
Pukul 6 pagi Reyhan baru saja membuka matanya. Semalam ia tidur begitu nyenyak, rasa bahagia yang ia rasakan semalam masih tersisa pagi ini. Rasanya ia sudah tak sabar menunggu tiga bulan lagi. Tiba-tiba ia menyesal mengapa harus menunggu tiga bulan yang nyatanya baru ia sadari jarak lamaran dan menikah terlalu lama.
Reyhan memeluk guling seraya membayang hari-harinya yang akan ditemani oleh Siti. Sudah tak sanggup hanya membayangkan Reyhan bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi.
Sementara itu, Siti tengah di dapur membantu ibunya memasak. Bu Lastri melihat Siti yang sudah lihai di dapur mengulum senyum. Setidaknya ia bisa memberikan kebahagiaan kecil untuk Reyhan setiap hari melalui perutnya, pikir Bu Lastri.
"Ti, mulai sekarang udah nggak perlu terlalu sering kirim uang. Kamu harus fokus sama urusan kamu sendiri. Selama ini kita hidup sudah berkecukupan, jangan pikirkan kami lagi nak." Ucap Bu Lastri
"Iya Bu, gampang kalau itu." Ucap Siti enteng
"Sebentar lagi anak ibu sudah jadi istri, jadilah istri yang baik nak, berbakti sama suami dan jangan lakukan apapun kalau dia tidak meridhoi. Hasilnya nggak akan baik." Ucap Bu Lastri memberikan sedikit saran.
Siti menjadi teringat pertengkarannya bulan lalu dengan Reyhan. Ia bertengkar dengan pria itu karena mempertahankan keinginannya, sedangkan keinginannya tak mendapat restu dari Reyhan. Apa ia harus menuruti keinginan Reyhan untuk berhenti bekerja, pikir Siti jadi bimbang setelah mendengar kata kata ibunya.
*
"Rey, kita mau jalan-jalan. Kamu mau ikut kita apa jalan sendiri?" Tanya Bu Lia
"Aku jalan sendiri aja sama Siti. Kalau bareng-bareng kalian ntar nggak bisa romantis." Jawab Reyhan jujur
"Nggak bisa romantis gimana? Gandengan tangan doang juga disebut romantis Rey. Nggak bisa romantisan lebih dari gandengan tangan maksudnya? Jangan aneh-aneh ya kamu." Ucap Bu Lia curiga anaknya akan melakukan hal yang aneh-aneh
"Apa sih ma. Nggak ada aku pikir begitu."
"Pikiran apa emang?"
"Yaa....ya pikiran aneh-aneh kayak yang mama bilang tadi." Ucap Reyhan gagap. "Udah ah aku mau jemput Siti aja. Mama kapan balik Jakarta?" Tanya Reyhan mengalihkan topik
__ADS_1
"Besok pagi. Kamu juga jangan lama-lama disini. Perusahaan juga perlu kamu urus, Siti juga kan masih ada tanggung jawab." Ucap bu Lia mengingatkan
"Iya iya." Jawab Reyhan malas lalu berjalan pergi.
Hari ini ia ada janji dengan Siti untuk jalan-jalan. Mengabiskan waktu bersama sebelum mereka kembali bekerja dan tenggelam dalam kesibukan masing-masing.
Kini mereka duduk di sebuah taman yang ramai dengan orang. Banyak keluarga yang menghabiskan waktu liburnya di tempat wisata yang murah ini.
Reyhan mengamati seorang pasangan muda suami istri yang tengah menggendong anak mereka yang masih bayi.
