
6.
Seperti biasa, Siti akan memulai paginya dengan berdagang kue. Ia tak pernah patah semangat untuk menjajakan kue buatan ibunya.
"Mbak kue dong." Panggil pria yang nampaknya ingin menyeberang jalan.
Siti berhenti tepat di depan pria itu. Ia membuka penutup kotak kuenya dan mulai menawarkan dagangannya.
"Mau yang mana mas? Silahkan dipilih semua harganya dua ribuan aja." Ucap Siti memperkenalkan dagangannya
Pria yang bernama Haris itu memilih kue yang ia inginkan. setelah itu ia menyodorkan uang sesuai dengan jumlah kue yang ia beli.
Nampak dari jauh sepasang mata tengah mengamati mereka. Sepasang mata milik Tini memandang mereka tak suka. Setelah Haris tak terlihat Tini segera menghidupkan motornya dan menyusul Siti yang sudah mengayuh sepedanya.
Tak membutuhkan waktu lama, Tini berhasil menghadang sepeda Siti. Beruntung Siti tak tersungkur lantaran menginjak secara mendadak.
"Ada apa Tin? kaget mbak." Ucap Siti mengelus dada
"Yang beli kue mbak tadi Haris, jangan bilang macem-macem ya mbak. Jangan pernah bilang kalau kamu mbak ku. Aku nggak mau Haris ninggalin aku kayak yang lain." Ucap Tini tanpa basa-basi dan seperti biasa, ia berbicara dengan Siti selalu dengan nada ketusnya.
"Oh jadi laki-laki tadi toh calon suami kamu. Nggak, Mbak nggak akan bilang kalau kamu adik mbak. Dia cuma beli kue mbak kok tadi, nggak ada obrolan apa-apa juga." Jawab Siti dengan suara lembutnya.
"Ya mangkanya ini aku kasih tahu. Kalau dia ketemu lagi ya kayak tadi aja, nggak usah sok-sokan ngajak ngobrol atau memulai pembicaraan. Ya udah sana terusin jualan. Jualan yang rajin kamu kan mau diet juga, menu diet itu nggak murah dan kamu butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa seksi. Jadi ya bekerja lebih keras lagi. Lembur kalau perlu." Ucap Tini ketus lalu meninggalkan Siti sendiri di pinggir jalan
Lagi-lagi Siti hanya bisa menghela nafas panjang, mau berubah atau tidak nampaknya tak membawa pengaruh apapun pada Tini. Tak mau memikirkan hal itu Siti kembali mengayuh sepedanya. Disaat bersamaan budhe Janah memanggilnya.
__ADS_1
"Ti." Teriak budhe Janah
Siti menoleh tanpa bersuara. "Eh budhe, ada disini juga?" Tanya Siti begitu budhe Janah sudah berada di dekatnya
"Iya, ada yang mau di beli. Budhe tadi dengar kamu lagi dihina begitu sama Tini, sering dia begitu?" Tanya budhe Janah
"Udah biasa budhe, dia dari dulu memang begitu. Ya karena fisik aku ini, dia jadi dijauhi sama teman dan juga pacarnya. mangkanya dia benci aku." Ucap Siti sedih
Budhe Janah yang memang tak tahu seluk beluk keponakannya ini merasa iba terjadi Siti, nyatanya tak hanya tetangganya saja yang berbuat keji seperti itu, bahkan adiknya sendiri sudah persis seperti orang lain. Ia merasa iba dengan nasib keponakannya satu itu. Terlintas di kepala budhe Janah untuk membawa Siti ke kota untuk ikut majikan barunya yang tengah baru saja memiliki bayi yang kebetulan ia pulang kampung juga ingin mencari baby sitter yang bisa ia ajak ke kota.
"Kamu mau ikut budhe ke kota nggak. Momong anak majikan budhe. Jadi nanti kita kerjanya satu rumah." Ajaknya
Siti nampak berpikir, dengan fisik yang masih begini apakah ada orang kota yang mau menerimanya kerja, pikirnya.
