Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
9. gym


__ADS_3

Pagi ini hari pertama Siti bekerja sebagai baby sitter. Anak asuh yang masih bayi nyatanya tak terlalu membuat Siti lelah, lantaran jam tidur yang masih banyak. Bayi berusia tiga bulan yang di beri nama Flora nampak cantik dan tumbuh dengan gemuk.


"Budhe lagi ngapain? Aku bingung kalau Flo tidur aku mau ngapain." Ucapnya pada budhe Janah.


"Kan udah dibilang tadi sama Bu Dahlia kalau non Flo tidur kamu istirahat aja nggak apa-apa. Budhe bentar lagi juga selesai ini. Temani non Flo tidur aja nggak apa-apa Ti." Ucap budhe Janah berpendapat


Karena memang tidak ada pilihan lain Siti memutuskan untuk ke kamar Flo, ia akan menemani bayi gembul itu tertidur pulas.


Pekerjaan Siti hanya mengurus Flo selama orangtuanya sedang bekerja, begitu terus sampai bulan ke tiga. Ya, waktu memang berjalan secepat itu. Tak terasa Siti sudah merantau ke kota selama tiga bulan. Hingga detik ini tidak ada keluhan selam Siti menjadi baby sitter, ia sangat senang dan nyaman dengan pekerjaan yang tidak berat untuk dirinya.


Hingga suatu malam Dahlia memergoki Siti yang tengah makan menu dietnya di dapur.


"Kamu lagi diet?" Tanya Dahlia


"Eh ibu. Iya Bu, saya lagi diet. Udah empat bulan, tapi masih turun 5kg. Target saya masih 25kg lagi Bu."


"Emang maunya berat badan kamu jadi berapa?'


"50kg bu. Tinggi saya kan nggak seberapa jadi ya saya rasa 50kg cukup untuk saya." Ucapnya


"Mau saya bantu?" Tawar Dahlia


"Bantu apa bu?"


"Ikut saya olahraga lari setiap pagi dan juga gym. Kalau untuk gym saya akan bawa kamu seminggu sekali setiap hari minggu. Jadi nggak ngerecokin jam kerja kamu dan saya. Gimana mau nggak?" Tawarnya sekali lagi

__ADS_1


Siti tak memikirkan hal itu lagi. Ia langsung saja mengangguk dengan cepat, "Mau Bu mau, Ibu nggak malu bawa saya keluar rumah?" Tanyanya berubah pikiran yang tadinya semangat menjadi insecure mengingat tubuhnya yang masih terlihat gembul seperti anak asuhnya, Flo.


Dahlia tertawa pelan, "Nggaklah ngapain juga saya harus malu. Coba aja kamu bilang dari dulu udah saya bantu dari dulu juga Ti." Ucapannya


"Terimakasih ya Bu, terimakasih ibu sudah banyak bantu saya." Ucap Siti tak enak hati


"Saya belum bantu apa-apa. Kalau berat badan kamu udah mencapai target baru kamu bisa bilang terimakasih." Ucap Dahlia tersenyum. "Ya udah lanjutkan makan menu dietnya, saya mau ke kamar dulu." Ucap Dahlia pamit meninggalkan dapur.


Siti semakin semangat untuk merubah dirinya, harapan untuk merubah takdirnya semakin besar.


**


Sementara ditempat lain nampak pak Rusdi dan Bu Lastri tengah berbincang di kamarnya.


"Bapak udah ngasih tabu Mirna kalau dua Minggu lagi Tini lamaran?" Tanya Bu Lastri membaringkan tubuhnya disebelah pak Rusdi


"Dicoba aja pak, kita nggak akan tahu kalau nggak nyoba. Lagipula Siti sering cerita kalau majikannya baik, ibu yakin di kasih ijin."


Mereka tak melanjutkan obrolan, aktivitas yang lelah membuat mereka tertidur dengan cepat.


