
Setelah Siti meminta pendapat budhe janah keesokan harinya ia memberanikan diri untuk membicarakan perihal keinginannya pada Bu Dahlia.
"Bu, saya ingin bicara sebentar. Ibu nggak buru-buru kan?" Tanya Siti setelah majikannya sarapan
"Ngomong aja Ti, ada apa?"
Siti memilin ujung pakaiannya saking gugupnya.
"Sebelumnya saya minta maaf bu, saya ingin resign kalau ibu ijinkan. Ada yang menawari saya pekerjaan lain. Kalau boleh jujur saya ingin lebih maju dari sekarang, saya ingin punya usaha sendiri sebelum saya menikah. Bukan berarti jadi baby sitter saya tidak bisa sukses Bu, bukan itu maksud saya. Pekerjaan saya ini kan ada masanya akan habis, ada masanya Flo udah nggak membutuhkan saya lagi kan. Itu sebabnya saya ingin mengambil kesempatan ini. Tapi kalau ibu nggak kasih ijin nggak apa-apa kok Bu. Saya akan di sini sampai Flo tidak membutuhkan saya lagi." Ucap Siti panjang lebar dengan gugupnya
Dahlia tersenyum, "Coba kasih saya alasan kenapa saya harus melarang kamu untuk lebih maju dari sekarang." Tanyanya
"Ya saya sadar Bu, kalau yang buat saya sampai ke titik ini ada banyak bantuan dari ibu. Saya takut ibu menganggap saya nggak tahu diri jika memutuskan untuk keluar dari sini setelah banyak perubahan di diri saya."
"Ti, semua orang itu berhak untuk sukses, saya nggak ada hak untuk melarang kamu meraihnya. Dan ya, untuk bantuan saya selama ini, saya nggak ada maksud apa-apa, nggak ada maksud kalau saya melakukan itu agar kamu merasa punya hutang budi sama saya. Nggak gitu Ti. Saya bantuin kamu ikhlas dari hati saya, atas dasar kemanusiaan. Nggak apa-apa kalau kamu mau ambil tawaran itu, nggak masalah buat saya. Tapi sebelum kamu benar-benar resign kamu harus bisa cari penggantimu dulu ya. Gimana?" Ucap Dahlia bijak
Terlihat dari wajahnya bahwa Siti sangat bahagia, "Ibu nggak lagi bercanda kan?" Tanya Siti untuk memastikan ia tak salah dengar
"Kelihatan saya bercanda ya. Ya serius lah Ti, masak iya kamu saya halang-halangi buat sukses. Nggak lah, boleh kok boleh. Asal cari pengganti dulu ya. Saya mau kerja." Ucap Dahlia bangkit dari meja makan
Siti tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya, "Terimakasih banyak Bu, ibu adalah manusia berhati malaikat. Mudah-mudahan ibu dan keluarga selalu dilimpahkan kebahagiaan dan kenikmatan. Aaminn." Ucap Siti yang di aaamiinkan oleh Dahlia juga
"Terimakasih doanya ya, mudah-mudahan apa yang kamu ucapkan kembali padamu juga." Ucap Dahlia lalu pergi
Siti memutuskan untuk mencari penggantinya dengan bantuan Reyhan, ia tak mengenal siapapun disini selain kekasihnya itu. Dengan senang hati Reyhan menyanggupi permintaan Siti asal Siti harus sabar, karena mencari baby sitter tidaklah mudah, membutuhkan orang-orang yang mempunyai kesabaran ekstra dan ketelatenan yang ekstra pula.
"Kamu nggak cepet-cepet kan?" Tanya Reyhan mengenai pengganti baby sitter
"Nggak mas. Santai kok, aku udah hubungi mbak Yurike dan bersedia buat sisain satu lowongan buat aku." Ucap Siti
"Alhamdulillah kalau begitu, jangan lupa hari Minggu kita ke rumah ya."
"Iya sayang udah berapa kali kamu ingetin aku hal ini."
__ADS_1
Reyhan tertawa pelan, "Kamu kan pelupa orang-orangnya. Sebentar ya mama manggil. Aku tutup ya. Muuuaaaccchh." Ucap Reyhan memberi ciuman online yang di jawab senyum oleh Siti.
Siti bersyukur atas apa yang ia dapat sekarang, ia tak pernah menyangka bahwa kegigihannya untuk merantau membuahkan hasil yang sangat tak terduga, tak sia-sia usahanya membujuk sang bapak untuk mengijinkannya pergi ke kota, pikir wanita itu lalu memutuskan untuk tidur.
Tak terasa hari Minggu telah tiba, Reyhan sudah menunggu di depan kompleks untuk diajaknya sang kekasih ke rumah orangtuanya.