"Budhe nggak malu bawa Siti bekerja sama majikan budhe?" Tanya Siti merasa insecure
"Aku sih mau aja budhe, emang butuhnya sekarang ya? Sebenarnya aku masih program diet, aku nggak percaya diri kalau ke kota dengan fisik begini." Ucap Siti
"Udah dibilangin majikan budhe baik. Nggak pernah dia menghina orang. Kesehariannya udah sibuk, nggak ada waktu buat hal begituan. Kalau kamu disini terus kamu nggak akan berkembang, kamu akan begini terus sampai nanti. Kamu mau dihina terus sama adik kamu dan tetangga kamu? Kalau kamu ikut budhe kamu bisa membantu keuangan keluarga kamu juga, kamu bisa memenuhi kebutuhan kamu sendiri. Kamu dengar kan tadi yang dibilang Tini, biaya diet nggak murah." Ucap budhe Janah yang masih berusaha meyakinkan Siti
Siti nampak kembai berpikir, memang ada benarnya apa yang budhenya katakan. Ia bisa membantu keuangan keluarga jika merantau ke kota. Ia juga tak perlu bertemu dengan Tini setiap saat.
"Aku ijin ke bapak ibu dulu ya budhe. Nanti aku kabari kalau aku bisa berangkat ke sana."
"Iya, kamu ijin dulu. Kalau susah dapat ijin biar budhe aja yang minta ijin. Budhe aja yang bukan ibu kandung kamu nggak tega kamu dihina orang, masak bapak ibumu tega."
__ADS_1
"Iya budhe. Aku usahakan cepat. Aku keliling lagi ya budhe, keburu siang."
Budhe Janah hanya mengangguk dan mengikuti Siti dengan pandangan mata yang menatapnya hingga punggung Siti tak terlihat.
**
Siti pulang lebih awal lantaran kuenya juga sudah habis lebih awal dari biasanya. Pukul tiga sore ia sudah di rumah. Nampak pak Rusdi yang sudah dua hari ini terbaring sakit tengah duduk bersandar di kepala ranjang. Bu Lastri pun juga nampak di sana dengan telaten ia menyuapi bubur ayam sang suami.
Siti masuk perlahan ke kamar orangtunya. Lalu duduk di belakang sang ibu.
"Bu tadi aku ketemu budhe Janah. Dia ngajak aku kerja di kota. Momong anak majikannya, boleh ya Bu." Pinta Siti di akhir kalimat
pak Rusdi dan Bu Lastri sesaat saling tatap. "Kamu udah bosen tinggal sama bapak ibu sampai harus ke kota? Apa kamu bosan hidup kita pas-pasan terus." Tanya pak Rusdi yang terdengar seperti sebuah sindiran
"Bukan itu pak maksudnya. Aku juga mau bantu perekonomian keluarga kita biar ada kemajuan, aku juga mau sukses, aku juga.au mandiri pak."
"Nggak usah, disini aja temani kita. Lagian yang suka bantuin ibu tu kamu, adikmu mana pernah bantuin ibu. Nyapu aja nggak pernah. Cuci baju kalau nggak bapak tegasin mungkin ibu kamu yang suruh nyuci. Bapak udah sering sakit, sering nggak enak badan. Nanti ibumu kewalahan ngurusin semuanya sendiri." Jelas pak Rusdi
Siti diam, nampak memikirkan cara untuk bisa membujuk sang bapak.
"Justru bapak sering sakit kita butuh biaya tambahan untuk berobat kan. Kalau mengandalkan kue ibu kan ibu juga keberatan pak." Ucap Siti memberi alasan
"Ibu nggak keberatan nak. Nggak masalah buat ibu. Kamu nggak perlu jauh dari kita." Kali ini Bu Lastri yang angkat bicara.
Siti kembali diam. Rupanya akan memakan waktu yang sedikit lama untuk membuat kedua orangtuanya mengijinkan Siti ke kota. Tapi tak apa, ia akan terus memikirkan cara untuk mendapatkan ijin itu.
__ADS_1
bersambung