Bangkitnya Wanita Terhina

Bangkitnya Wanita Terhina
24, sakit


__ADS_3

Tak terasa dua Minggu lagi Siti dan Reyhan akan melangsungkan pernikahan. Selain sibuk dengan urusan pekerjaan, mereka juga disibukkan oleh persiapan pernikahan yang akan diadakan di kampung Siti.


Akhir-akhir ini Siti merasakan tak enak badan. Ia meriang namun ia tahan. Reyhan yang selalu mengajak Siti mengurus pernikahan setiap pulang kerja membuat Siti kurang istirahat. Siti tak mau menolak ajakan Reyhan tapi juga tak mau mengatakan bahwa dirinya tak enak badan. Ia ingin menghargai Reyhan sebagai calon suaminya.


Pertengkaran yang pertama beberapa waktu lalu nyatanya membuat Siti takut Reyhan marah dan tak mengijinkannya bekerja. Ia sudah berjanji akan memberi waktu pada Reyhan agar ia tak merasa kesepian, dan Siti ingin Reyhan merasa bahwa dirinya sudah menepati janji. Dengan begitu Siti akan bekerja dengan tenang dan tanpa beban.


Hari ini Siti berencana akan pulang kampung diantar oleh Reyhan. Namun sakit kepala yang ia derita akhir-akhir ini bukannya menghilangkan malah semakin parah. Ia terlihat sangat pucat. Saat berjalan menuju teras dengan membawa tasnya, tiba-tiba pandangannya kabur, kepala semakin pening dan sedetik kemudian semuanya gelap. Siti pingsan di ruang tamu dengan kepala membentur ujung meja yang membuat kepalanya sedikit sobek dan mengeluarkan darah.


Tak lama kemudian Reyhan datang, ia melihat pintu yang sudah terbuka lebar dengan Siti yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Wajah cemas Reyhan tergambar jelas di setiap garis wajahnya. Ia memangku kepala Siti dan mengetahui ada darah yang mengalir di keningnya. Reyhan semakin cemas.


Tak kunjung sadar, Reyhan memutuskan membawa Siti ke rumah sakit terdekat. Ia terus menggenggam tangan Siti saat dirinya diperiksa di ruang UGD. Terlihat jelas dari matanya, ia mengkhawatirkan keadaan Siti


"Pasien kelelahan pak. Seperti aktivitas akhir-akhir ini membuatnya drop dan tensi darahnya turun. Tensinya sangat rendah pak. Pasien harus di rawat beberapa hari agar kita bisa memantau perkembangan kondisi pasien."


"Lakukan yang terbaik dok."


"Baik pak kami permisi dulu. Setelah ini pasien akan di pindahkan ke ruang rawat."


Siti kembali di giring ke ruang rawat. Tangan Reyhan sejak tadi tak lepas dari genggaman tangan Siti.


"Kamu pasti capek bagi waktu buat kerja sama ngurus pernikahan kita. Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu capek." Ucap Reyhan menciumi punggung tangan Siti yang belum ada tanda-tanda akan sadar.


Reyhan merasa dirinyalah penyebab Siti kelelahan dan akhirnya drop sekarang ini.


"Bangun sayang, maaf aku nggak peka sama keadaan kamu." Ucap Reyhan menyesal.


Setelah beberapa saat tak sadarkan diri, jemari tangan Siti yang berada di genggaman Reyhan bergerak.


"Aku dimana mas?" Tanya Siti begitu membuka mata dan melihat Reyhan di sampingnya


"Kamu lagi di rumah sakit. Kamu pingsan, kepala kamu luka kena ujung meja. Untung lukanya nggak parah. Kamu akhir-akhir ini kelelahan kan? Kenapa nggak bilang? Aku nggak akan maksa kamu buat ikut aku kalau kamu lagi capek." Ucap Reyhan mengelus puncak kepala Siti


"Nggak apa-apa kok mas, ini kan pernikahan kita berdua, ya ngurusnya sama-sama. Aku juga nggak mau kalau kamu capek sendirian." Jawab Siti memiringkan tubuhnya menghadap calon suami

__ADS_1


"Jangan begini lagi. Aku merasa aku bego banget udah nggak peka sama keadaan kamu. Katakan apapun yang mau kamu katakan, bilang kalau ada apa-apa. Kita harus saling terbuka mulai sekarang kan. Ya udah, kamu istirahat. Biar cepat sembuh dan bisa pulang. Nggak mau makan rumah sakit lama-lama kan?"