Tak lama kemudian datanglah Siti dengan pakaiannya yang selalu sederhana namun sangat manis di mata Reyhan. Siti hanya membalut tubuhnya dengan dress selutut berwarna biru dengan motif bunga dengan lengan sebatas atas siku dan terdapat lubang di bagian tengah lengannya. Dengan rambut ia biarkan terurai panjang serta tas berukuran sedang tersampir di pundaknya ia berjalan dengan tenang dan nampak anggun di mata Reyhan.
"Maaf ya lama." Ucap Siti masuk mobil Reyhan
"Mau selama apapun kalau yang ditunggu adalah kamu bukan hal berat buat aku." Ucap Reyhan tersenyum
"Udah jangan kumat gombalnya, aku lagi nggak punya stok buat balas."
"Balas pakai ini aja." Ucap Reyhan menunjuk bibirnya sendiri
"Jangan mesum mas. Ini ditempat umum." Jawab Siti yang gugup. Ia tak pernah berciuman dengan siapapun bahkan dengan Reyhan, ia menjadi gugup jika Reyhan membicarakan soal ini dengannya.
Siri bernafas dengan lega, Reyhan tak serius dengan ucapannya yang meminta ciuman di pagi hari ini.
Merasa sepi, Reyhan memutar radio uang berada dalam mobilnya agar sedikit bisa mengusir keheningan. Begitu radio terputar terdengar lagu berjudul bukti dari Virgoun yang manambah kesan romantis di pagi hari yang mendung ini.
Beruntungnya aku dimiliki kamu.
Kamu adalah bukti,
Dari cantiknya paras dan hati,
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi,
Tentang terang dan gelapnya hidup ini.
"Lagunya pas ya buat romantisan berdua, mendung lagi." Ucap Reyhan meraih tangan Siti dan mengecup punggung tangannya.
__ADS_1
Siti tak menjawab ia sibuk mengatupkan mulutnya agar tak tersenyum dengan lebar. Sentuhan kecil Reyhan berhasil membuat Siti jadi salah tingkah. Nyatanya perkenalan mereka selama dua tahun tak dapat membuat Siti bertingkah biasa saja saat mendapat perlakuan istimewa Reyhan.
Mereka berhenti cukup lama karena lampu merah yang menyala tak kunjung hijau. Hal itu membuat Reyhan bosan, merasa ada kesempatan untuk bermesraan Reyhan tak mau melewatkannya.
"Sayang lihat deh itu samping kiri kamu jualan apa sih?" Ucap Reyhan menunjukkan arah yang ia maksud. Dengan gerakan cepat Reyhan melepas sabuk pengaman dan mendekatkan wajahnya di kepala Siti
"Mana sih mas? Nggak ada penjual, adanya be..." Siti berhenti berucap saat ia memutar kepalanya lantaran bibir mereka kini sudah tak berjarak.
Tak mau berlama-lama Reyhan langsung saja melahap bibir mungil Siti. Jantung Siti seketika sangat gaduh, terlalu syok ia sampai tak mampu menolak atau membalas adu mulut itu.
Namun gigitan dan sesapan kecil membuat Siti terlena dan akhirnya terbalas sudah adu jotos dengan bibir itu. Semakin lama semakin masuk, peraduan mulut mereka pun semakin panas dan membuat gerah keduanya. Siti belum pernah merasakan sensasi seperti terbakar ini. Untuk pertama kalinya ia adu mulut dengan seorang pria dan ternyata nikmat juga, pikir wanita itu seraya mendorong tengkuk Reyhan agar bisa masuk lebih dalam. Saking panasnya adu mulut yang mereka ciptakan mereka lupa dimana mereka sekarang, saat sedang merasa dipuncak kenikmatan adu mulut tiba-tiba terdengar
Tiiiin tiiiinnn
Seketika mereka melompat lantaran terkejut. Dengan tergesa-gesa Reyhan melajukan mobilnya kembali.
"Kaget ya." Tanya Reyhan
"Kamu sih, mancing-mancing." Protes Siti
"Suasananya pas banget, untung nggak malam. Kalau malam udah minum susu kali aku."
Plak
Satu pukulan di lengan Reyhan membuatnya mengaduh.
"Tapi enak kan?"
"Udah ah jangan dibahas. Nih bersihin bibir kamu, nggak lucu kan kalau nanti kita ketemu orang tua kamu ada bekas lipstik begitu." Ucap Siti menyodorkan selembar tisu
Sementara Siti mengaduk aduk tasnya untuk membenarkan warna bibirnya yang sudah pindah di bibir Reyhan.
Bersambung
__ADS_1