Keesokan harinya


"Siti bapak telepon nggak diangkat Bu, mungkin udah ngurusin anak asuhnya. Bapak sudah kirim pesan ngasih tahu tanggal lamaran Tini." Ucap pak Rusdi duduk di meja makan


Tini seketika tersedak mendengar ucapan pak rusdi

__ADS_1


"Bapak kenapa ngasih tahu mbak Siti tanggal lamaran aku? Nggak usah lah pak. Ngapain juga di kasih tahu." Protesnya


"Memang kenapa kalau bapak kasih tahu? Malu kamu? Ya sudah batalkan saja lamaran kamu itu." Jawab pak Rusdi enteng. Pria itu nampak sudah geram dengan Tini yang sudah dirasa keterlaluan. Bukannya ia membela Siti mati-matian dan berbuat tak adil, tapi memang Tini harus diberi gertakan, diberi pelajaran agar ia tak semena-mena pada kakaknya.


"Bapak kenapa sih, nggak adil banget sama aku. Bapak lebih sayang sama anak pembawa sial itu, aku benci sama bapak." Ucap Tini menangis lalu masuk kamar


Pak Rusdi menghela nafas berat.


"Bapak jangan gitu juga ngomongnya sama Tini pak. Dia merasa tidak diperlakukan dengan adik kalau begitu caranya." Ucap Bu Lastri membela anaknya


"Ya sekarang ibu kasih tahu bapak, bagaimana cara memberi pengertian sama Tini biar nggak terus menghina kakaknya. Ayo sekarang kasih tahu sama bapak. Nggak bisa jawab kan, kita sudah pakai cara halus untuk membuat Tini berubah, tapi lihat ada hasilnya? Nggak ada kan, kalau memang dengan cara kasar bapak bisa merubahnya, bapak akan lakukan. Selama ini kurang sayang apa kita sama Tini. Dia nggak pernah hidup kesusahan seperti Siti, dia nggak pernah bantuin ibu meskipun hanya menyapu rumah, pernah kita tegur dia? Nggak kan. Selalu Siti yang bantu perekonomian keluarga kita, Tini? Yang dia tahu hanya kerja dan cara menghabiskannya. Kita pernah marah? Pernah protes? Nggak kan? Hidup Siti udah penuh hinaan diluar sana bu, dan begitu sampai rumah dia juga dapat hinaan dari adiknya. Apa ibu juga berpikir kalau bapak tidak adil?" Ucap pak Rusdi panjang lebar


Bu Lastri diam, ia tak mau memulai hari dengan pertengkaran. Ia paham betul bahwa suaminya itu berwatak keras, namun selalu berusaha sabar menghadapi sikap Tini.


Tak terasa hari minggu telah tiba, Siti bersiap akan ke tempat gym langganan majikannya. Ia sempat tak percaya diri, ia takut nanti akan menjadi pusat perhatian dan membuat malu majikannya. Namun Dahlia kembali meyakinkan dirinya bahwa ia harus menghilangkan rasa itu demi merubahnya dirinya sendiri. Tak perlu menghiraukan pandangan dan ucapan orang nantinya.


"Ayo ti, kita berangkat." Ajak Dahlia


Siti berjalan mengekor Dahlia. ini adalah pertama kalinya ia keluar dari gerbang majikannya. Selama ini ia tak pernah keluar rumah meskipun hanya untuk membeli keperluan pribadinya. Ia masih belum percaya diri jika harus keluar sendiri, budhe Janah yang memang pengertian bersedia dititipi barang pribadi keponakannya.


Dahlia dan Siti sampai di tempat gym yang nampak ramai di hari minggu ini. Ia memperkenalkan Siti pada teman-temannya dan juga pelatih gym langganannya. Ada beberapa orang yang memandang Siti dengan tatapan mengintimidasi, namun tak sedikit dari mereka juga menyambut baik kedatangan Siti


"Yang semangat Ti, kamu pasti bisa. Ya udah kamu ikuti mbak Sarah, dia yang akan latih kamu selama disini. Nggak usah grogi santai aja." Saran Dahlia


Siti mengangguk mantap lalu mengikuti langkah personal trainer yang bernama Sarah itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2