"Aku nggak dirawat kan?" Tanya Siti


"Kamu harus disini beberapa hari aja, sampai tensi kamu normal lagi. Kamu darah rendah. Nggak apa-apa sayang. Beberapa hari aja."


"Nggak mau mas. Aku istirahat di rumah aja."


"Jangan ngeyel. Kamu lagi sakit. Udah istirahat, jangan mikir apa-apa." Pinta Reyhan membenarkan letak selimut Siti


*


Setelah satu hari di rawat Siti diijinkan pulang. Reyhan membawa Siti ke kontrakan terlebih dahulu, ia akan mengantar Siti pulang kampung jika ia sudah benar-benar sembuh.


"Maaf mas aku jadi ngerepotin kamu." Ucap Siti tak enak hati


"Nggak. Kamu sama sekali nggak buat aku repot. Kenapa sih kamu masih nganggep aku kayak orang lain. Aku calon suami kamu sayang. Kamu tanggungjawab aku. Aku dan kamu sebentar lagi akan menjadi kita, udah nggak ada kamu nggak ada aku, adanya kita. Jangan sungkan kalau ada apa-apa."


Siti hanya mengangguk dan tersenyum. "Besok antar aku pulang ya." Pinta Sii


"Aku nggak punya penyakit parah mas. Aku hanya darah rendah. Dokter juga bawain obat kan. Aku udah sehat kok."


"Ya udah kalau gitu, besok kita pulang kampung. Sekarang kamu istirahat. Aku temani." Ucap Reyhan menuntun Siti ke kamarnya.


Reyhan membantu Siti merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia merasa Reyhan berlebihan mengkhawatirkan dirinya. Namun ia tak mengungkapkan perasaan itu. Ia tak mau Reyhan tersinggung.


Reyhan menggeret kursi dekat meja rias dan duduk di sebelah ranjang Siti. Ia akan menemani Siti hingga tertidur lalu ia akan pulang.


"Merem sayang. Malah lihatin aku." Ucap Reyhan pada Siti yang bukannya tidur malah memandang pria itu lekat-lekat.


"Dari kemarin aku tiduran terus." Jawab Siti


"Ya namanya juga lagi sakit. Udah malem, buruan tidur katanya besok mau pulang."

__ADS_1


"Jangan diapa-apain akunya ya."


"Nggak, bentar lagi kita nikah buat apa aku melakukan itu sekarang." Jawab Reyhan enteng.


"Masak?" Ledek Siti


"Kamu jangan mancing ya. Iman aku sampai saat ini kuat. Jangan sampai karena ucapan kamu aku jadi khilaf."


"Kuat gimana? Bibir kita nggak sengaja bertemu aja kamu udah lahap." Sergah Siti tertawa


"Ya itu beda lagi lah. Namanya itu rezeki. Masak rezeki aku tolak. Dosa dong." Kilah reyhan


"Rezeki yang tak disengaja." Jawab Siti tertawa lagi


Reyhan jadi ikut tertawa melihat Siti yang tertawa.


"Kamu lagi sakit aja masih bikin aku bahagia." Ucap Reyhan tiba-tiba. "Kamu tahu nggak, sejak kenal kamu tuh aku jadi pengen belajar terus."


"Belajar apa?"


"Belajar jadi yang terbaik buat wanita yang sedang di depan aku sekarang."


Siti tertawa lagi. "Kamu masih bisa aja ngegombal ya. Jangan-jangan nggak buat aku aja, buat banyak cewek." Ucapnya pura-pura curiga


"Iyalah sebelum kenal kamu pacar aku banyak, setelah kenal kamu aku udah nggak bisa melihat perempuan lain selain kamu."


"Udah ah. Aku mau tidur." Ucap Siti tak mampu menahan malu.


"Cie malu cie." Goda Reyhan. "Kamu mancing sih." Ucap Reyhan mencubit pipi Siti dengan gemas.


"Boleh tidur nggak nih."


"Boleh sayang." Jawab Reyhan meletakkan tangan Siti di pipinya dan mengelus puncak kepala Siti.

__ADS_1


Tak membutuhkan waktu lama Siti sudah tertidur dengan pulas. Nyatanya sentuhan dari Reyhan membuatnya nyaman dan dengan mudahnya menjemput alam mimpi. Reyhan mengecup kening Siti singkat sebelum ia pulang.


Bersambung


__ADS_2