"Aku nggak sabar kayak mereka. Pengen punya bayi yang banyak. Pasti nanti anak kita lucu-lucu ya yang. Nunggu tiga bulan aku nggak sanggup rasanya." Ucap Reyhan merebahkan kepalanya di kaki Siti
"Malu mas, banyak orang ini." Ucap Siti mengamati sekeliling yang ramai orang
"Biarin sih, banyak yang kayak kita begini. Udah mau sah juga." Gerutu Reyhan cemberut
"Mas, aku ada rencana untuk membuat toko kue buat hadiah ibu. Biar ibu nggak keliling lagi. Nanti kan kalau punya toko ada Tini yang bisa bantu jagain. Biar dia ada kegiatan juga. Kayaknya sih tabungan aku cukup buat beli atau nyewa toko atau kios kecil-kecilan. Kita cari tempatnya yuk, nggak usah jauh-jauh dari rumah." Ucap Siti menyampaikan keinginannya
"Ya udah ayo jalan."
*
"Mas, kamu benar-benar kasih restu ke aku kalau aku kerja kan?" Tanya Siti tiba-tiba. Ia teringat ucapan Bu Lastri jika kita melakukan sesuatu tanpa restu suami maka hasilnya tidak akan baik, dan Siti tak mau itu terjadi.
"Iya sayang. Kenapa? Kalau mau berubah pikiran pun aku malah senang. Kamu mau kerjapun silahkan. Aku udah nggak keberatan, asal kamu tepati janji kamu." Ucap Reyhan mengecup singkat punggung tangan Siti.
"Makasih kamu selalu dukung keputusan yang aku ambil. Aku jadi yakin kalau kamu cinta sama aku." Ucap Siti tersenyum
__ADS_1
"Oh jadi kalau nggak aku turuti apa mau kamu aku nggak cinta begitu. Pikiran dari mana coba." Ucap Reyhan pura-pura kesal.
Siri hanya tertawa menanggapi ucapan Reyhan. Lalu sedetik kemudian mengecup singkat pipi kiri Reyhan.
"Yakin masih marah?" Ucap Siti menggoda
Kenyataannya Reyhan tak sanggup jika harus lama-lama merajuk pada kekasihnya. Ia mengatupkan mulutnya menahan tawa sekaligus bahagia. Pasalnya untuk mendapatkan kecupan dari Siti adalah hal yang langka. Wanita itu sangat jarang mengekspresikan perasaannya secara gamblang, berbeda dengan dirinya yang sedikit-sedikit cap cup di bagian tubuh Siti, entah itu tangan, pipi, kening, atau....bibir.
Setelah satu jam mencari akhirnya mereka mendapatkan tempat untuk berjualan kue Bu Lastri. Mereka mendapat sebuah ruko pinggir jalan yang sewa perbulannya tak terlalu tinggi.
"Kamu udah bilang ibu kalau kita cari tempat buat jualannya?" Tanya Reyhan yang kembali masuk mobil setelah selesai bernegosiasi dengan sang pemilik ruko
"Belum. Baru kepikiran tadi pas di taman. Ntar aku bilang ibu. Makan yuk, laper nih." Ajak Siti
"Makan ini dulu ya." Ucap Reyhan menunjuk bibirnya.
Melihat reaksi Siti yang akan merajuk dengan cepat Reyhan membatalkan keinginannya, "Nggak jadi deh. Ntar aja kalau udah nikah. Aku mau cetak gol yang banyak." Ucap Reyhan di dekat wajah Siti untuk menggoda.
Sontak wajah Siti memerah. Ia menggelitik perut Reyhan yang berani menggodanya. Reyhan tertawa terbahak-bahak lantaran merasakan geli. Siti masih meneruskan aksinya meskipun Reyhan sudah mengatakan ampun berkali kali.
Tubuh Siti yang condong ke arah Reyhan tiba-tiba saja merasa limbung dan
Brukk.
Siti terjatuh dan tak disangka bibir mereka kembali bertemu untuk yang entah sudah ke berapa. Dan akhirnya mereka mengulang insiden di dalam mobil untuk kedua kalinya. Mereka berharap tidak ada lagi suara klakson yang melepas pergulatan mereka dengan kasar.
Bersambung
__ADS_1