang persalinan normal.
Salah satu olahraga yang sering di lakukan Siti adalah berjalan-jalan setiap pagi. Setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk jalan-jalan di sekitar kompleks rumahnya di temani oleh Reyhan.
Namun pagi ini ia melakukan aktivitas itu sendirian karena Reyhan berada di luar kota sejak kemarin. Ia berjalan sedikit jauh kali ini, lantaran ia melihat tulang bubur ayam yang tengah dikerumuni banyak orang. Siti berjalan ke arah sana dengan pelan.
Dua orang pria yang selama seminggu ini mengintai Siti bersorak senang melihat Siti yang berjalan sendirian. Sudah seminggu ini mereka menunggu Siti berjalan seorang diri agar mereka bisa melakukan aksi yang di perintahkan oleh atasannya.
Saat langkah Siti semakin dekat dengan penjual bubur ayam itu salah satu pria yang berada dalam mobil itu turun dan berjalan di belakang Siti, sedetik kemudian ia membungkam hidung dan mulut Siti dengan sapu tangan yang sudah di beri obat yang membuat Siti tak sadarkan diri.
Setelah Siti benar-benar pingsan pria itu membawanya ke mobil dengan susah payah, karena kehamilan Siti yang besar membuat berat badan Siti juga berat.
"Cepat jalan ke markas. Aku akan hubungi bos." Ucap pria yang baru saja memasukkan Siti ke dalam mobil.
"Nggak ada yang lihat kan tadi?" Tanya pria yang memegang kendali mobil
"Nggak. Kalau ada ya udah pasti orang itu teriak lah bego." Umpat pria itu ngos-ngosan
Salah satu dari mereka menghubungi orang yang menyuruhnya untuk melakukan penculikan ini. Sambungan berakhir setelah mereka terlibat sedikit obrolan.
__ADS_1
"Kita langsung ke markas aja. Bos berpesan sama kita, dia jangan sampai terluka atau terjadi hal yang bahaya buat ibu dan calon bayinya itu." Ucap seorang pria yang baru saja menelepon bosnya
"Gue jadi bingung dia nyuruh kita nyulik buat apaan coba? Buat jagain doang?" Ucap pria yang satunya
"Udah turuti aja, yang penting cair. Gantian lo yang gendong. Berat bego."
Salah seorang pria dari mereka membawa Siti ke dalam rumah kosong yang kumuh. Mereka mendudukkan Siti di kursi lalu mengikat tangan dan kakinya dengan kursi itu agar Siti tak lari.
"Udah selesai, kita tunggu di luar aja. Bos juga berpesan untuk kita nggak perlu ladeni dia kalau teriak minta tolong."
Mereka berjalan keluar dan mengunci rumah kosong itu lalu mereka duduk menunggu kedatangan bos mereka.
Siti bermain cantik, secantik wajahnya, ia tak mau menghabiskan tenaganya untuk berteriak. Siti yakin ia tak akan di bebaskan hanya karena teriakannya. Itulah sebabnya Siti diam saja, diam-diam berusaha dengan keras untuk membuka ikatan tali yang berada di tangan.
Kata pepatah yang menuturkan bahwa usaha tak mengkhianati hasil tidak berlaku bagi Siti untuk saat ini. Semakin dia keras berusaha maka ikatan itu entah kenapa jadi semakin kencang saja. Ia sudah mencoba menggerak-gerakkan tangannya ke segala arah agar ikatan itu kendor namun bukannya kendor malah justru semakin melukai tangannya. Ia sudah merasa perih di sekujur pergelangan tangannya.
Siti beristirahat dari usahanya untuk melepas tali itu. Ia memikirkan cara lain agar bisa lari dari sini. Namun sedetik kemudian ia teringat bahwa ia sedang hamil. Kalaupun berhasil membuka ikatan ini ia tidak bisa lari kencang lantaran keadaan perutnya yang membuncit. Apakah ia pasrah? Tidak, ia tidak mau duduk diam disini, Siti mau pergi dari tempat kotor ini. Untuk masalah lari nantinya, urusan belakangan, pikir wanita hamil itu.
Sementara di tempat lain, Bu Lia dan juga pak Dani berjalan menyusuri kompleks sekitar rumah mereka. Mereka mengkhawatirkan Siti yang sudah sesiang ini tak pulang. Panas matahari yang sudah perlahan naik ke permukaan membuat mereka semakin khawatir saja.
__ADS_1
"Pa, ini sudah jam 10 pa, Siti kemana? Mana dia nggak bawa hp." Ucap Bu Lia khawatir, "lapor polisi aja pa." Ucapnya lagi
"Ya mana bisa ma, lapor polisi kalau sudah hilang 2x24 jam. Percuma kita lapor polisi sekarang, nggak akan di tindak lanjuti."
"Ya terus sekarang kita harus gimana? Orang-orang disekitar sini pun nggak ada yang lihat Siti pa. Perut Siti sudah besar, bagaimana ini." Ucap Bu Lia semakin panik
"Kita telepon Reyhan aja. Kita pulang dulu." Ajak pak Dani
Bu Lia menurut, mereka pulang dengan hati tak menentu. Ia terus merapalkan doa dalam hati untuk keselamatan sang menantu dan juga cucu yang berada di kandungan Siti.
"Rey pulang sekarang, Siti sejak jalan-jalan pagi tadi belum pulang. Papa sama Mama udah cari sekeliling kompleks tapi nggak ada yang lihat Siti." Ucap pak Dani ikut panik melihat Bu Lia yang sejak tadi mondar-mandir dengan wajah panik yang tak dapat ia sembunyikan
"Apa? Kan aku udah berpesan sama kalian untuk tidak membiarkan Siti jalan sendirian pa." Ucap Reyhan seketika berjalan keluar hotel menuju parkiran
"Kita nggak tahu Siti keluar rumah Rey. Mama sudah beri tahu Siti untuk tidak jalan-jalan dulu pagi ini. Tapi kata satpam kompleks dia melihat Siti yang keluar kompleks. Begitu kita tanya orang-orang di sekitar sana nggak ada yang lihat."
Reyhan memutus sambungan telepon secara sepihak. Ia berjalan cepat dan melajukan mobilnya dengan cepat pula. Tak lupa Reyhan menghubungi anak buahnya untuk mencari Siti.
Bersambung.
__ADS_1